07 - Pria Misterius

1140 Words
“Kami telah menyiapkan sarapan di ruang makan. Tuan Eden menunggu Anda di sana.” Kalimat itu menjadi yang pertama Varina dengar ketika pintu kamarnya terbuka di pagi hari. Varina terdiam sejenak. “Dia sudah bangun?” Pelayan itu mengangguk. “Tuan Eden biasanya bangun lebih awal.” Varina hanya mengangguk sebelum bangkit dari tempat duduknya. “Baik, aku akan turun.” Saat memasuki ruang makan, Varina melihat Eden sudah duduk di ujung meja panjang, menikmati secangkir kopi hitam. Ia tampak rapi dalam kemeja putih, meskipun bagian atasnya tetap terbuka seperti biasa. Tatapannya terangkat saat melihat Varina masuk. “Kamu terlambat.” Varina mendelik. “Aku tidak tahu kalau di rumah ini ada aturan jam sarapan.” Eden mengangkat bahu. “Tidak ada. Hanya saja, aku tidak terbiasa menunggu orang.” Varina mendesah, lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya. Pelayan segera menuangkan teh ke dalam cangkirnya dan menyajikan roti panggang, telur, serta beberapa potong buah. Beberapa saat berlalu dalam keheningan sebelum Eden berbicara. “Aku harus pergi hari ini.” Varina berhenti memotong rotinya dan menatap Eden. “Ke mana?” “Ada urusan di kota,” jawab Eden santai. “Aku tidak tahu kapan akan kembali.” Varina menatapnya dengan curiga. “Apa ini kebiasaanmu? Pergi begitu saja tanpa memberi tahu istrimu?” Eden terkekeh, meletakkan cangkir kopinya. “Kita menikah bukan karena cinta, Varina. Kamu tidak perlu tahu semua kegiatanku.” Varina mendecak kesal. “Jadi, aku dibiarkan sendiri di kastil ini?” Eden menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapnya dengan ekspresi menilai. “Ini bukan tempat yang berbahaya. Selagi kamu bisa menjaga sikap, kamu tidak akan mati konyol di sini.” Varina mendengus. “Kamu bicara seolah kastil ini hutan belantara.” Eden tersenyum tipis. “Bisa dibilang begitu. Ada banyak ruangan yang bahkan aku sendiri jarang kunjungi.” Varina menggigit bibirnya, merasa semakin penasaran. “Kenapa? Apa ada ruangan terlarang di sini? Apa mungkin ... ada tempat yang berbahaya?” Mengingat kastil ini memiliki tiga lantai, dan satu lantai bawah tanah, sepertinya dugaan Varina tidak berlebihan. Eden tertawa kecil, suaranya dalam dan menggoda. “Hm… mungkin saja.” Varina mengerutkan kening. “Jangan bercanda! Lagi pula di sini ada beberapa pelayan. Tidak mungkin ada tempat semengerikan itu di sini.” “Aku tidak bercanda,” Eden menatapnya lekat-lekat. “Tapi kalau kamu memang suka tantangan, silakan jelajahi kastil ini. Hanya saja…” Ia mendekat sedikit, suaranya merendah. “Jangan terlalu penasaran dengan sesuatu yang tampak asing bagimu.” Varina merasa bulu kuduknya berdiri. Ada sesuatu dalam nada suara Eden yang membuat peringatan itu terdengar lebih serius daripada yang seharusnya. Namun, ia bukan tipe wanita yang mundur hanya karena kata-kata samar. “Aku bisa menjaga diri,” balasnya. Eden menyeringai. “Kita lihat saja nanti.” Ia lalu berdiri, meneguk sisa kopinya dalam satu tegukan sebelum mengambil jasnya yang tergantung di kursi. “Kalau kamu butuh sesuatu, minta saja pada pelayan.” Varina mendesah. “Ya ya. Aku tahu itu.” Eden menatapnya sekilas, lalu tersenyum kecil. Kemudian, ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan, meninggalkan Varina sendirian di ruangan dengan sebuah meja besar dan panjang di ruangan itu. Setelah sarapan dengan suasana yang tegang, Varina tak mampu lagi membendung rasa penasaran yang sudah ia tahan sejak semalam. Kastil ini berukuran sangat besar, meski tak sebesar kastil utama Keluarga Havart, tempat ia menikah kemarin. Ada banyak hal yang ingin Varina lakukan di sini. Namun, tentunya hal pertama yang ingin ia lakukan adalah berkeliling dan mengenal tempat-tempat di dalam hunian klasik ini. Langkah pertama yang ia ambil membawanya ke lorong yang lebih gelap di lantai tiga. Lorong itu penuh dengan lukisan-lukisan lama dan benda antik yang tampak seperti menunggu untuk diceritakan kisahnya. Salah satu lukisan menarik perhatian Varina. Seorang pria tampak dalam lukisan itu, wajahnya agak samar, tetapi matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. “Apa ini? Kenapa rasanya begini… ada sesuatu yang aneh di sini,” gumamnya pelan. Lalu, tangan Varina meraih sebuah bingkai foto hitam putih. Ia melihat sosok yang familier di foto itu. Ia yakin, anak laki-laki kecil yang berada di tengah gambar itu adalah Eden. Dan dua orang di sisinya, maka adalah kedua orang tuanya. "Aku baru sadar. Aku sampai tidak tahu di mana keluarganya saat ini," gumam Varina. "Kemarin adalah hari pernikahan kami. Bukankah seharusnya mereka ada di sana? Atau jangan-jangan ... mereka sudah meninggal?" Tampa Varina sadari, ia sudah berjalan lebih jauh dari ruang utama, menyusuri lorong sempit yang terasa semakin sunyi. Di ujung koridor, sebuah pintu terkunci tampak mencolok. Pintu itu berbeda dari pintu-pintu lainnya yang terlihat lebih terbuka dan ramah. Penasaran, Varina berusaha mendekat, lalu menyentuh gagangnya. Ia lupa dengan peringatan Eden sebelumnya. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mendekat, dan Varina berbalik cepat. “Varina.” Suara Eden terdengar dingin dan tegas. Varina menatapnya dengan sedikit terkejut. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Eden, langkahnya mantap. “Cuma melihat-lihat,” jawab Varina, berusaha terdengar santai meskipun hatinya mulai berdebar. Eden mendekat dengan tatapan yang tajam, hampir menembus. “Ada tempat-tempat di kastil ini yang tidak perlu kamu jelajahi.” Varina mengernyit, merasa ada yang tidak beres. “Kenapa? Aku hanya lewat di sini.” Eden berdiri tegak di depan pintu yang tampak begitu kokoh. “Kamu tidak perlu tahu lebih banyak. Cukup.” Varina bisa merasakan ada sesuatu yang tersembunyi, tapi dia tak berani bertanya lebih lanjut. “Apa ini salah satu ruangan yang tidak bisa aku kunjungi?” Eden hanya menatapnya, tanpa berbicara lebih banyak. Tatapannya kaku, matanya sedikit menyipit. “Aku bilang, tidak ada yang perlu kamu tahu. Lagi pula, tidak seharusnya kamu menginjakkan kakimu di lantai ini. Apa para pelayan bodoh itu tidak memberi tahumu tentang hal ini?" Varina menghela napas, sedikit frustasi karena jawaban yang tidak memuaskan. “Kenapa kamu harus bersikap seperti itu? Aku cuma ingin tahu lebih banyak tentang tempat ini.” Eden mengangkat alis, suaranya tetap tegas dan rendah. “Sepertinya aku memang harus memberikan hukuman pada para pelayan ceroboh itu.” Mata Varina membulat. Ia tidak ingin membuat orang lain berada dalam masalah karenanya. Varina pun refleks menahan lengan Eden. "Tidak! Jangan! Mereka tidak salah apa-apa. Aku ke sini tanpa sepengetahuan mereka. Jadi, aku lah yang bersalah di sini," ucap Varina. Eden menatap Varina dingin, seolah hatinya tak sama sekali tergerak untuk melupakan kesalahan yanh telah dilakukan oleh Varina. "Jadi apa?" "Y- ya?" Varina mengernyitkan alisnya. "Kamu mau menggantikan hukuman para pelayan itu?" Mata Varina membulat sempurna. Tangannya yang semula berada di lengan Eden, seketika turun. Kakinya sedikit bergetar. Suara Eden bak ancaman besar bagi dirinya. "K- kamu ... kamu benar-benar ingin menghukumku?" tanya Varina ragu. Eden seolah tak gentar. Menatap Varina dengan penuh penghakiman, tanpa simpati sedikit pun. "Aku akan menghukum siapa saja yang bersalah karena telah membiarkanmu datang ke sini," jawab Eden tegas. "Jadi, pilihlah satu. Kamu atau para pelayan itu yang harus mendapat hukuman dariku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD