Suasana di dalam ruang pribadi kantor ELVARÉ begitu hening, kontras dengan kegaduhan di luar. Bau aromaterapi lavender yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan bagi Dialta. Pria itu duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Sena yang masih terasa dingin, sementara matanya tidak sedetik pun beralih dari wajah pucat istrinya. Di sampingnya, Dokter spesialis dari Pratama Hospital yang jelas didatangkan oleh Arsean, baru saja menyelesaikan pemeriksaan fisik singkat dan memeriksa hasil tes cepat yang dibawa tim medisnya. Dialta menoleh, tatapannya tajam dan mengintimidasi, seolah-olah sang dokter akan ia salahkan jika memberikan jawaban yang tidak memuaskan. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada istrinya. Tidak. Dia tak ingin kehioangan Arsena. Pikiran jelek sudah ia

