“Maafin Om Bram. Om Bram Cuma pengen hibur Kayla aja.”
Gadis itu tidak lagi berceloteh. Pandangannya masih menerawang ke depan. Bram menjadi bersalah karena tawarannya yang tergesa. Dia sangat menyesal kenapa terburu-buru memberi peran pada dirinya sendiri untuk Kayla yang seharusnya membutuhkan waktu untuk didekati. Sementara, Bram sendiri belum yakin sebenarnya dengan Kayla. Meski delapan puluh persen dia yakin dengan pemikirannya.
Anggukan gadis kecil itu menyiratkan bahwa dia baik-baik saja, walau juga hanya senyum kecil yang tampak menghias wajahnya. Bram kembali fokus pada jalanan. Anak manis itu, tidak pernah mengganggu perjalanannya. Atau, rasa sayang Bram pada Kayla yang membuat segala tentang Kayla menjadi tampak manis?
Sesekali Bram menengok ke arah Kayla yang masih terdiam, tidak lagi berceloteh. Dia menghela napas perlahan. Masih tetap mengarah ke depan agar mengemudi dengan fokus ke jalanan yang mulai penuh dengan berbagai kendaraan menuju ke sekolah-sekolah dan tempat kerja.
Lima menit berlalu. Mobil tiba di depan gerbang sekolah, Kayla turun dibantu oleh Bram. Bram berinisiatif mengantar gadis kecil itu sampai di dalam karena tidak tega dengan wajah datar Kayla. Bram mendengar suara anak-anak.Teman-teman Kayla bermunculan menyambut kedatangan mereka. Tampaknya, memang Kayla adalah sosok yang manis terhadap teman-temannya meski baru satu hari dia mulai bersekolah. Anak-anak itu sempat tersenyum mengamati Bram.
“Kayla! Wah Kayla diantar papanya,” celetuk para anak kecil itu, menggandeng tangan Kayla, mengerubutinya dan berjalan bersama ke arah kelas Kayla.
Bram melihat sekilas wajah gadis kecil itu, tidak ada raut berubah sejak turun dari mobil. Ah, dia merasa sangat menyesal. Pasti Kayla sedih karena dia tidak bisa menganggapnya seorang ayah, karena Bram nyatanya akan menjadi Omnya saja. Pasti ada rasa kecewa menelusup dalam dirinya.
“Bukan, dia Omku,” sahut Kayla, terdengar di telinga Bram. Terdengar miris.
“Eh, tapi mirip.”
“Iya, masa omnya?” celetuk satu teman yang lain lagi, melirik ke arah Bram dan menatap Kayla sambil masih berjalan ke kelas.
Perkataan seorang anak kecil itu, mampu membuat Bram menoleh ke kaca jendela ruang di sebelahnya. Dia hanyalah gadis kecil, tapi pendapatnya mungkin saja benar dengan apa yang dia kumpulkan dalam penglihatannya, mata Kayla dan mimik Kayla di dalam mobil tadi. Bukan hanya Bram saja yang mengira mirip. Bram mengira dia Cuma masih terobsesi dengan Tisha hingga memirip-miripkan Kayla dengan dirinya. Namun, menurut orang lain, ada sesuatu yang mirip dari wajah mereka. Meski anak-anak, tapi pandangan mereka tentu ada benarnya.
Apa benar yang dikatakan anak itu? Wajahku mirip dengan wajah Kayla?
Seruan teman-teman Kayla menghilang di balik pintu kelas gadis itu. Bram menghentikan pandangannya ke kaca jendela, berbalik dan tersenyum pada guru yang berpapasan. Guru itu membalas senyumnya, tapi dengan tatapan yang menyiratkan pandangan heran. Bram tidak mengindahkan pandangan itu karena rasanya kalut dengan sikap Kayla. Dia lalu beranjak pergi untuk melanjutkan perjalanan ke luar kota.
***
Tisha meletakkan sebuah kantong belanjaan di atas meja dapur. Sayur dan buah untuk tiga hari telah dia beli. Sekiranya cukup untuk kebutuhannya dan sang bibi. Tisha puas sekali bisa membelanjakan bibinya. Setiap mendapat pekerjaan dan gaji dari upah freelance, dia selalu membelikan bibinya keperluan rumah. Ranti, yang belum pernah menikah dan hidup sendiri bersama dengan mesin jahitnya, sebenarnya tidak mau dibelanjakan oleh Tisha. Namun, bagi Tisha, dia senang sekali membelikan keperluan dapur untuk Ranti. Bahkan, mesin jahit yang telah rusak sudah Tisha ganti dengan mesin jahit yang baru. Dua bulan gajinya dia habiskan untuk mesin itu. Bibinya memarahi Tisha, tapi Tisha tidak perduli. Baginya sang bibi adalah pengganti mamanya. Apalagi, Ranti tidak pernah berbicara kasar padanya maupun Kayla.
Setiap berbelanja, Tisha membelikan buah-buah dan sayur yang berguna untuk kesehatan Ranti. Dia paling memperhatikan Ranti. Seperti kali ini, dia membeli lobak untuk dibuat jus. Sesaat, Tisha teringat akan Kayla. Tisha mengeluarkan ponsel dari sakunya, menghidupkan layar, lalu menggulirkan daftar nomor yang ada di layar. Namun, rasanya terlalu gengsi untuk bertanya pada Bram tentang Kayla. Padahal, dalam hati dia bertanya-tanya apa Kayla sudah selamat sampai tujuan atau tidak.
“Ah, masa pria itu mau menculik Kayla?”
Tisha menertawakan dirinya sendiri, kenapa pikirannya selalu cemas akibat kejadian enam tahun yang lalu. Terhadap Liam, Bram juga sama. Akhirnya, Tisha hanya meletakkan ponselnya di atas meja dan meyakinkan diri bahwa Kayla telah sampai di sekolah. Dia melihat Ranti duduk di kursi rotan dan mengipasi dirinya sambil membuka sedikit kerah baju karena gerah setelah berjalan di dalam pasar.
“Bibi haus, kan? Nih, Tisha buatin jus ya? Biar sehat? Jus lobak bagus untuk paru-paru Bibi.”
Ranti hanya mengulas senyum. Dia beranjak, lalu melanjutkan untuk menata belanjaan di lemari es, sesekali dia menatap kepokanannya itu menyiapkan sayur berwarna putih dan memotong-motongnya ke dalam blender. Terdengar bunyi alat pengaduk yang khas setiap pagi digunakan oleh Tisha untuk membuat jus. Ranti mengidap penyakit paru setelah bekerja lama di sebuah konveksi. Mungkin, serat-serat halus tidak baik untuk tubuhnya meski sudah memakai masker. Semakin lama, Ranti makin rentan dengan penyakitnya. Karena itu, Tisha gencar membuatkan bermacam obat herbal.
Segelas jus berwarna putih yang tidak berbau enak itu, telah siap di tangan Tisha. Dia menyodorkan gelas seukuran 330ml itu kepada Ranti.
“Ini, Bi. Diminum.”
Ranti mengambil gelas itu dan meletakkannya di atas meja makan. Dia duduk dan menatap kursi kosong di samping Tisha duduk. Biasanya, Kayla duduk di sana berceloteh riang.
“Kangen sama Kayla,” ucap Ranti, sambil menyeruput jus yang tidak berasa itu. Meski bau langu, tapi diteguknya juga demi kesehatannya, juga membuat lega Tisha yang telah menyiapkan untuknya. Pasti perempuan itu sudah mencari sumber-sumber di internet atau bertanya-tanya pada orang lain tentang jus.
Tisha berhenti sejenak ketika melanjutkan kegiatan bibinya, menurunkan makanan kaleng dan minuman botolan dari kantong plastik selain plastik yang sudah dipindahkan isinya ke kulkas tadi. Tidak berbeda, dia pun rindu anak gadisnya. Dia merasa tidak adil, menyerahkan Kayla ke neneknya, ketika Ranti telah membesarkannya dengan begitu baik. Namun, sebagai nenek kandung, tentu saja Astrid juga ingin merawat cucunya. Tisha menghela napas.
Mungkin memang dalam hidup harus selalu menentukan pilihan.
“Maaf, kalo boleh tanya, kira-kira, ayah Kayla itu di mana, Sha? Em, maksud Bibi kalo dia ketemu sama Kayla, apa kamu mau nerima dia?” tanya Ranti, meneguk kembali jusnya yang tinggal separuh.
Tisha meneguk saliva. Kenapa di saat seperti ini seolah bibinya bisa berceletuk seperti itu?
“Ayahnya ... nggak mungkin ketemu, Bi.” Gugup, Tisha ingat akan pertemuannya dengan Bram dan rahasia tentang ayah Kayla akan dia tutup rapat-rapat.
Ranti hanya diam mendengar ucapan Tisha. Dia sendiri hanya mendengar kisah Tisha dari Astrid sewaktu menitipkan Tisha dengan keadaan hamil, tapi belum tampak besar karena baru dua bulan dia dibawa ke rumahnya. Ranti belum pernah mendengar cerita dari mulut Tisha. Entah kenapa siang itu dia bertanya seperti itu. Mungkin karena Tisha telah kembali ke kota asalnya dan kemungkinan besar dia akan bertemu dengan lelaki yang telah menghamilinya.
“Oh. Apa kamu nggak mau cari ayah buat Kayla? Kamu terlalu keras bekerja demi kebutuhan Kayla,” ujar Ranti, sekarang duduk di balik mesin jahit untuk menyelesaikan pesanan jahitan.
Tisha menghela napas. Dia tidak pernah berpikiran untuk mencari jodoh. Dia sendiri sudah bertekad untuk membesarkan Kayla dan dia yakin Kayla akan mengerti itu. Sampai Kayla besar nanti, Tisha akan tetap sendiri, bekerja demi kebutuhan Kayla.
“Nggak, aku bisa membesarkan Kayla sendiri, Bi. Lagian, kalo mencari suami demi memenuhi kebutuhan Kayla, rasanya keterlaluan. Itu anakku, kenapa harus orang lain yang bertanggung jawab. Lagian, belum tentu orang itu mau menyayangi Kayla seperti anaknya sendiri.”
Ranti mendesah. Ya, Tisha memang keras kepala, tapi di balik itu, Tisha adalah wanita yang bertanggung jawab. Ranti tidak yakin jika Tisha adalah anak dengan pergaulan bebas seperti yang dikatakan kedua orang tua Tisha ketika menitipkannya ke rumah itu. Sikap Tisha tidak pernah memperlihatkan itu. Namun, kejadian semalam dan pagi itu, mengganggu pikiran Ranti.
“Tapi, semalam kamu diantar sama cowok. Juga pagi tadi, bubur itu dikirimi cowok yang sama, kan?” tebak Ranti yang mendengar deru mobil yang sama.
Tisha menghempaskan kedua tangan di paha saat berjongkok menata minuman di dalam lemari es. Dia menatap ke arah Ranti dengan helaan napas.
“Bibi, itu cowok Cuma manager. Dia bukan siapa-siapa. Bibi jangan—“
“Sha, mana ada manager baru yang baru kenal udah ngajak pergi sampai malam? Kalo kamu ada hubungan, segera pertegas.”
Tisha terdiam. Dia mengerti akan kekhawatiran bibinya. Pandangan buruk memang biasa dia dapatkan. Hamil di luar nikah, mungkin bibinya takut dia akan bertindak bodoh lagi, mengulang hal yang sama sewaktu enam tahun yang lalu dan ini moment pas ketika Kayla tidak ada di sekitarnya. Ranti pasti takut jika Tisha melakukan kesalahan lagi. Pihak wanita yang selalu dirugikan jika hamil di luar nikah dan prianya tidak bertanggung jawab.
Rasanya sungguh menyedihkan, tapi Tisha yakin bibinya hanya melindungi dirinya. Ranti memang merasa bertanggung jawab dengan Tisha yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri.
“Nggak, Bi. Tisha akan menjaga diri. Bibi nggak usah khawatir,” bujuknya pada wanita paruh baya itu.
Tisha mendatangi sang bibi, memijat bahunya sampai Ranti memejamkan kedua mata, merasakan nyaman pijatan keponakannya itu dan lupa dengan kain yang baru saja dia pasang di mesin jahit.
***
Pagi menjelang siang itu, di dalam sebuah ruang rapat perusahaan milik ayah Bram, senyum menghiasi para peserta rapat. Sepertinya mereka semua puas dengan apa keputusan pemimpin baru mereka. Satu per satu beranjak mengosongkan ruangan dengan meja melingkar itu.
Bram menghela napas lega saat telah selesai melakukan meeting dengan para kepala divisi dan mengemukakan ide-ide segarnya. Para kepala divisi tidak setua yang Bram bayangkan. Mereka rata-rata berusia empat puluh limaan sampai lima puluhan tahun, dan bisa menerima ide-ide barunya dalam upaya mengembangkan perusahaan. Jadi, tidak perlu waktu lama untuk Bram berbicara pada mereka. Satu keuntungan, Bram bisa keluar dengan leluasa siang ini karena pekerjaannya beres hari itu. Dia ingat benar dengan janjinya.
Bram menyambar kunci mobilnya dengan cepat. Sekertarisnya sampai mengangkat kedua alis melihat hal itu dan menggelengkan kepala.
“Pria muda yang gesit.”
Bram memacu mobilnya ke sebuah tempat. Dadanya berdebar tatkala mobilnya akan sampai ke restoran yang dia bilang semalam pada Tisha di dalam pesan. Meski tidak dibalas, tapi Bram yakin bahwa Tisha telah membaca pesannya.
Bram merasa siang itu seperti kencan pertamanya, karena gugup tiba-tiba terasa dan debar dalam d**a tidak juga mereda. Dia meletakkan tangannya di d**a, merasakan sesuatu di dalam dadanya membuncah ketika melihat tempat yang dia maksud untuk bertemu dengan Tisha. Wanita berambut panjang dengan sorot mata redup, membuatnya mabuk kepayang sejak pertama kali melihat wanita itu di bangku sekolah dulu. Namun, untuk mendekati, Bram merasa dia tidak pantas untuk gadis yang pintar dan pendiam semasa sekolah. Bram adalah anak pengusaha yang waktu itu cukup urakan di masanya.
Langkah kaki Bram sampai di dalam restoran. Dia menarik napas panjang lalu menghelanya dengan cepat untuk meredakan rasa gugup. Ini bahkan tidak dia rasakan ketika berkencan dengan Laras. Aneh sekali.
Bram duduk sesuai dengan tempat yang telah dia pesan tadi pagi. Dia duduk dan mengatakan pada seorang pelayan untuk menunggunya.
“Saya masih nunggu seseorang, Mas.”
Pelayan itu mundur dan kembali melayani pengunjung lain. Bram mengeluarkan ponselnya. Seperti semalam, dia ragu untuk menghubungi Tisha. Rasa ragu itu menggumpal, menjadi keraguan penuh untuk mengundang Tisha ke restoran itu. Namun, bayang Kayla membuat mantap segalanya. Ya, dia ingin tahu tentang Kayla, dan Bram ingin mencari tahu langsung dari ibunya.
Detik demi detik, menit demi menit, jam pun berlalu seiring berkali-kali Bram menunggu. Berdiri, mondar-mandir, menengok ke jendela, tapi sosok yang dia tunggu tidak nampak batang hidungnya. Padahal, waktu telah berlalu meninggalkan siang. Bram berdiri di jendela, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan melipat bibir ke dalam. Menatap hampa ke luar. Namun, seseorang yang dia harapkan masih belum kunjung tampak.
***
Tisha membawa satu cangkir teh masuk ke kamar dan duduk di kursi, sebelah jendela, dengan sebuah meja. Dia menyesap teh hangat seraya menatap ke luar. Suasana sepi dan hangat. Dia selalu suka dengan suasana itu, begitu tenang menikmati tehnya. Namun, pesan dari Bram tadi mengganggu pikirannya. Jam di dinding menunjuk waktu di mana Bram mengajaknya untuk bertemu. Tisha meneguk teh hangatnya berkali-kali, dia agaknya gelisah. Dia menatap kosong ke arah luar. Beberapa tetangga yang berlalu lalang tidak dapat mengalihkan pikirannya.
Rasa yang entah bercampur aduk membuatnya tidak mampu berpikir. Ingin rasanya setenang sebelumnya, tapi kenyataan berkata lain. Sampai habis teh hangatnya, Tisha tetap duduk pada tempatnya. Sebuah notifikasi masuk ke ponsel. Dia mengangkat sedikit benda pipih itu, lalu membaca pop-up notifikasi aplikasi hijau.
Bram: Aku masih menunggu.
Tisha meletakkan ponselnya dengan malas dan memutar kedua bola matanya. Berdccak karena pesan itu, tapi tidak berniat untuk membalas, apalagi beranjak dari kursinya. Tisha menghela napas, menyandarkan punggung ke kursi. Pikirannya tidak menentu.