53

1765 Words

Cengkeraman Sena pada lengan Dialta terasa begitu rapuh dibandingkan dengan ketegangan otot yang ia rasakan di balik kemeja pria itu. Sena bisa merasakan denyut nadi Dialta yang memacu cepat, sangat kontras dengan ekspresi wajahnya yang seolah membeku menjadi es. "Mas, jangan pergi..." bisik Sena parau. Ia tahu betul, jika Dialta melangkah keluar dari kamar ini dengan tatapan seperti itu, maka hari esok tidak akan pernah sama bagi seseorang di luar sana. Dialta berhenti. Ia tidak menoleh sepenuhnya, hanya memiringkan wajahnya sedikit sehingga cahaya lampu temaram meja rias menonjolkan rahangnya yang mengeras. Tangan besarnya naik, mendarat di puncak kepala Sena. Jemarinya mengelus rambut istrinya dengan kelembutan yang menyakitkan. Disini dirinya masih berusaha untuk bisa menahan amarahn

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD