13 - Rasa Berdebar

2103 Words
“Apa ini?” Eden menatap datar piring di hadapannya. Ada sesuatu yang tampak asing dan nyaris tidak pernah ia temui di pagi hari, tersaji di atas piringnya. “Nasi goreng. Kamu belum pernah makan itu?” heran Varina. Eden tampak menghela napas panjang. “Jadi, kamu yang membuatnya?” Tentu, Varina mengangguk dengan bangga. Ia pikir, jika sop yang baru pertama kali ia buat pun Eden menyukainya, harusnya Eden akan suka dengan sesuatu yang lebih sering Varina masak seperti nasi goreng ini. “Harusnya kamu bertanya dulu pada para pelayan, menu seperti apa yang biasa aku makan untuk sarapanku,” ujar Eden dingin. Senyum cerah yang sejak tadi Varina pamerkan pada seisi penjuru dunia pun perlahan mundur. “Jadi, kamu tidak suka dan tidak akan memakannya?” Varina masih berusaha untuk menahan diri, agar tidak beraksi berlebihan. Lagi pula, ia memang belum cukup mengenal Eden. Mungkin, Eden memang tidak memiliki toleransi kalau soal urusan meja makan. “Kalau kamu tidak mau, tidak masalah. Aku lihat tadi para pelayan sudah masak di dapur. Apa kamu mau aku mengambilkannya untukmu?” Varina memaksakan senyumnya, dan berusaha untuk tampak biasa saja. Ia berusaha paham dengan keadaan Eden, meski pria itu tidak harus mengatakannya. Varina segera bangkit. Ia menghampiri Eden dan berniat untuk mengambil piring yang ada di hadapan Eden. Namun, baru saja ia menyentuh ujungnya, tangan Eden sudah lebih dulu menahan lengannya. “Aku rasa tidak ada salahnya aku mencoba menu lain pagi ini,” kata Eden. Varina menatap wajah suaminya itu. “Nggak papa kalau kamu tidak mau. Lagi pula, ada makanan lain di dapur. Biar aku siapkan untukmu.” “Tidak perlu, Varina. Ucapanku tadi bisa kamu jadikan catatan saja. Dan aku akan tetap memakan makanan yang sudah disajikan di atas piringku. Aku tidak suka menyia-nyiakan makanan, jadi, pergilah ke kursimu sendiri dan nikmati makananmu!” tegas Eden. Varina menggigit bibir bawahnya, merasa sedih sekaligus kecewa terhadap dirinya sendiri. Ya. Dia yang salah, karena tidak lebih dulu bertanya pada para pelayan tentang jenis makanan seperti apa yang biasa disantap Eden di pagi hari. Harusnya ia sudah mulai merasa ada yang janggal ketika melihat Nina tetap memasak, meski Varina sudah sibuk menyiapkan nasi gorengnya. “Maaf, lain kali tidak akan aku ulangi. Aku hanya …” Varina menggantungkan ucapannya. Lidahnya terasa kelu, tapi ia merasa perlu untuk menjelaskan pada Eden. “Aku hanya ingin memamerkan sesuatu yang biasa aku masak sendiri padamu. Aku pikir, mungkin kamu akan menyukainya.” “Bukan masalah. Angkat kepalamu dan makanlah yang benar!” balas Eden. Saat Varina mengangkat kepalanya, hingga kedua bilah matanya bertemu dengan manik gelap Eden, perasaan hangat perlahan melingkupi hati Varina. Wajah Eden tampak lebih tenang dibanding sebelumnya. Alis tebalnya tak lagi menampakkan raut datar yang membuat siapa saja merinding melihatnya. “Cepat makan!” Varina mengangguk. “Kamu juga. Semoga rasanya nggak membuat kamu semakin kesal,” balas Varina. Usai sarapan, Varina pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan sejenak beristirahat di kursi yang ada di depan jendela. Ia melihat, mobil hitam Eden keluar dari pekarangan kastil, lalu menghela napas panjang. “Padahal kami sudah menikah, tapi rasanya aku seperti sedang berbagi tempat tinggal dengan orang asing agar biaya sewa tempat tinggalnya jadi lebih murah,” gumam Varina tanpa sadar. Beberapa menit berikutnya, ia akhirnya menyadari adanya beberapa pesan masuk ke ponselnya. Nama Eden berada di kontak paling atas. Untuk itu, ia pun membukanya pertama. Eden [Nasi goreng buatanmu enak. Aku minta Nina untuk membungkuskannya untuk bekalku makan siang. Lain kali, harusnya kamu yang siapkan bekalku. Menyiapkan bekal suami adalah tugas seorang istri.] [Aku rasa dua atau tiga kali dalam seminggu sarapan dengan nasi goreng akan menarik.] Bibir Varina mengembangkan senyum yang tak mampu dia tahan. Kali ini, perasaan aneh dalam tubuhnya kembali muncul. Bahkan, ia merasa seperti ada sengatan kecil yang membuat perasaan itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Varina merasa … dihargai. Dan ia baru tahu, jika perasaan itu membuat ia seolah terbang tinggi, karena usaha yang telah ia kerahkan tidak berakhir sia-sia. Eden memujinya. Dia mengatakan jika ia menyukai hasil masakan Varina. “Kenapa perasaanku jadi aneh seperti ini, sih? Apa ini efek dari pesan yang Eden kirimkan?” *** Varina adalah orang yang cukup gemar membaca. Apalagi, ia merasa perlu mencari tahu tentang sesuatu di dunia ini. Ia menemukan banyak kemiripan nama tempat yang ada di dunia ini dan juga tempat asalnya. Namun, ia tidak bisa menemukan secara pasti di mana titik koordinat tempat tinggal Dira sebelumnya. Ya. Semua memang mirip, tapi tidak serupa. Dan dikarenakan perpustakaan di kastil ini berada di lantai tiga, tentu Varina tidak berani menginjakkan kakinya di sana. Mengetahui hal itu, Nina pun menawarkan diri untuk menemani Varina pergi ke perpustakaan kota. Sebelumnya, Varina juga sudah meminta izin pada Eden, dan Eden pun langsung memberikan izinnya. “Apa Anda tidak ingin istirahat makan siang dulu, Nona?” tanya Nina yang sejak tadi menemani Varina di perpustakaan kota. Varina menatap jam tangannya. Pantas saja Nina bertanya, karena sekarang bahkan sudah hampir lewat dari jam makan siang pada umumnya. Mungkin, pelayannya itu juga sudah merasa lapar, hanya saja tidak berani mengatakannya langsung pada Varina. “Baiklah. Ayo kita cari makan sebentar! Aku lihat, tadi ada rumah makan yang cukup menarik di seberang jalan. Apa sebaiknya kita makan di sana saja?” usul Varina. “Saya akan mengikuti ke mana pun yang Anda inginkan, Nona. Apa yang ingin Anda makan?” Varina tampak berpikir. “Mungkin akan lebih baik kalau aku memutuskan setelah aku tahu menunya. Jadi, ayo, Nina!” Mereka memutuskan untuk pergi ke rumah makan yang ada di seberang jalan. Nina pergi memesan setelah Varina menentukan pilihannya. Sembari menunggu, Varina pun kembali berusaha mencari petunjuk tentang hubungan antara dunianya sebagai Dira dan dunia ini. Namun, tiba-tiba, ia mendengar suara orang yang memanggil namanya. “Varina!” Varina menoleh. Wajahnya meredup setelah ia sadar siapa yang telah memanggilnya. Pria itu berjalan mendekati Varina. Senyumnya tampak seperti sedang menatap rendah Varina, dan Varina hanya membalasnya dengan tatapan datar. “Jadi, bagian tubuhmu mana saja yang sudah mendapat pukulan dari suamimu itu? Kamu bisa minta bantuanku jika kamu ingin membawanya ke ranah hukum kalau kamu mau. Anggap saja sebagai kompensasi atas pernikahan kita yang batal,” ucap pria itu, yang tak lain adalah Kevin. Varina tahu, saat ini Kevin sedang menghinanya. Lelaki itu akan senang jika tahu Varina menderita dengan pernikahannya. “Apa kamu melihat aku seperti sedang tertekan atau kesakitan, Kevin?” Varina bertanya. Kevin mengangkat kedua bahunya. “Aku sudah mengenalmu lebih dari lima tahun, Varina. Dan selama kita bersama, kamu lebih sering menyembunyikan perasaan sakitmu saat di depanku. Bahkan, saat kamu hampir memergoki aku dan Jocelyn yang sedang bersama, kamu pura-pura percaya padaku meski sebenarnya kamu masih menaruh curiga. Jadi, aku tidak akan tahu meski kamu sedang menyembunyikan luka yang Eden sebabkan padamu.” Meski terkesan biasa saja, tapip Varina bisa merasakan sindiran keras di sana. Kevin tidak sedang mengkhawatirkannya, melainkan sedang ingin meledeknya karena telah menikah dengan sosok yang terkenal misterius dan kejam seperti Eden. Hanya saja, Varina tentu tidak tahu apa-apa soal memori yang Kevin sampaikan itu. Namun, ia merasa seolah tidak asing dengan cerita yang Kevin sampaikan. Ia merasa seperti ada ikatan tersendiri antara dirinya dengan cerita itu. “Oh, benarkah? Seperti itukah aku menurut sudut pandangmu?” Varina berusaha untuk tetap terlihat tenang dan tidak terpengaruh. Sementara Kevin, langsung menyandarkan punggungnya dan semakin meremehkan Varina dengan pandangannya. “Semua orang menganggapmu sebagai sosok yang periang dan ramah. Tapi, aku yang sudah mengenalmu secara dalam selama lebih dari lima tahun ini, tentu saja tahu kalau kamu tak lebih dari seorang gadis yang naif. Kamu tidak sebahagia itu, tapi kamu terus berusaha untuk menutupinya karena tidak ingin semakin kecewa dengan kenyataannya,” terang Kevin. Varina mengangguk. “Soal itu, aku cukup setuju. Aku memang bukan orang yang akan dengan frontal menunjukkan kesedihanku pada orang lain. Tapi soal naif, apa kamu tidak punya cermin di kastilmu, Kevin? Aku pikir kediaman utama Keluarga Havart sangat besar. Jadi, seharusnya kamu memiliki lebih dari satu, kan? Jika tidak, aku akan mencoba meminta pada suamiku untuk mengirimkan cermin yang besar ke kediamanmu.” Senyum di bibir Kevin perlahan memudar. Kali ini, ia menatap Varina dengan lebih serius. Ia tidak lagi meremehkan gadis di depannya itu. “Aku cukup terkejut. Ternyata tinggal beberapa hari dengan monster itu bisa membuatmu pandai bicara juga, ya?” heran Kevin. Kini, giliran Varina yang tersenyum penuh arti pada mantan kekasihnya itu. Ia merasa seperti deja vu, seperti ia pernah dalam keadaan seperti ini sebelumnya. Ada emosi terpendam yang entah dari mana asalnya muncul begitu saja, membuat semua seolah mengalir tanpa bisa ia kendalikan. “Benarkah? Apa mungkin seseorang bisa berubah begitu saja hanya dalam hitungan hari? Bukankah itu cukup aneh, Kevin?” tanya Varina. Kevin mengernyitkan keningnya, tampak bingung dengan ucapan Varina. “Maksudnya?” “Jadi, apa yang kira-kira bisas menjadi penyebab perubahan derastis itu? Menurutmu, apa? Atau memang … bukan aku yang berubah, tapi, sejak awal kamu yang memang sudah salah mengenaliku?” Kevin menatap Varina dengan sengit. Namun, sebelum Kevin melontarkan perkataan yang menyebalkan untuknya, Varina sudah lebih dulu memotong. “Kenapa? Kamu tampak kesal. Aku pikir, kamu sudah bahagia sekarang, dengan perempuan pilihanmu itu.” “Lagi pula, di mana letak kesalahanku? Kan kamu sendiri yang memutuskan untuk menggagalkan pernikahan kita. Aku cukup kaget kamu masih sudi menyapaku setelah apa yang terjadi.” Varina menatap sekeliling dengan tatapan yang dibuat-buat. “Di sini banyak orang. Apa kamu tidak takut akan ada yang curiga dan menganggap kamu menyesal telah meninggalkanku di altar, Kevin? Orang-orang bisa saja salah paham, seperti halnya kamu yang salah paham dengan segala sikapku selama ini.” “Varina …” geram Kevin. Wajah pria itu menegang. Namun, entah kenapa itu tidak berpengaruh sama sekali bagi Varina. Ia tidak merasa terancam sedikit pun, seperti saat Eden yang memperlakukannya dengan serupa. “Oh iya, Kevin!” Varina menahan Kevin saat pria itu beranjak pergi. “Ada satu hal lagi yang perlu aku katakan padamu.” “Terima kasih,” ungkap Varina kemudian, membuat Kevin kembali diam tanpa kata. “Terima kasih karena sudah menggagalkan pernikahan itu. Ternyata, berpisah dari kamu tidak seburuk yang aku pikirkan.” Senyum lebar Varina membuat Kevin mengepalkan tangannya. Pria itu seperti ingin memukul Varina. Namun, tentu tidak bisa ia lakukan mengingat ini adalah tempat umum. Ia pun segera pergi dengan langkah serampangan karena emosi yang berusaha ia tahan setengah mati itu. Deja vu Perasaan ini benar-benar familiar bagi Varina. Wajahnya menegang. Ia berusaha keras untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi, dan dari mana perasaan ini muncul. “Nona, Anda tidak papa? Saya lihat tadi Tuan Kevin ke sini. Apa dia melakukan sesuatu yang menyakiti Anda? Apa saya perlu memanggil orang untuk menjaga Anda?” panik Nina. Varina menggeleng. “Tidak perlu. Aku baik-baik saja.” Varina terlalu sibuk dengan pikirannya, sehingga tidak punya waktu untuk membahas masalah itu dengan Nina. Kepalanya berdenyut. Ia masih terus berusaha mengumpulkan potongan-potongan puzzle yang bersebaran di kepalanya. Kevin Havart, kekasihnya yang berhianat dan memiliki hubungan dengan kakak tirinya. Jocelyn Cottonbriss, kakak tirinya yang ternyata memiliki rencana busuk dengan kekasih Varina untuk menjatuhkan Varina bersama-sama. Jocelyn dan ibunya yang berusaha menguasai harta ayah Varina setelah Beliau meninggal. Semua ini tampak begitu familiar. “Nona …” “Nona, apa Anda baik-baik saja?” “Astaga, Nona!” Nina semakin panik saat melihat tubuh Varina sempoyongan. Sorot mata istri majikannya itu tampak kosong. Ia pun segera membantu Varina untuk kembali ke mobil. “Saya harus membawa Anda ke rumah sakit!” seru Nina. Varina menahan lengan Nina. Ia menatap Nina dengan tatapan yang rumit. “Tunggu sebentar, Nina!” “Tapi, Nona-” “Kevin … Jocelyn … apakah kalian adalah Viro dan Kania?” Varina akhirnya ingat. Dua karakter itu sangat mirip dengan kekasih dan kakak tirinya di kehidupan nyata. Love-line nya pun begitu mirip. Dia dan Varina yang asli, ternyata memiliki nasib serupa soal asmara - dihianati oleh kekasih dan kakak tirinya yang jahat dan haus akan harta kekuasaan. Keduanya selingkuh di belakangnya, lalu semua terbongkar setelah kematian ayahnya. Dira dan Varina, juga kehilangan ayahnya di waktu yang hampir bersamaan, dengan keadaan yang mirip pula. Dira dan Varina, juga memiliki ibu dan kakak tiri yang jahat dan berusaha menguasai harta ayahnya. “Ada apa ini sebenarnya? Kenapa ada terlalu banyak kebetulan antara diriku dan sosok Varina yang asli?” “Apa ada sesuatu yang menghubungkan antara aku dan pemilik raga ini? Kenapa garis takdir kita seolah sama?” “Apakah … ini yang disebut dunia paralel? Jadi, ini bukan sekadar novel belaka, tapi aku telah masuk ke dunia paralel dan menjalani garis takdir yang sama, dengan orang-orang yang berbeda?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD