36

1544 Words

Sena berdiri di depan wastafel marmer dengan warna hijaunya, lampu putih kekuningan memantul lembut di cermin besar toilet restoran itu. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri—sedikit berantakan, dengan rambutnya yang sedikit acak, wajahnya yang memerah, dan bibirnya yang sudah pudar. Tangannya terangkat, mengoleskan kembali lipstik tipis ke bibirnya yang tadi nyaris bersih tak bersisa. Bagaimana tidak. Lipstik yang sempurna mendadak ambyar pekara suaminya yang langsung melahab habis bibirnya. Eh... Sena mendengus pelan. Sambil merapikan rambutnya. Menatanya kembali. “Ganas banget suami gue kalau urusan cipokan,” gerutunya lirih, nyaris tak terdengar selain oleh dirinya sendiri. Tapi tetap saja ada senyum tipis di bibirnya. Karena bagaimana pun belaian seorang Dialta benar-benar mengobra

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD