“Om Bram mau kerja, Kayla.”
Wajah gadis kecil itu merengut ketika Laras menghalanginya maksudnya untuk meminta antar Bram ke sekolah. Sebuah permintaan kecil yang dia inginkan sejak semalam. Pagi-pagi benar Bram sudah berpamitan karena dia akan tinggal selama satu minggu di luar kota.
Masa iya, Bram harus mengantarkan Kayla ke sekolah? Laras mengendikkan bahunya dengan permintaan Kayla. Dia tidak mengerti anak kecil yang begitu rewel permintaannya macam-macam saja.
“Tapi Kayla mau diantar Om Bram,” rengek gadis kecil itu, mengesalkan bagi pendengaran Laras karena Bram kemungkinan sedang dikejar waktu.
Kayla bersikap seolah mood pagi itu akan hancur jika Bram tidak mengantarnya. Wajahnya serupa mendung dan mulutnya mengerucut. Bram melihatnya bukan kesal, melainkan geli. Aneh, anak itu tidak pernah membuatnya kesal dan marah meski bagaimanapun sikapnya yang malah membuat Laras agaknya kesal. Seperti tadi malam, Bram malah merasa ingin sekali melindungi Kayla dan membuatnya nyaman. Pagi ini, Bram merasa luluh dengan wajah memelas Kayla. Dia tidak tega membiarkan Kayla akan menangis dan malah enggan untuk berangkat ke sekolah jika kemauannya tidak dituruti. Lagian, menurut Bram permintaan Kayla tidak aneh-aneh.
Hanya ingin dia yang mengantarkan ke sekolah. Sederhana sekali permintaannya. Tak kuasa menolak.
“Nggak apa-apa, Sayang.”
Bram melihat sekilas, Laras menghela napas, tapi karena dia sendiri sibuk dengan urusan pagi, Laras hanya mendekik, tak menjawab.
“Om nunggu Kayla,” ujar Bram, tersenyum pada gadis kecil yang baru selesai mandi dengan balutan handuk putihnya.
Gadis kecil dengan anak rambut yang basah itu, bergegas memakai baju seragam yang telah disiapkan oleh neneknya. Dalam beberapa menit, dia telah siap dengan senyuman lebarnya. Lebih cepat beberapa menit dari biasanya. Sangat luar biasa. Ditambah dengan senandung kecil dari mulut kecil yang riang, memperlihatkan kebahagiaan yang tak terkira. Laras memutar kedua bola matanya melihat sikap Kayla.
“Cuma diantar, bahagianya melebihi apapun,” desis Laras heran.
“Om Bram nunggu Kayla, Kayla harus semangat ya? Nanti Om antar ke sekolah, tapi Cuma hari ini soalnya Om besok nggak pulang seminggu.”
Bram berjongkok dan menatap beningnya dua mata Kayla. Terhenyak, melihat dua mata itu, yang mengingatkannya pada matanya sendiri. Dia menatap haru pada wajah Kayla, tapi untuk memeluknya, tidak sanggup. Rasa yang entah ingin diungkapkan seperti apa, Bram pun tidak paham.
“Beneran, Om? Asyik! Eh, tapi kenapa Om sama kayak Mama? Pulangnya pake seminggu? Mama juga baru pulang seminggu lagi,” ocehnya, yang terhenti ketika Laras menarik tangannya untuk memakaikan kaos kaki.
“Ayo, sini, pake kaos kaki Kayla. Jangan ngoceh aja,” sungut Laras.
“Bram, nanti kamu terlambat,” sungut Laras. Masih menempel roll rambut di poninya. Pagi-pagi itu, memang belum saatnya mereka semua pergi beraktivitas, tapi Bram sudah ingin berpamitan untuk berangkat.
“Nggak jadi soal. Aku bisa bilang sama sekertarisku. Untuk hari ini saja, biar Kayla semangat. Ya kan, Kay?”
Gadis kecil itu mengangguk riang, meletakkan kedua tangannya di bahu Laras agar seimbang mengangkat satu kaki. Agak meringis karena Laras terburu-buru memakaikan kaos kaki di kedua kaki mungilnya.
Rahman keluar dari dalam dan memeluk cucunya setelah memakai sepatu lengkap. Hanya saja, rambutnya masih belum rapi.
“Anak pintar, biar Kakek yang antar sekalian antar Tante Laras, ya? Biar Om Bram berangkat duluan,” bujuk Rahman, berjongkok merayu cucunya.
Sayang, rayuan itu tidak mempan bagi Kayla. Dia menggelengkan kepala dengan wajah murung usai sang kakek membujuk. Melihat itu, Bram langsung tersenyum. Dia juga tidak mengerti kenapa tidak tega melihat Kayla yang ingin bersekolah diantar lagi olehnya, tapi dihalangi kakek dan tantenya.
“Nggak apa-apa, Om. Biar saya antar.”
Rahman menatap Astrid yang baru datang membawa sisir untuk merapikan rambut Kayla yang masih acak-acakan. Pagi itu, semuanya turun tangan mengurusi Kayla dan membujuknya. Mereka mendesah atas keras kepala cucunya itu. Namun, sejenak kemudian mereka maklum dengan sikap Kayla, karena yakin bahwa Kayla memang merindukan sosok ayah. Sejak dia lahir, Kayla tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Melihatnya saja juga belum pernah. Mungkin dalam sosok Bram, Kayla menemukan yang dia inginkan.
“Maaf ya, Bram?” ucap Rahman dengan penuh sesal dan nada tidak enak hati.
Sementara Laras hanya menonton semua itu dan melipat kedua tangannya di d**a. Cukup dongkol karena kelakuan Kayla. Namun, dia sendiri Cuma bisa diam karena Bram tidak tampak terbebani.
“Kayla buruan makan pagi, jangan bikin Om Bram nunggu lama,” ujar Laras membuka roll rambutnya, lalu berias di depan cermin dekat ruang tengah.
Bram duduk di sofa dengan sabar menunggu, menggulirkan layar ponselnya. Cepat-cepat menghapus pesan yang dia kirimkan ke Tisha semalam agar tidak terbaca oleh Laras. Bram masih asyik dengan benda pipih kesayangannya itu sampai tiba saatnya Kayla siap berangkat sekolah.
“Kayla udah siap, Om.”
“Cepat sekali,” puji Bram melihat anak manis dengan baju seragam rapi dan rambut yang dikuncir di belakang. Rambut yang persis sama dengan ibunya ketika sekolah dulu, ikal di bagian bawah. Manis. Ah, Bram kembali mengingat sosok Tisha yang ada dalam diri Kayla.
Bram tersenyum, lalu beranjak dan menggandeng tangan Kayla. Namun, anak itu berlari masuk dan mengambil sebuah benda pipih.
“Bentar, aku mau telepon Mama dulu. Masih kurang sepuluh menit.”
***
Tisha menatap wajah gadis kecil yang sangat dia rindukan di layar ponsel. Baru dua hari dia berpisah, tapi rasanya setahun saja.
“Mama, Kayla mau berangkat sekolah. Cium sayang,” ujarnya menggemaskan sambil menempelkan bibirnya di layar ponsel milik sang nenek.
Tisha merasa lega melihat wajah Kayla ceria pagi itu. Keceriaan sang anak adalah ketenangan bagi seorang ibu. Dia senang melihat semangat Kayla berangkat ke sekolah tanpa rewel, sepertinya sih, karena Tisha mengira-ngira dari mimik wajah Kayla yang tampak sangat semringah.
“Wah, udah cantik dan rapi anak Mama. Lucu banget kuncir rambutnya? Siapa yang beliin, Kay?” tanya Tisha, melayangkan pujian agar anaknya tambah semangat untuk bersekolah.
“Nenek, lah,” sahutnya sambil menghadapkan layar pada Astrid yang sedang berdiri di belakangnya.
“Mama, aku mau berangkat dulu, nanti yang nganter terlambat.”
Kening Tisha berkerut, berpikir mungkin jika terlambat, Laras yang akan mengantarkannya. Kalo ayahnya kan sudah pensiun, jadi tidak ada kata terlambat.
“Oke, hati-hati ya, Kayla. Diantar Kakek atau bareng Tante Laras?” tanya Tisha yang baru saja akan berangkat ke pasar bersama bibinya, meletakkan ponsel di atas meja dengan penyangga, lalu menyiapkan sebuah kantong belanja di sampingnya. Tentu sambil menatap ke arah ponsel.
“Sama Om Bram.”
Sahutan itu membuat Tisha terkejut. Nyaris kantong belanjaan kosong itu terlempar ke lantai. Mendengar nama itu lagi, jantungnya berdegup tak menentu.
“Apa, Kay?” tanyanya, meski ucapan Kayla tadi sudah sangat jelas di telinganya. Jaringan telepon juga sedang sangat baik dan tidak mengganggu hubungan telepon. Dia kembali mengangkat ponselnya dan mendekatkan penglihatan dan pendengaran. Barangkali pendengarannya sedang terganggu.
“Sama Om Bram. Nih, kalo mau ngomong,” ujar Kayla.
“Eh, Kay—“
Baru saja Tisha ingin menolak, sialnya, layar itu telah bergulir ke wajah yang sangat dia benci. Tisha mendengkus melihat Bram, tapi mau bagaimana lagi?
Tisha menghela napas, menatap ke arah lain sambil menyugar anak rambutnya. Lagi-lagi ada hal yang berpotensi membuatnya jantungan. Tisha berupaya untuk tidak terbawa emosi pagi itu. Dia mencoba membuat suasana yang sealami mungkin.
“Pasti Kayla yang minta ya?” desisnya, gugup. Siapa sangka dia harus berbincang dengan pria yang semalam dia abaikan pesannya.
Senyum dipaksakan dari wajah Tisha. Dia tidak perduli jika tampak terpaksa. Bukan urusannya juga jika Bram menangkap ketidaktulusan itu.
“Om Bram, maaf merepotkan. Harusnya Kayla diantar Kakeknya aja,” lanjut Tisha ketika melihat senyum Bram di layar, seolah baginya merupakan ejekan karena telah mampu mendekati anaknya.
Tisha teringat dengan pesan yang dikirimkan oleh Bram semalam. Dia telah menghapus dan ingin menolak ajakan Bram, tapi pagi ini wajahnya terpampang di layar ponselnya.
“Nggak apa-apa, Mama Kayla. Nggak repot, kok. Setelah antar Kayla, nanti aku sekalian berangkat kerja.”
Tisha membuang pandang ke sembarang arah, meminimalkan untuk menatap wajah Bram di layar ponsel. Kenapa pria itu malah berakting selayaknya seorang ayah? Dia diam beberapa saat setelah Bram mengatakan hal itu, lalu layar kembali pada sang anak perempuannya.
“Kayla buruan berangkat. Om Bram mau kerja. Kamu nggak boleh merepotkan orang lain.”
Kayla merengut di ujung sana, merasakan ketusnya sang Mama yang mengerutkan dahinya berlapis-lapis di layar. Wajah marah sang mama yang membuatnya agak takut juga.
“Tapi Om Bram bukan orang lain, Ma. Dia kan mau jadi Omnya Kayla.”
Ucapan itu sederhana, sesuai dengan kenyataan, tapi Tisha merasa terluka dengan ucapan Kayla. Dia mengelus d**a agar perasaannya tidak lagi membuat tangis pecah.
“Ya, ya, hati-hati ya, Nak?”
Akhirnya, percakapan itu pun usai setelah Kayla menutup telepon. Tisha menghempaskan pantatnya, duduk lemas di kursi. Ranti menatapnya heran. Sedari tadi dia menatap wajah Tisha ketika menerima telepon dari Kayla. Bukan sepenuhnya senang. Di awal memang wajahnya berbinar, tapi sepertinya di tengah-tengah ada sesuatu yang mengganggu. Bahkan, tanpa disadari, Tisha lupa untuk mengajak Ranti berbincang dengan Kayla walau sebentar.
“Kayla udah semangat berangkat sekolah, kan? Kenapa malah lemas? Kamu kangen?” tanya Ranti dengan bersimpati.
“Kangen, tentu saja, Bi. Seorang ibu pasti akan merindukan anaknya, tapi—“
Penuturan Tisha tercekat di tenggorokan. Dia tidak mampu melanjutkan unek-unek di dalam d**a yang sekarang mendesak. Dia sudah banyak menyusahkan Ranti. Apa sekarang dia mau menambah pikiran Ranti?
“Ah, udahlah. Nggak penting. Yuk, Bi. Kita ke pasar.”
Tisha bangkit sebelum sang Bibi menanyakan macam-macam padanya karena sikapnya yang aneh pagi itu. Ranti kembali menggelengkan kepala. Baru sepagi ini, dia mendapati keanehan sikap Tisha. Dari membuang makanan, sampai melihatnya galau setelah mengangkat telepon.
Apa mungkin dia homesick karena Kayla jauh darinya? Kasihan.
Ranti menggelengkan kepala. Mungkin memang seorang ibu adalah manusia yang paling merasa sakit ketika jauh dari anaknya. Begitu pikiran Ranti, meski dia belum pernah memiliki anak, tapi ketika Tisha dan Kayla pergi seminggu yang lalu pun, rasanya seperti ada sesuatu yang hilang.
***
Bram sekarang duduk di samping Kayla, mengemudikan mobil dengan tenang. Gadis kecil itu anteng, dan sangat manis. Dia melirik sesekali ke wajah mungil itu, lalu sesekali melihat ke spion. Ada sesuatu yang agak mirip dengannya. Mungkin bola mata Kayla yang tadi dia tatap, tapi sepertinya ada mimik yang serupa lagi. Bram masih ragu untuk meraba-raba. Di saat seperti itu, Bram nekat meluncurkan pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
“Kayla, boleh Om tanya sesuatu?”
Kayla mengangkat kedua alisnya saat mendengar pertanyaan Bram.
“Ya, boleh lah, Om.”
Bram menyunggingkan senyumnya. Kali ini, dia ingin bertanya sesuatu pada Kayla, mumpung Laras tidak ada di sekitarnya. Hanya dia dan Kayla di dalam mobil. Bram menoleh sebentar ke luar. Sejenak dia ragu, tapi kemudian memantapkan diri untuk bertanya pada gadis kecil itu.
“Kayla pernah ketemu papa Kayla?” tanya Bram dengan cukup hati-hati karena takut menyinggung.
Kayla menggelengkan kepala dengan cepat, tidak ada keraguan.
“Kenapa?” desak Bram.
“Kata Mama, Papa Kayla ada urusan. Dia pergi jauh sewaktu Kayla lahir. Jadi, Kayla belum pernah lihat Papa.”
Bram merasakan nyeri di ulu hatinya mendengar ucapan anak polos itu. Ada sekelumit luka di balik perkataan Kayla tadi. Tentu saja anak itu memiliki luka batin yang cukup lama. Entah apa rasanya hidup tanpa adanya seorang ayah yang katanya adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bram memijat keningnya, lalu kembali teringat kejadian enam tahun yang lalu. Namun, Tisha tidak mengakui anak siapa Kayla itu. Apakah Tisha memang telah menikah dengan seseorang yang lain atau bagaimana, Bram juga tidak paham.
“Kayla kangen Papa Kayla?” tanya Bram, menepiskan rasa trenyuh dalam hati.
Kayla mengangguk-angguk tanpa berbicara. Seperti apapun sang ayah, mungkin bagi Kayla adalah kerinduan yang terdalam untuk memeluk dan menimba kasih sayangnya. Ucapan jahat dari sang ibu pun tidak mengikir kerinduannya. Entah seperti apa sosok ayahnya, tapi dari mata anak itu, tidak terdapat dendam sama sekali. Hanya rindu yang teramat sangat, meski sekalipun dia tidak pernah bertemu dengan sosok ayah kandungnya.
“Kayla boleh anggap Om Bram sebagai Papa Kayla.”
Ucapan tiba-tiba itu, membuat Kayla menoleh cepat pada Bram dengan mimik tidak mengerti. Namun, sebagai anak-anak, Kayla agak senang karena sosok lelaki dewasa kebapakan yang dia rindukan, ada pada Bram. Meski sebentar memeluknya ketika tidak bisa tidur, tapi dia merasakan hangatnya d**a dan merdunya detak jantung seorang ayah pada diri omnya.
“Maksudnya kalo Kayla pengen sesuatu, Om bisa bantu,” ralat Bram yang tidak ingin anak itu salah persepsi.
“Beneran, Om?” sahutnya riang.
Namun, sebentar kemudian wajahnya kembali mendung dengan desahan kecil yang dirasa cukup berat. Matanya kembali sayu, menatap ke depan dengan pandangan menerawang.
“Tapi, tetap saja Om Bram itu Omnya Kayla, bukan papanya Kayla.”