03 - Menikah?

774 Words
Seorang pria melangkah masuk ke kamar Varina, membawa aroma kayu cendana yang menyatu dengan kepribadiannya yang tenang tapi dominan. Tubuhnya tegap, rambutnya hitam pekat dengan potongan rapi, dan tatapan matanya yang tajam langsung tertuju pada Varina yang kini berada di tubuh Varina. Dari ciri fisiknya, pria itu sesuai dengan deskripsi yang Elena berikan. Dia adalah Kevin Havart, pria yang merupakan calon suami Varina. “Varina,” sapanya singkat. Suaranya berat, terdengar seperti sebuah melodi yang penuh otoritas tetapi tetap sopan. Dia membawa sebuah kotak kecil di tangannya, yang tampaknya adalah hadiah untuk Varina. “Bagaimana keadaanmu sekarang?” Varina menatap Kevin, mencoba membaca ekspresi wajah pria itu. Dia tidak terlihat seperti ancaman, tapi ada sesuatu dari cara dia memandang yang membuatnya merasa waspada. Varina memutuskan untuk tetap netral. Ia merasa perlu menyelami karakter pria itu terlebih dahulu. “Aku sudah merasa lebih baik,” jawabnya singkat, dengan senyum kecil yang dipaksakan. Kevin mengangkat alis, jelas terlihat bingung dengan sikap dingin Varina. “Itu bagus. Tapi... kamu tidak terlihat seperti dirimu yang biasanya,” katanya, meletakkan kotak kecil itu di meja samping tempat tidur. “Apa ada yang mengganggumu?” Varina terdiam sesaat. Ia tahu pria ini pasti mengenal Varina yang sebenarnya lebih baik daripada dirinya. Ia tidak bisa terlalu terang-terangan menunjukkan bahwa dirinya adalah orang lain. Jadi, ia memutuskan untuk memainkan peran. “Maaf, mungkin aku masih sedikit terguncang karena kehilangan Ayah,” kata Varina sambil mencoba tersenyum lebih hangat. “Aku menghargai perhatianmu, Kevin. Terima kasih sudah datang.” Kevin mengangguk, tapi matanya tetap menyipit curiga. “Aku mengerti. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Pernikahan kita tinggal satu minggu lagi. Dan aku tidak mau terjadi sesuatu padamu sebelum hari itu datang.” Pernikahan itu lagi. Varina ingin protes, tapi dia tahu itu bukan ide yang bijak. Dia mengubah sikapnya, mencoba terdengar lebih antusias. “Tentu saja, Kevin. Aku hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Tapi jangan khawatir, aku akan berusaha memberikan yang terbaik.” Kevin tersenyum tipis, tampak lega meskipun masih ada sedikit keraguan di matanya. Dia mengambil kursi dan duduk di dekat tempat tidur. “Kalau begitu, aku senang mendengarnya. Berjanjilah untuk tetap kuat! Ingat, kamu memiliki aku, Varina. Kamu bisa menceritakan semua keluh kesahmu padaku kapan saja.” Varina mencoba menahan diri agar tidak menunjukkan ekspresi bingung. “Sekali terima kasih, Kevin.” Namun, responsnya yang terlalu datar itu membuat Kevin kembali mengernyit. “Varina, kamu yakin baik-baik saja? Kamu terlihat berbeda hari ini.” Varina mulai panik. Dia harus segera mengubah keadaan sebelum Kevin semakin curiga. Ia tersenyum lebih cerah, lalu menggenggam tangan Kevin dengan lembut. “Aku hanya lelah, Kevin. Tapi aku benar-benar bersyukur punya seseorang sebaik dirimu di sisiku. Aku akan baik-baik saja untukmu.” Sentuhan itu tampaknya cukup untuk mengusir sebagian keraguan Kevin. Dia menghela napas dan mengangguk. “Kalau begitu, istirahatlah. Aku akan memastikan semua persiapan berjalan lancar. Kamu tidak perlu khawatir tentang apa pun.” Saat Kevin bangkit untuk pergi, Varina merasa lega karena berhasil mengatasi situasi tanpa membuat masalah. Namun, di sisi lain, ia juga merasa semakin terperangkap dalam peran ini. Apa pun yang terjadi, ia harus bertahan dan memainkan perannya dengan sempurna—setidaknya sampai ia memahami dunia asing ini dan menemukan jalan keluarnya. Malam harinya, Varina mulai keluar dari kamarnya. Ia makan di ruang makan, membuat tatapan ibu serta dua saudari tirinya langsung tertuju padanya. "Kamu sudah sembuh?" tanya Jocelyn dengan nada sinis. "Aku pikir kamu akan selamanya mengurung diri di kamar." "Ssst! Sudah, lanjutkan sarapanmu, Jocelyn! Biar bagaimana pun Varina memang harus segera membiasakan diri. Karena tak lama lagi ia akan jadi pusat perhatian banyak tamu penting di pesta pernikahannya," ujar ibu tiri Varina. Sekelebat bayangan muncul di kepala Varina. Ia seperti melihat adegan Varina kecil yang sedang dipukul oleh wanita paruh baya di hadapannya. "Dasar serigala berbulu domba! Apa lagi rencanamu kali ini?" batin Varina. "Varina, apa menurutmu sampai saat ini kamu masih layak untuk Kevin? Dia itu lulusan luar negeri. Cucu kesayangan Marquess Havart yang digadang-gadang akan memjadi penggantinya suatu hari nanti. Sedangkan kamu? Setelah Ayah tidak ada, kamu itu seperti seonggok sampah yang tidak berharga," sindir Jocelyn. Varina meletakkan sendoknya dengan cukup kasar. "Lalu apa urusannya denganmu? Kalau Kevin tidak layak denganku, kamu pikir dia akan lebih layak denganmu?" Jocelyn tergagap. Ia tidak bisa mengelak dari ucaran Varina. Di sisi lain, ia tidak menyangka Varina akan berani mengatakan hal seperti itu padanya. Mereka pun mulai bertanya-tanya. Sejak kapan Varina memiliki keberanian untuk melawan seperti ini? "Lihat saja, Varina. Sebentar lagi, hidupmu akan benar-benar hancur. Tak ada lagi tempat aman bagimu, karena semua pasang mata di negeri ini akan memandangmu rendah," batin Jocelyn dengan tangan mengepal kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD