31

1393 Words

Sena menatap Dialta dengan sorot yang bisa membunuh pria itu secara perlahan. Tatapan memicing namun tak bisa berbuat banyak karena masih ada dua kakak kembarnya di sini. Mau teriak-teriak malu. Mau berantem pun juga percuma kalau yang di ajak berantem malah kaku seperti ini. Benar-benar… menyebalkan. Tangannya mencubit lengan suaminya yang masih melingkar di pinggangnya. Tak ada dosa saja berlaku seperti ini. “Alta,” desisnya tertahan, “kamu tuh sengaja, ya?” Dialta menoleh sekilas. Datar. Tenang. Seolah duduknya Sena di pangkuannya adalah hal paling normal sedunia. Bahkan tak mengganggu pandangan dua pria di hadapannya. “Sengaja apa?” “Ini!” Sena menunjuk posisinya sendiri dengan dagu. “Kamu nggak malu apa diliat dua orang di depan kamu? Dua kakakku di depan mata, tahu!” Sean bersiu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD