37

1349 Words

Mobil melaju dengan keadaan sunyi untuk para penumpangnya. Riunya jalanan di luar tak mampu mengganggu mereka yang sama-sama diam dengan pikirannya. Mesin berdengung halus, AC bekerja stabil, tapi di dalam kabin—udara seolah menggantung berat. Dialta fokus ke jalan. Tangannya mantap di kemudi, rahangnya mengeras, sorot matanya lurus ke depan. Tak menoleh sedikitpun dan tak mengeluarkan suaranya sekecap saja. Sena duduk di kursi penumpang, bahunya sedikit menunduk. Kedua tangannya bertaut di pangkuan, jari-jarinya saling meremas tanpa sadar. Pikirannya riuh—potongan wajah Andro, nada suaranya, cara Dialta berdiri di depannya… semua berkelindan, menyesakkan. Tak ada yang membuka suara. Mungkin mereka masih sama-sama meraba harus apa, harus bagaimana. Mereka sampai di perempatan jalan.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD