Lantai marmer yang dingin seolah tak lagi terasa di telapak kaki Sena yang polos. Ia terus mondar-mandir di tengah kemegahan kamar utama mereka, yang kini terasa begitu sunyi dan mencekam. Sena masih mengenakan pakaian yang seharusnya menjadi kejutan manis untuk suaminya malam ini—sebuah gaun tidur velvet berwarna hijau sage yang mewah. Bahan beludru yang lembut itu berkilau samar terkena cahaya lampu tidur, memeluk lekuk tubuhnya dengan pas. Aksen renda berwarna krem yang rumit menghiasi bagian d**a dan sepanjang keliman bawah gaun pendeknya, memberikan kesan rapuh sekaligus menggoda. Jubah senada yang tersampir di bahunya sesekali merosot, menampakkan bahu putihnya yang kini dipenuhi bintik-bintik halus karena hawa dingin dan rasa cemas yang menggigit. "Kak Sean... Kak Senio... tolong.

