27

1363 Words

Lampu balkon hotel menyala redup. Dialta masih berdiri di sana—kemeja gelap terbuka dua kancing, mantel yang tadi ia kenakan, tergantung di sandaran kursi. Laptop terbuka di meja kecil, deretan grafik, jadwal rapat, dan flight reschedule berjejer rapi. Rokok menyala di tangan kanannya, asap tipis naik lalu lenyap tertiup udara malam dan dingin Toronto. Di balik kaca, Sena tertidur di kasur besar. Tubuh kecilnya meringkuk, napasnya teratur. Dialta sempat menoleh ke sana—sekilas saja—lalu kembali fokus ke depan. Ia sengaja mempercepat pekerjaan. Jadwal yang seharusnya selesai dalam empat hari lagi. Dia kebut agar bisa selesai lebih cepat. Ia sudah menggeser semuanya. Dan lusa harus, pulang. Mau tidak mau. Bisa atau tidak. Itu sudah keputusan yang tak bisa di ganggu-gugat. Terlebih ini adal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD