Pagi Toronto menyelinap masuk lewat celah tirai tipis. Cahaya pucat memantul di dinding kamar hotel saat Sena perlahan membuka mata. Butuh beberapa detik sampai kesadarannya benar-benar utuh—sampai pandangannya menangkap satu sosok yang duduk tenang di sofa dekat jendela. Cahaya pagi yang menyinari wajah tampan itu, membuatnya semakin tampan karena biasan cahaya. Eh... Kek malaikat aja. Tapi bukan malaikat pencabut nyawa ya... Tidak. Wajah Dialta tak seseram itu. Ya... Dialta. Sudah berpakaian rapi. Kemeja gelap yang disetrika sempurna, jas tipis terlipat di sandaran sofa, jam tangan mahal melingkar tegas di pergelangan tangan kirinya. Di tangannya, sebuah iPad. Posturnya lurus, fokus, dingin seperti biasa. Kontras total dengan Sena yang masih terbalut selimut, rambut pirangnya acak-ac

