Varina terbaring lemah di kamar, tubuhnya terasa panas. Demam yang datang mendadak membuatnya merasa tidak berdaya. Sejak tadi ia hanya bisa terkulai lemah. Suasana kamar yang sunyi tak banyak memberinya kenyamanan. Ia hanya memejamkan mata, berharap keadaan akan membaik secepatnya. Di luar kamar, Eden tengah duduk di ruang makan, menyantap makan malamnya dengan ekspresi yang tak bisa terbaca. Para pelayan menunduk hormat, melayani dengan cepat. Seperti biasa, Eden tidak banyak bicara, tetapi kali ini, dia terlihat lebih cemas dari biasanya. Setelah selesai makan, dia berjalan ke arah para pelayan dan berhenti di depan Nina. "Nina," suara Eden terdengar tegas dan jelas, membuat Nina langsung berdiri tegak. "Ya, Tuan Eden?" jawab Nina dengan sopan. "Kenapa Varina tidak datang ke meja ma

