Anak Haram

2063 Words
Kayla duduk di beranda rumah memegang bonekanya. Sekelompok anak kecil memperhatikannya sedari tadi, lalu tersenyum pada Kayla. Beberapa waktu kemudian, mereka bisa bermain dengan akrabnya. Dunia anak-anak memang tampak mudah sekali untuk berteman. Terkadang pikiran polos mereka tidak memikirkan soal jahat dan nakal. Mereka hanya berpikiran bahwa teman itu seru. Mereka sedang memainkan boneka-boneka Kayla sembari berbincang-bincang. Astrid melihatnya dari pintu saat mendengar suara anak-anak di teras rumah. Dia tersenyum mendapati cucunya sudah memperoleh teman. Dia merasa agak lega karena wajah murung Kayla sudah agak pudar dengan adanya teman-teman yang datang. “Nenek, Kayla mau main ke rumah Nindya, ya?” pamitnya membawa bonekanya di tangan. “Nindya?” tanya Astrid dengan dahi berkerut. Begitu banyak anak-anak di komplek itu hingga dia tidak bisa menghapal nama-nama anak siapa saja di sana. “Iya, rumahnya di ujung itu,” tunjuk Kayla di ujung gang. “Oh, Nindya anaknya Bu Dini?” tebak Astrid ketika melihat rumah di ujung gang yang bercat warna kuning gading temboknya. “Iya,” sahut teman baru Kayla, mengangguk mantap ketika nama ibunya disebut. “Boleh, tapi jangan lama-lama ya? Kalo udah jam 4 sore pulang, trus mandi.” Astrid mengelus kepala Kayla dengan lembut. Lalu membiarkan gadis kecil itu beranjak dengan wajah berseri, seolah melupakan kemurungannya. Astrid agak tenang ketika raut ceria itu mengiringi langkah kakinya keluar dari halaman rumah, bersama dengan teman-temannya. Saat anak-anak itu sudah tampak masuk ke rumah yang dimaksud, Astrid sendiri masuk ke dalam. “Mungkin memang Kayla butuh teman untuk menyalurkan kegiatan. Dia akan bosan di rumah terus dan mungkin pikirannya hanya tertuju pada ucapan teman-teman sekolahnya aja. Semoga dia terus terhibur,” harap Astrid. “Iya, kasihan kalo cucuku itu sakit hati sama omongan tentang keadaannya,” imbuh Rahman saat mendengar ucapan Astrid. “Sanksi sosial itu terkadang lebih kejam.” Astrid menghela napas, melihat Rahman, suaminya yang lebih banyak diam, tapi sebenarnya ikut memikirkan tentang Tisha dan Kayla. “Gimana ya, Pa? Tisha itu kalo kita suruh nikah? Kasihan Kayla, lagian dia juga nggak pernah mau bilang papanya Kayla itu siapa. Maaf ya, Pa? Aku gagal mendidik anak kita,” sesal Astrid, mengingat enam tahun yang lalu dan sampai sekarang dia merasa itu juga adalah kesalahannya. Rahman mendesah berat. Dia sendiri tidak pernah mengira bahwa Tisha akan melakukan sesuatu di luar batas. Tisha dikenal sebagai anak yang berkepribadian sederhana, tampak polos dan pandai. Namun, ternyata di balik kepolosannya, Tisha bisa melakukan hal yang begitu memalukan bagi keluarga. Rahman tidak habis pikir tentang masa itu. Ingatan Rahman melayang ke sana. Rasanya amarah sudah di ubun-ubun saat melihat dua garis merah yang ditemukan oleh Astrid di kamar Tisha saat anak pertamanya mual-mual di kamar mandi. Pria paruh baya itu menepis segala kenangan buruknya, agar kesehatannya tidak lagi menurun. “Udah, Ma. Itu udah berlalu. Aku juga gagal sebagai seorang ayah bagi Tisha, tidak bisa melindunginya, jadi dia salah langkah seperti itu.” Dua orang paruh baya itu duduk di ruang tamu dengan pandangan menerawang. Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepala mereka. Tentang rasa iba pada Kayla, tentang masa lalu yang mereka sesalkan, semua bercampur menjadikan mereka berdua diam dalam otak masing-masing. *** Kayla menikmati kebersamaan dengan teman-temannya. Semakin banyak teman yang datang ke rumah Nindya. Ibu Nindya, Bu Dini juga ramah pada anak-anak hingga Kayla merasa betah. Namun, ketika melihat jam, Kayla teringat akan janji pada neneknya. Meski berat rasanya ingin masih berada di situ, tapi gadis kecil itu ingat tanggung jawab dan janjinya. “Udah jam 4 sore, Nindya. Aku mau pulang,” pamitnya, mengambil tiga boneka yang dia bawa. Tangan kecilnya memasukkan tiga boneka itu ke dalam tas kecil yang sering dia bawa main. “Yah, ya udah, besok kita main lagi ya, Kay?” ajak Nindya. “Iya, Kay, besok main lagi. Seneng tadi main sama kamu.” Teman-teman yang lain berceletuk. Bu Dini yang sedari tadi memperhatikan, tersenyum dengan anak-anak manis itu. Tidak ada kebencian antara mereka. Kalaupun ada perdebatan, mereka akan secara singkat memaafkan. Indahnya dunia anak-anak. “Sebentar anak-anak. Ini Tante bikinin pudding, biar Tante bungkusin dulu buat dibawa pulang, ya?” tawarnya, segera mengambil sebuah kotak mika untuk mengemas tiap puding untuk tiap anak yang sekarang tersenyum-senyum menunggu, tak terkecuali Kayla. Di saat anak-anak itu terdiam menunggu, seorang tetangga berhenti di depan pagar rumah Dini. Sepertinya dia telah memperhatikan kegiatan anak-anak itu. “Bu, yang pake baju pink ini, kok saya nggak pernah lihat. Anak siapa?” tanya wanita bertubuh gempal itu menatap Kayla yang memang asing di matanya. Dini sejenak menghentikan kegiatannya, lalu menyahut pertanyaan Yuli, tetangganya itu. “Ini ... cucunya Bu Astrid, Bu.” Kayla menoleh ke arah orang yang bertanya tentangnya dengan sesungging senyuman, tapi aneh, wanita itu tidak membalas senyumnya. Malah tampak sinis padanya. Tatapannya bagai aneh dalam pandangan Kayla. Anak kecil itu juga memiliki sisi sensitif dalam perasaannya. Jadi, Kayla memilih untuk menunduk saja. “Oh, anak si Tisha itu?” tanya Yuli lagi. “Iya, tepat sekali,” sahut Dini, meneruskan bungkusan puddingnya. “Anak yang katanya ditinggal bapaknya itu kan, Bu? Denger-denger, sebenernya dia anak haram lho, Bu?” tukas Yuli, melirik Kayla dari atas ke bawah. Dini terhenyak mendengar ucapan Yuli. Dia tidak mengindahkan kata-kata wanita tambun itu, tapi melirik ke arah Kayla yang sekarang menatap ke Yuli, dengan tidak mengerti. Yuli yang berlalu begitu saja setelah mengucapkan itu, tanpa perduli lagi. Dini menggelengkan kepala, lalu menatap wajah Kayla yang polos dengan iba. “Eh, Kayla. Puddingnya udah dibungkus. Nih, dibawa ya?” ucapnya agar pandangan anak itu teralihkan. *** Astrid melihat cucunya pulang dari ujung jalan saat dia menengok-nengok ke arah rumah Dini. Dia tersenyum lega. Ternyata Kayla bisa menepati janjinya untuk pulang tepat waktu. Dia menyambut kedatangan cucunya dengan pelukan hangat. “Kayla, mandi dulu yuk?” ajak Astrid, merentangkan handuk putih yang biasa dipakai oleh Kayla. “Iya, Nenek. Sebentar ya? Kayla mau nyimpenin boneka-boneka Kayla dulu.” Astrid kembali tersenyum dengan kesopanan Kayla. Setidaknya, dia mendapatkan cucu yang bersikap sangat baik, meski dia anak yang lahir tanpa seorang ayah. Astrid mengikuti Kayla. Dia senang sekali melihat Rahman mengangkat tubuh Kayla dan anak itu tertawa tergelak karenanya. Seorang cucu yang membawa keceriaan ke rumah yang begitu sepi selama beberapa tahun ini karena kedua anak perempuannya telah beranjak dewasa. Sesuatu yang dia rindukan. *** Sore itu, Astrid telah membuat cucunya berdandan rapi. Gadis kecil itu duduk manis di depan televisi dan menonton film kartun kesukaannya. “Tadi mainan sama Nindya? Seru?” tanya Astrid, menyisiri rambut Kayla sambil menyibakkan anak rambut yang menjuntai, menjepitnya dengan pita bergambar strawberry yang sangat manis. Wangi tubuh Kayla yang khas minyak kayu putih dan bedak bayi itu membuat Astrid betah dekat-dekat dengan cucunya. “Iya, Nindya baik, Tante Dini juga baik. Oh iya, jadi inget Nek, Tante Dini kasih Kayla pudding coklat!” serunya, turun dari sofa, lalu berjalan ke lemari es. Usai menyimpan bonekanya, Kayla meletakkan mika berisi pudding ke lemari es. Dia ingin menikmati pudding itu sambil menonton televisi. Dari dapur, Kayla melihat kakeknya sudah turut duduk di depan televisi, menunggu kedatangannya. Kayla kembali duduk di antara keduanya. “Ini, Nek enak!” tunjuk Kayla pada Astrid. “Wah iya, bikinan Bu Dini memang enak, kan dia memang suka bikin-bikin kue,” celetuk Astrid. Lalu, obrolan dengan Rahman meluncur tentang tetangganya yang baik dan kreatif meski masih muda itu. Kayla mencuri dengar obrolan keduanya, lalu teringat dengan kejadian tadi ketika dia menunggu pudding. “Nenek, Kakek, kalo anak haram itu apa?” tanya Kayla, membuat obrolan Astrid dan Rahman terhenti mendadak. Wajah pias seketika dari mereka berdua. Rahman dan Astrid saling berpandangan. “Kayla, Kayla dari mana denger istilah itu?” tanya Astrid dengan hati-hati, menyentuh bahu kecil cucunya. “Tadi pas Kayla nunggu pudding ini dibungkus, ada ibu-ibu yang badannya gemuk lewat, lalu bilang kalo Kayla itu anak haram. Anak haram itu apa, Nenek? Kenapa dia bilang itu pada Kayla? Apa wajah Kayla mirip babi?” tanya Kayla dengan polosnya. Hati Astrid mencelos mendengarnya. Ada rasa perih di dalamnya ketika cucunya menanyakan tentang binatang itu. Kedua matanya menghangat, tidak tega dengan wajah polos Kayla. Rahman sendiri menutup kedua matanya, tidak sanggup berkata-kata. Memang, sepandai-pandainya menutup bangkai, pasti akan tercium juga. Mungkin ada beberapa tetangga yang menduga-duga atau pernah mendengar entah dari siapa bahwa Tisha pindah dari kota itu karena hamil. “Itu kata yang buruk sekali, Kayla. Lain kali, kalo ada orang yang bertanya atau bilang seperti itu, nggak usah didengarkan, ya?” pinta Astrid. “Iya,” sahut Kayla lirih, meski jawaban neneknya tidak memuaskan keingintahuannya. *** Tisha telah sampai di rumah. Kedua kakinya sangat lelah karena berjalan cukup jauh sampai sebuah bus datang tadi. Dia menghempaskan bobotnya ke kursi teras. “Dari mana, Sha? Bibi cari dari tadi. Kamu nggak pamit,” keluh Ranti. “Jalan-jalan aja, Bi. Bibi udah makan?” tanya Tisha, mengingat wanita paruh baya itu seringkali lupa dengan urusan perutnya. Ringisan Ranti meyakinkan Tisha bahwa wanita itu memang belum makan. Tisha berdecak, lalu beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan. “Udah Tisha bilang berkali-kali. Bibi itu nggak boleh telat makan.” Omelan itu membuat Ranti menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sekarang, meski mereka adalah bibi dan keponakan, tapi rasanya saat ini terbalik. Keponakannya memarahi habis-habisan karena kebiasaan buruk Ranti, “Nanti kena asam lambung atau maag, baru Bibi nyesel.” Padahal, Tisha sendiri belum makan sedari siang. Dia hanya bisa bicara tanpa melakukan apa yang dia bilang. Satu piring buncis dengan taburan daging cincang saus tiram, satu piring tahu tepung hangat telah berada di atas meja. Ranti sangat suka dengan masakan Tisha. Dia belajar memasak enam tahun yang lalu darinya dan Tisha belajar dengan sangat cepat. Bahkan masakannya lebih lezat dari yang dia buat. Mereka menikmati masakan Tisha dengan lahap. Di tengah itu, tiba-tiba ponsel Tisha berdering. Tisha terpaksa harus menghentikan kegiatannya. “Kayla,” desisnya, lalu sekarang tidak lagi mengulangi kesalahan, Tisha mendekatkan layar ponsel ke Ranti yang juga sedang menikmati makan. “Halo, Mama, Nenek Ranti.” Ranti tersenyum lebar melihat gadis kecil yang sangat dia rindukan itu. Terbayang ketika menimangnya saat bayi, ikut merawat, membuatkan s**u sampai dia hapal dengan jam kapan saja bayi itu harus diberi minum. Ah, rasanya rindu berat, tanpa terasa anak itu sekarang sudah berumur lima tahun dan bisa berceloteh seperti saat ini. “Nenek, lagi ngapain?” tanya Kayla. “Maem nih. Kayla udah maem, belum?” tanya Ranti. “Belum, nanti.” “Kay, maem lho. Kalo nggak maem, nanti imun tubuh jadi nggak bagus, Kay,” serobot Tisha, tidak sabar ingin menasehati sang anak saat mendengar dia belum makan. “Iya, Mama. Bawel deh,” sungut Kayla. Sahutan Kayla membuat Tisha melotot. Dia tidak pernah mengajari anaknya dengan kata itu. “Kay, dari mana kamu dapet kosakata itu? Bawel? Ya Allah,” gerutu Tisha, menepuk dahinya. “Tadi main sama temen-temen, trus mainin boneka. Dzakia bilang gitu, tapi Cuma main-main, Ma.” Tisha menghela napas. Dia menyadari memang, sebaik apapun ajaran di rumah, pasti akan ada pengaruh buruk dari luar. Apalagi dengan teman-temannya. “Oh, udah mulai main sama temen-temen?” tanya Tisha. Anggukan tampak dari layar. Ranti pun ikut menyimak percakapan kedua anak dan ibu itu dengan asyik. Sesekali dia ikut berceletuk karena kangennya. “Pokoknya, Kayla harus bisa membedakan mana kata yang baik dan mana kata yang buruk kalo main sama temennya lho ya?” pesan Tisha. “Iya, tapi Ma—“ Terlihat sekali Kayla sesekali menoleh ke belakang. Sepertinya dia tidak ingin kata-katanya didengar oleh orang lain. Kayla tampak berpindah tempat ke kamarnya. Tisha penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh Kayla. Dia dan Ranti saling berpandangan dan tersenyum dengan kelakuan anak itu. “Sok rahasia-rahasiaan sekarang dia, Bi. Baru berapa hari aja udah kayak orang gedhe aja ya,” ucap Tisha. “Iya nih, Kayla. Ya ampun, jadi pengen ketemu.” Sibuk sekali di ujung sana, sampai pintu ditutup rapat dan dikunci oleh Kayla. Ranti dan Tisha hanya sesekali menahan senyum melihat kesibukan gadis kecil itu. Dalam pikiran mereka, bertanya-tanya apa yang ingin ditanyakan oleh Kayla. “Sibuk sekali,” bisik Tisha. Ranti tertawa dan mengangguk. Gadis kecilnya itu memang tampak sok misterius, tapi setelah Kayla merasa nyaman duduk di atas tempat tidurnya dan mulai bertanya. Ranti yang mendengar pertanyaan polos Kayla, jadi terdiam dan tak mampu berbicara. Apalagi Tisha. Wajahnya tampak sekali memerah, menahan amarah yang meletup di d**a usai Kayla meluncurkan pertanyaan yang begitu buruk di telinganya. “Ma, anak haram itu apa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD