06 - Kastil Tua

1042 Words
"Inilah tempat yang akan menjadi rumahmu mulai hari ini," ucap pria berwajah dingin di samping Varina. Varina sempat menoleh ke samping, sebelum akhirnya tarapannya beralih ke bangunan tua di depan sana. Malam telah larut ketika mobil mereka berhenti di depan kastil tua itu. Varina menatap bangunan megah dengan nuansa klasik itu, dinding putih kusam yang mulai dimakan usia, serta jendela-jendela tinggi yang terlihat seperti menyimpan rahasia dari masa lalu. Lampu-lampu di bagian luar memberikan cahaya temaram, menciptakan bayangan yang tampak lebih besar dan lebih menyeramkan dari aslinya. Ia menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan sebelum membuka pintu mobil dan melangkah turun. Eden yang berdiri di sampingnya melirik sekilas sebelum akhirnya bertanya dengan nada datar, “Apa kau menyesal?” Varina mengangkat alis, menoleh ke arahnya. “Menyesal?” “Ya.” Eden memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, bahunya sedikit terangkat dalam gestur santai. “Aku yakin kamu membayangkan kehidupan berbeda saat menikah dengan pria dari keluarga Havart. Bukannya tinggal di kastil tua yang bahkan tak dirawat seperti ini. Tapi ... memang inilah tempat tinggalku selama ini.” Varina terdiam sejenak, menatap kastil itu dengan lebih saksama. Memang benar, bangunan ini terlihat jauh dari kesan kemewahan seperti di kediaman utama keluarga Marquess Havart. Cat pada beberapa bagian tembok tampak pudar, sebagian tanaman merambat sudah menguasai sisi luar dinding pagar. Namun, entah kenapa, tempat ini terasa… hidup. “Aku tidak menyesal,” jawabnya akhirnya. Eden menoleh cepat, seakan tidak percaya dengan jawaban itu. “Kamu yakin? Aku rasa kamu berpikir terlalu cepat.” “Kenapa? Kau berharap aku menangis dan merajuk karena tidak tinggal di kastil megah?” Varina mendekat, matanya menatap lurus ke mata Eden. “Tempat ini… klasik, tapi ada kehangatan yang aneh di dalamnya. Seperti rumah sungguhan. Tidak seperti kastil keluarga Havart yang hanya berisi manusia bertopeng dan tipu daya.” Eden tidak segera menanggapi. Ekspresinya tetap datar, tapi ada sesuatu dalam sorot matanya—sebuah kilasan emosi yang sulit dibaca. Ia lalu berbalik tanpa berkata apa pun dan berjalan ke arah pintu utama. Varina menghela napas pelan sebelum mengikuti di belakangnya. Begitu mereka melewati pintu besar yang terbuat dari kayu oak tua, udara di dalam terasa sedikit lebih hangat. Ruang utama cukup luas, dengan perabotan antik yang tampak masih terawat meski tertutup sedikit debu. Lampu gantung kristal di langit-langit memberikan cahaya lembut, menambah suasana misterius di tempat itu. Seorang pelayan tua muncul dari dalam, membungkukkan badan dengan hormat. “Selamat datang kembali, Tuan Eden.” Eden hanya mengangguk kecil. “Siapkan kamar untuk Nona Varina!" Pelayan itu tampak sedikit terkejut, tapi ia langsung menunduk patuh. “Baik, Tuan.” Varina yang mendengar itu mendadak menghentikan langkahnya. “Kamar?” Eden menoleh dengan ekspresi tanpa emosi. “Ya.” "Kenapa bisa kamarku baru akan disiapkan?” Eden mengangkat alis. “Aku tidak pernah mengatakan kita harus berbagi kamar.” Belum sempat menjawab, seorang pelayan lain muncul, dan langsung menghampiri Varina. “Selamat datang, Nona Varina,” ucap seorang pelayan wanita itu. “Kami telah menyiapkan kamar untuk Anda. Mohon izinkan kami membawa barang-barang Anda.” Sebelum Varina sempat menjawab, para pelayan itu sudah dengan cekatan mengangkat koper dan barang bawaannya, lalu berjalan lebih dulu ke lantai atas. Varina mengerutkan kening, agak terkejut dengan kecepatan mereka bekerja. “Ah… terima kasih,” katanya, meski terlambat. Ia mengikuti langkah mereka menaiki tangga lebar yang terbuat dari kayu mahoni tua, dengan pegangan tangga yang diukir rumit. Saat sampai di lantai dua, pelayan itu berhenti di depan salah satu kamar dengan pintu ganda yang tampak mewah. “Sesuai instruksi, kamar ini telah disiapkan untuk Anda, Nona,” ujar pelayan wanita senior tadi sambil membukakan pintu. Varina melangkah masuk dan mendapati sebuah kamar luas dengan nuansa klasik. Tempat tidurnya besar dengan kelambu tipis, ada meja rias antik di sudut ruangan, serta jendela tinggi dengan tirai beludru merah yang menambah kesan elegan. Namun, ada satu hal yang membuatnya bingung. “Kamar ini… bukan kamar Eden?” tanyanya ragu, menoleh ke para pelayan. Para pelayan itu tampak saling pandang, seakan ragu untuk menjawab. Salah satu dari mereka akhirnya membuka mulut, “Sebenarnya, Tuan Eden—” “—tidak terbiasa berbagi kamar dengan siapa pun.” Suara berat itu datang dari ambang pintu. Varina menoleh dan mendapati Eden berdiri di sana dengan ekspresi santai. Ia bersandar pada kusen pintu dengan tangan terlipat di d**a, masih mengenakan setelan pernikahannya yang sedikit berantakan—dasinya sudah dilepas, kancing atas kemejanya terbuka, memperlihatkan sedikit kulit di leher dan dadanya. Para pelayan langsung menundukkan kepala sebelum perlahan mundur, meninggalkan mereka berdua. Varina menatap Eden dengan tatapan penuh tanya. “Jadi … kita benar-benar tidak akan tidur sekamar?” Eden menatapnya beberapa detik sebelum menyeringai kecil. Ia melangkah masuk ke kamar, mendekatinya dengan langkah santai. “Kamu terdengar kecewa,” ujarnya, suaranya dalam dengan nada menggoda. Varina langsung tersentak. “A-apa?” Bukankah wajar jika Varina bertanya demikian? Di dalam kehidupannya yang sebelumnya, biasanya pasangan suami istri akan tidur dalam satu kamar yang sama. Ia tahu pernikahannya dengan Eden adalah sesuatu yang tidak terduga. Pernikahan ini terjadi bukan karena cinta. Namun, tetap saja terasa aneh bagi Varina saat ia tahu akan tidur di kamar yang berbeda dengan suaminya. Eden semakin mendekat, hingga jarak mereka hanya beberapa inci. Matanya yang tajam menatap langsung ke matanya, menciptakan ketegangan yang membuat jantung Varina berdebar lebih cepat dari seharusnya. “Apa kamu ingin tidur sekamar denganku, Varina?” bisiknya, suaranya terdengar seperti tantangan. Varina bisa merasakan panas merambat ke wajahnya. Ia membuka mulut untuk membalas, tapi tidak ada kata yang keluar. Melihat reaksinya, Eden tertawa kecil. “Hm … sepertinya tidak. Atau justru iya?” Varina buru-buru mundur selangkah dan memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah. “Bukan itu maksudku!” serunya cepat. “Aku hanya … kupikir pasangan suami-istri seharusnya…” Eden mengangkat alis. “Seharusnya apa?” “Lupakan saja!” Varina cepat-cepat berbalik, berjalan ke arah pintu dan menutupnya dengan cepat sebelum Eden bisa mengucapkan sesuatu lagi. Klik! Ia mengunci pintu dari dalam, lalu bersandar di sana sambil menghela napas panjang. Dari luar, ia bisa mendengar suara tawa pelan Eden. “Selamat malam, Varina,” katanya dengan nada menggoda sebelum langkah kakinya menjauh. Varina memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Pernikahan ini baru dimulai, tapi kenapa rasanya ia sudah kalah dalam permainan ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD