02 - Namaku Varina

795 Words
“Varina, kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?” tanya wanita itu dengan suara lembut. Dira berusaha menjawab, tetapi suaranya serak, seperti tidak pernah dipakai selama berhari-hari. Ia mencoba berbicara lagi, namun yang keluar bukan suara yang ia kenal. Suara itu... lebih halus, lebih lembut. Saat ia melihat bayangan dalam cermin, cermin itu hampir saja terlepas dari tangannya. Itu bukan wajah Dira. Rambut panjang gelap, mata besar, dan fitur wajah yang halus menciptakan tampilan seorang wanita yang tak dikenalnya. “Apa ini? Siapa aku sekarang?” pikirnya panik. “Varina, kamu pasti masih terguncang. Istirahatlah dulu! Aku tahu ini berat, tapi kamu harus tetap kuat. Ayahmu tidak akan tenang kalau kamu berlarut dalam duka seperti ini.” Dira membeku. "Ayah? Meninggal? Siapa wanita ini? Dan kenapa ia memanggilku Varina?" Namun sebelum ia sempat mencerna semuanya, pintu kamar terbuka. Dua wanita lain masuk, membawa aura yang sama sekali berbeda dari yang sebelumnya. “Oh, Varina. Kamu sudah bangun?” kata salah satu dari mereka dengan nada manis yang terdengar palsu. Dia mengenakan gaun elegan, tapi tatapannya dingin dan tajam. Wanita di sebelahnya tersenyum miring, hampir seperti mengejek. “Bagus sekali. Kami khawatir pesta nanti akan gagal karena kesedihanmu.” Dira menatap mereka dengan perasaan bercampur aduk. Siapa mereka? Dan kenapa mereka terlihat seperti tidak suka padanya? Salah satu wanita itu mendekat dan membungkuk, berbisik pelan. Suaranya cukup rendah, hanya terdengar oleh Dira. “Mulai sekarang, jangan harap hidupmu akan seindah dongeng. Malaikat pelindungmu sudah tidak ada. Kamu tidak lebih dari boneka di tangan kami.” Kata-kata itu menghantam seperti tamparan keras. Dira merasakan tubuhnya—tubuh Varina—gemetar, bukan hanya karena takut, tapi juga karena kemarahan yang mulai tumbuh. “Aku tidak tahu apa yang terjadi,” pikirnya, “tapi aku tidak akan membiarkan mereka mempermainkanku.” Dira, kini menjadi Varina, tahu bahwa ia terjebak di dunia asing. Namun, satu hal yang pasti: ia harus bertahan, apapun yang terjadi. *** "Aku ingin tinggal lebih lama untuk menjagamu. Sayangnya aku tidak bisa," ujar Elena. Varina tersenyum tipis. Ia tidak benar-benar mengenal sosok Elena. Namun, gadis itu banyak membantunya beberapa hari ini. Yang Varina tahu, Elena adalah sahabat baik dari tubuh yang ia tempati. Dan Varina bisa merasakan itu. "Tidak papa. Kamu juga pasti punya kesibukan sendiri. Datanglah kapan pun kamu bisa. Dan aku akan senang menerima kedatanganmu," balas Varina. Elena membalas senyum Varina. Gadis itu menggenggam tangan sahabatnya. "Itu pasti. Oh ya. Minggu depan adalah hari pernikahanmu. Aku akan usahakan untuk datang lebih awal untuk membantumu." Mata Varina membulat. "Apa? Menikah?" Elena menatap Varina bingung. "Kamu juga lupa kalau sebentar lagi akan menikah? Sebenarnya ibuku sudah mengusulkan untuk menunda pernikahannya karena kamu sedang berduka. Tapi ibu tiri kamu-" "Sebentar sebentar! Jadi ... aku mau menikah? Minggu depan?" potong Varina. Elena mengangguk. "Kamu ... nggak lupa, kan, sama Kevin?" Varina memijat kepalanya yang terasa pening. Astaga! Kevin siapa lagi?! Kalau pun dia adalah orang penting bagi Varina, harusnya ia datang untuk menjenguk Varina, kan? "Rina ... kamu lupa?" Varina menatap Elena dengan tatapan lelah. "Apa itu nama calon suamiku?" "Astaga! Bisa-bisanya kamu benar-benar lupa dengan kekasihmu sendiri!" pekik Elena tak habis pikir. Sementara itu, Varina terlalu pusing memikirkan nasibnya sendiri. Ia sudah tidak peduli saat Elena menatapnya tajam dan meninggalkannya sambil memanggil-manggil nama ibunya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku baru saja masuk ke dunia ini. Masih ada banyak hal yang tidak aku ketahui. Sekarang aku harus ... menikah?" Varina tidak bisa membayangkan seperti apa sosok yang akan menjadi suaminya itu. Apakah dia pria yang baik, atau justru akan jadi ujian baru dalam kehidupan Varina kali ini? Di tengah kebingungan itu, seseorang masuk tanpa permisi ke kamar Varina. Varina mendongak, memandangi perempuan bergaun kuning itu. Tatapan Varina mengisyaratkan jika dirinya merasa lelah dan tidak ingin diganggu. Perempuan bergaun kuning itu bersedekap d**a, menatap Varina dengan dingin. "Kevin akan datang sebentar lagi. Berdandan lah yang cantik! Jangan sok-sokan mengemis belas kasihan darinya!" ujar perempuan itu. Nama itu langsung menggema di kepala Varina. Baru saja Elena menceritakan padanya tentang siapa pria itu. Dan sekarang, Varina langsung mendapat kabar jika pria itu akan datang menjenguknya. "Kamu tuli atau apa, Varina?" sentak si gadis bergaun kuning. "Aku dengar. Tapi apa kamu mau aku melepas pakaianmu di sini, di hadapan kamu?" balas Varina dingin. Perempuan itu menatap Varina nyalang. Tangannya mengepal kuat. "Jika sudah selesai bicaranya, bisa kamu tinggalkan kamarku, Jocelyn?" pinta Varina, masih dengan suara yang dingin. Gadis itu -- Jocelyn Cottonbriss atau yang terlahir dengan nama Jocelyn Travany, menghentakkan kakinya kesal. Wajahnya merah padam, tapi ia tetap melakukan apa yang Varina perintahkan padanya. Varina sempat tercengang. Ia jadi teringat akan sosok seseorang dalam kehidupannya sebelumnya. Sikap orang itu mirip dengan Jocelyn. "Tidak di dunia nyata, tidak di dunia novel, tetap saja aku ditakdirkan untuk bertemu dengan sosok sepertimu, Kania ..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD