"Kenapa firasatku tiba-tiba nggak enak, ya? Apa yang kira-kira akan terjadi di hari yang sangat besar ini?" gumam Varina lirih.
Musik klasik mengalun lembut di dalam gereja yang penuh dengan para tamu undangan dari kalangan bangsawan dan elite. Lilin-lilin menyala di sepanjang lorong menuju altar, memancarkan cahaya hangat yang kontras dengan suasana tegang yang dirasakan Varina.
Langkahnya perlahan namun mantap, meskipun di dalam hati ia dipenuhi kecemasan. Gaun pengantin putihnya berkilau di bawah sorotan cahaya, dengan ekor gaun yang panjang menjuntai di belakangnya.
Setiap tatapan yang mengarah padanya terasa tajam—seolah mereka menunggunya jatuh, menantikan momen di mana ia akan dipermalukan.
Kenapa aku merasa seperti ini?
Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari wajah-wajah yang mungkin bisa memberinya ketenangan. Namun yang ia lihat hanya ekspresi penuh rasa ingin tahu, bisik-bisik halus, serta senyum licik dari beberapa orang yang jelas-jelas mengharapkan drama terjadi hari ini.
Di barisan depan, duduklah Marquess Havart—kakek Kevin—dengan ekspresi sulit dibaca. Lelaki tua itu tampak tenang, tapi ada sesuatu di sorot matanya yang terasa dingin.
Di sebelah kiri, ada keluarga Varina. Ibu tirinya duduk dengan sikap anggun yang palsu, sementara kedua saudari tirinya, Jocelyn dan Bianca, tampak menahan tawa.
Dan seperti sudah diduga, Jocelyn bangkit dari kursinya dan mendekatinya. Tumit sepatunya berbunyi nyaring di atas lantai marmer, seakan ingin menarik perhatian semua orang.
“Selamat, adikku tersayang,” ucap Jocelyn dengan suara manis yang jelas-jelas dibuat-buat.
Varina menghela napas pelan, berusaha untuk tetap tenang. “Apa maumu?”
Jocelyn menyeringai, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Varina merinding.
“Hari ini akan menjadi hari paling memalukan dalam hidupmu. Kamu sudah bersiap-siap, kan?"
Varina menoleh tajam, tapi Jocelyn hanya tertawa kecil dan kembali ke tempat duduknya, meninggalkan Varina dengan pikiran yang semakin berkecamuk.
Apa maksudnya?
Jantungnya berdetak lebih kencang saat ia akhirnya sampai di altar.
Pendeta sudah siap. Para tamu diam, menunggu dengan penuh antisipasi.
Lalu suara petugas mengumumkan,
"Marilah kita sambut pengantin pria, Kevin Havart."
Semua kepala menoleh ke arah pintu utama gereja yang megah.
Hening.
Tidak ada yang masuk.
Tidak ada suara langkah.
Varina merasakan hawa dingin menjalari tubuhnya. Tiba-tiba, perasaan tidak enak yang ia rasakan sejak awal berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk.
Bisik-bisik mulai terdengar di antara para tamu.
“Di mana Kevin?”
“Kenapa dia tidak muncul?”
“Jangan bilang dia membatalkan pernikahannya?”
"Ini akan menjadi aib besar untuk Keluarga Cottonbriss kalau sampai Kevin tidak datang."
"Ya. Pernikahan ini akan batal, dan Nona Varina akan menanggung malu seumur hidupnya."
Pendeta tampak ragu-ragu, sementara petugas upacara kembali mencoba mengumumkan dengan suara lebih keras.
"Marilah kita sambut pengantin pria, Kevin Havart!"
Tetap tidak ada siapa pun yang datang.
Varina menoleh ke arah keluarga Kevin. Marquess Havart mengernyit, sementara sang ayah, Charles Havart, tampak tersenyum sinis seolah tahu hal seperti ini akan terjadi.
"Apa ini maksud ucapan Jocelyn? Kevin ... dia tidak datang?" batin Varina resah.
Dan saat itu juga, Jocelyn kembali mendekati Varina dengan ekspresi penuh kemenangan.
“Tepat seperti yang aku katakan kan, Varina?” bisiknya pelan. “Hari ini kamu akan menanggung malu seumur hidup.”
Varina menahan napas. Ini tidak mungkin terjadi.
Namun, sebelum ia sempat bereaksi lebih jauh, pintu gereja tiba-tiba terbuka dengan keras.
Seorang pria berpakaian serba hitam memasuki ruangan. Pria itu berjalan ke arah altar dengan wajahnya yang dingin. Tatapannya lurus ke depan, menyorot tajam Varina yang ada di depan sana.
"Ya Tuhan, dia siapa lagi?" pikir Varina waspada.
Tanpa Varina sadari, Marquess Havart ternyata sudah bangkit dari posisi duduknya.
"Apa yang kau lakukan di sini, anak pembawa sial?" sentaknya.
Varina merasa ngeri. Jadi, pria di depan sana adalah orang yang memiliki reputasi buruk?
"Aku datang untuk menikahi pengantinku," jawabnya santai, tetapi ditanggapi dengan kebalikannya oleh semua orang yang ada di sana.
"Bukankah mempelai prianya bernama Kevin Havart? Dan Anda bukan-"
"Nama saya Eden - Eden Havart. Saya adalah mempelai pria yang akan menikahi Nona Varina hari ini." Pria itu bahkan berani memotong ucapan pendeta.
"Tapi bukankah-"
"Apa Anda melihat pria lajang lain dari Keluarga Havart di sini selain saya, Tuan?"
"..."
"Saya datang untuk menikahi Nona Varina. Maka, laksanakanlah tugas Anda sebagaimana mestinya!"
Varina menatap ngeri pria bernama lengkap Eden Havart itu. Belum hilang keterkejutannya karena sosok Kevin yang ternyata bekerja sama dengan Jocelyn, kini ia harus dihadapkan kenyataan jika ia akan menikah dengan sosok asing?
"T- tunggu dulu!" ucap Varina ketakutan. Semua kalimat-kalimat yang ia susun, sayangnya hanya menggantung di ujung lidahnya, tak mampu untuk terucap.
Pria itu menatap Varina dengan senyum misterius - sesuatu yang tak Varina pahami. Dia berjalan mendekat, mencondongkan tubuhnya hingga membuat bisik-bisik mulai terdengar dari barisan para tamu.
Dan pria itu, berhenti bergerak saat wajahnya berada tepat di samping kepala Varina.
"Kalau aku tidak menikahimu hari ini, kamu akan menanggung aib seumur hidupmu. Jadi, buatlah keputusan sebijak mungkin dalam waktu yang singkat ini!" bisik Eden di telinga Varina.
"Ingat, kamu tidak punya pilihan lain! Aku di sini untuk menyelamatkanmu, jadi aku harap kau bisa bekerja sama dengan baik!"
Varina memejamkan mata. Tangannya mencengkram erat gaun pengantin megah yang ia kenakan. Posisinya sudah benar-benar terhimpit. Tak ada lagi yang bisa Varina andalkan selain instingnya sendiri.
Meski ragu, ia akhirnya mengangguk kecil. "Kalau begitu, mari kita menikah!"