Langkah kaki Dialta yang baru saja keluar dari ruang kerja Abimana terasa berat dan penuh wibawa. Setelah berdiskusi panjang lebar dengan sang Papa, kini Dialta ingin mengistirahatkan tubuhnya. Aroma cerutu sang papa masih samar menempel di jas mahalnya yang memang belum ia ganti sejak datang ke mansion kedua orang tua angkatnya, sementara benaknya masih memproses diskusi bisnis yang baru saja selesai. Namun, ketenangan itu hancur seketika saat ponsel di saku celananya bergetar pelan. Dialta semoat mengernyit. Siapa yang menghubunginya malam-malam begini. Apa mungkin Reksa, sang asisten yang memang dia tinggalkan sejak makan siang tadi? Tapi setahunya tak ada masalah serius di perusahaannya. Dialta juga percaya jika Reksa mampu menyelesaikannya. Tanpa berpikir lagi, ia merogoh ponselnya,

