12 - Tantangan Memasak

1501 Words
“Apa kamu bisa memasak?” Varina yang sedang menuang air ke dalam gelas pun sontak menoleh kaget. Ia tidak tahu, kalau pemilik kastil ini terbiasa bangun sepagi ini. “Aku? Aku pernah memasak, tapi kalau untuk jago atau tidaknya, maka dengan yakin aku akan menjawab enggak,” jawab Varina seadanya. Dalam kehidupannya sebagai Dira, ia merupakan anak seorang pengusaha yang cukup sukses. Ada banyak pelayan di rumahnya, dan Dira terbilang jarang menyentuh alat-alat dapur. Eden mengangguk. “Aku ingin mencoba masakanmu hari ini.” Varina yang sedang mulai meneguk minumannya pun tersedak karena kaget. “Aku kan sudah bilang, kalau dibilang jago, enggak juga. Daripada kamu makan hasil makanan nggak jelas, mending biarin aja para pelayan yang masak seperti biasa!” Eden melipat tangannya di depan d**a. Ia menatap datar gadis manis di hadapannya itu. “Tapi aku sedang ingin mencoba hasil masakan istriku. Jadi, aku perintahkan kamu untuk memasak untukku!” Varina menatap Eden keberatan. Ia mendecak kesal dan bersiap melemparkan protes. Namun, belum sempat mulutnya mengeluarkan suara, Eden sudah lebih dulu memotongnya. “Kamu tahu, kan, apa akibat untuk penghuni rumah ini yang tidak mematuhi perintahku?” Varina menghentakkan kakinya kesal. Kalau sudah seperti ini, ia tidak mungkin memiliki keberanian lagi untuk membantah ucapan Eden. “Kamu ingin aku memasak apa?” tanya Varina. “Memang kamu bisa masak apa?” Eden balik bertanya. “Nasi goreng? Mie goreng? Ayam krispi?” tawar Varina, mulai menyebutkan makanan-makanan yang pernah ia masak sebelumnya. “Bagaimana kalau makanan yang berkuah? Apa yang bisa kamu masak?” Varina tampak berpikir keras. Namun, beberapa saat kemudian, ia menggeleng. “Oke. Aku mau coba makan sop ayam buatanmu.” Varina menatap Eden dengan tajam. “Aku nggak pernah masak makanan berkuah sebelumnya, kecuali mie instan kuah. Mau aku buatkan itu saja?” “Sop ayam, Varina. Apa ucapanku masih kurang jelas?” Bahu Varina merosot. Ia berjalan gontai ke arah kulkas besar yang ada di ruangan itu. Sedangkan Eden, masih berada di tempatnya, menatap gerak-gerik istri mungilnya itu selama beberapa saat sebelum akhirnya ia beranjak pergi dari sana. Menyadari Eden sudah menjauh, Varina menoleh ke belakang. Ia berusaha untuk tidak merengek meski dirinya sangat kesal. Saking kesalnya, ia sampai ingin menangis sekarang. Varina mulai mencuci sayur-sayuran yang akan ia gunakan untuk membuat sop. Bibirnya terus mendumel tidak jelas, tapi lirih agar tidak sampai terdengar oleh penghuni lainnya. Namun … “Biar saya bantu, Nona.” Varina menoleh kaget. “Maaf, tapi Eden minta aku yang memasak untuknya. Kamu bisa istirahat saja atau mengerjakan pekerjaan yang lainnya!” Pelayan yang tadi menyapa Varina itu tersenyum lembut. “Tuan Eden yang memerintahkan saya untuk membantu Anda. Hanya membantu, dan Anda yang akan tetap memasak hidangan utamanya.” Pupil mata Varina membesar. “Benarkah? Dia yang mengirimmu untuk membantuku?” “Ya. Beliau juga meminta saya untuk mengawasi Anda, agar masakan Anda tetap bisa dimakan meski Anda belum pernah membuatnya sebelumnya.” Varina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena merasa malu. Kalau dipikir-pikir, menu yang Eden harapkan sebenarnya hanyalah menu rumahan sederhana. Itu adalah salah satu jenis appetizer yang paling mudah dibuat dan hampir selalu ada di setiap rumah. Rasanya, aneh juga jika Varina tidak bisa membuatnya. “Mohon bantuannya, ya! Aku benar-benar belum pernah membuat sop ayam sebelumnya. Tapi, aku masih tahu kok cara memotong sayur untuk membuat sop. Biar bagaimana pun, aku juga sering makan sop, jadi aku tahu bagaimana bentuk sayuran-sayuran itu,” pinta Varina. “Tentu, Nona. Saya pasti akan membantu membimbing Anda untuk membuat sop yang enak,” jawab pelayan itu. Varina tersenyum. Perlahan, semangatnya kembali naik. Ya … meski apa yang Eden perintahkan kali ini sedikit mengujinya, tetapi di sisi lain, Varina merasa jika ini adalah kesempatan yang bagus untuk ia belajar ilmu baru. Setelah hampir satu jam berjibaku dengan peralatan dapur, Varina akhirnya membawa sop itu ke ruang makan. Ia menyajikan sop itu di bagian tengah meja, lalu duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan Eden. “Aku tidak tahu apa kamu akan menyukainya atau tidak. Tapi kalau kamu bertanya pendapatku … rasanya lumayan,” ucap Varina, tidak ingin Eden berekspektasi terlalu tinggi pada makanannya. Eden memberi kode pada pelayan yang berdiri di dekat meja makan untuk menyiapkan bubur itu ke mangkoknya. Setelah itu, Eden mencicipinya pelan. Varina menggigit bibir bawahnya dengan gugup, khawatir jika Eden akan mengatakan hal-hal buruk pada hasil masakannya. Namun, di luar dugaan, pria itu malah mengangguk, dengan raut wajah yang tak berubah dari sebelumnya. Setelah itu, Eden makan seperti biasa, layaknya tidak ada yang perlu ia utarakan tentang hasil masakan Varina. “Kamu tidak makan?” tanya Eden. “I- iya. Aku sudah boleh makan?” tanya Varina ragu. “Aku akan berangkat bekerja sebentar lagi. Kalau kamu tidak ingin makan sendiri, maka makanlah sekarang!” ucap Eden dengan nada bicara yang datar. Varina mengangguk. Tidak mau memperpanjang percakapan, Varina pun segera melahap makanan yang ada di hadapannya, termasuk sop ayam buatannya. Padahal, menurutnya rasa sop ini termasuk di atas rata-rata untuk para pemula pada umumnya. Namun, sepertinya tidak bagi Eden. Ia sepertinya merasa kurang puas, hingga tidak berkomentar apapun tentang hasil masakan Varina *** “Nona, apa Anda baik-baik saja?” Pelayan yang tadi pagi membantu Varina masak menghampiri Varina ketika ia sedang bersantai di ruang tengah. Varina menghela napas panjang. “Apa masakanku seburuk itu?” “Y- ya?” “Eden sepertinya kurang puas dengan hasil masakanku. Padahal menurutku tidak ada yang salah dengan masakan itu. Hanya saja, sepertinya Eden mengharapkan sesuatu yang lebih,” ucap Varina lesu. Pelayan itu mengangguk. “Apa Anda merasa kecewa?” “Ya, tentu.” “Tapi, saya ragu Tuan Eden tidak menyukainya,” ucap pelayan itu. Varina menoleh, menatap pelayan itu dengan alis mengernyit. “Maksudmu? Apa dia memang biasanya seperti ini? Wajahnya tampak datar saat memakan masakanku tadi. Aku pikir, mungkin dia tidak suka.” “Kalau untuk itu, Anda benar, Nona. Tuan Eden memang tidak biasanya bereaksi sedatar itu pada makanan baru. Ini termasuk jarang,” balas pelayan itu. Nina namanya. Varina kembali meletakkan kepalanya di atas bantal sofa yang ia peluk, menatap layar televisi dengan wajah yang muram. “Sudah aku duga. Mungkin karena dia biasa merasakan masakan orang yang memang ahli memasak, jadi seleranya tinggi dan masakanku tidak bisa memuaskannya.” “Nona, itu tidak benar.” “Tidak benar apanya? Bukankah semua sudah jelas?” “Apa Anda tidak tahu?” Varina menoleh menatap Nina dengan tatapan malas. “Tidak tahu soal apa lagi, Nina? Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau-” “Tuan Eden bahkan meminta kami untuk membungkuskan bekal makan siang dari sop ayam buatan Anda tadi,” potong Nina dengan mata berbinar. Varina langsung mengangkat kepalanya, menatap Nina dengan tidak percaya. “Kamu lagi bohong, kan?” “Tidak, Nona. Tuan Eden benar-benar datang ke dapur, dan secara khusus berpesan untuk membawakan sop buatan Anda sebagai bekal makan siangnya di kantor,” jawab Nina dengan lugas. “Saya rasa, Tuan Eden sepertinya menyukai masakan Anda. Anda bisa mencoba untuk membuat menu lain untuk Tuan Eden besok. Mungkin, Anda memiliki masakan andalan sebelumnya? Saya rasa, ketika Tuan Eden sudah menemukan cita rasa yang benar-benar pas di lidahnya, perlahan-lahan Tuan Eden akan mulai memberi pujian pada Anda.” Varina dapat merasakan wajahnya mulai memanas. Ia tidak bisa mengontrol diri untuk tidak tersenyum. Aneh. Perutnya justru lebih aneh. Ia bisa merasakan seperti ada sesuatu yang berterbangan di perutnya hingga ke ulu hatinya, sesuatu yang belum pernah Varina rasakan sebelumnya. “Nona, wajah Anda memerah. Apa Anda sedang tersipu karena cerita saya?” tegur Nina. Varina langsung menutupi wajahnya dengan tangan. Dan benar saja, wajahnya terasa sedikit panas daripada biasanya. Varina bisa membayangkan, pasti saat ini wajahnya sudah memerah semerah tomat. “Hng … Nina, aku haus. Bisa aku minta tolong padamu untuk membuatkanku orang juice?” Varina mencoba mengalihkan pembicaraan, sekaligus membuat Nina sejenak menjauh darinya. Ia merasa malu dengan reaksinya yang sedikit berlebihan ini. Namun, di sisi lain Varina juga tidak tahu cara untuk menghentikan perasaan aneh di dalam dirinya ini. Nina menatap jail ke arah Varina. Sepertinya pelayan itu merasa senang dengan reaksi yang Varina tunjukkan. “Tentu, Nona.” “Ah … tunggu sebentar!” Nina kembali berbalik, seolah ia tanpa sengaja meninggalkan sesuatu, lalu menyadarinya. “Mungkin sikap Tuan Eden memang tampak dingin di luar. Raut wajahnya datar, atau bahkan kadang terkesan mengerikan. Namun, percayalah, Nona, Tuan Eden tidak seburuk itu! Dia tidak seperti yang orang-orang sana ceritakan! Dia bukan monster! Justru sebaliknya, dia memiliki hati yang hangat dan tanggung jawab pada orang-orang yang setia padanya.” Varina terdiam cukup lama, bahkan hingga Nina benar-benar pergi dari hadapannya. “Benarkah? Dia sebenarnya orang yang baik? Dari tatapan Nina, harusnya dia tidak berbohong. Aku juga tidak merasakan adanya perasaan terancam orang-orang yang tinggal di sini, meski terkadang Eden memang tampak mengerikan,” pikir Varina. “Sebenarnya, seperti apa karakter pria itu? Kenapa aku seperti masih belum benar-benar mengenalnya meski kami sudah tinggal di bawah satu atap yang sama selama beberapa hari ini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD