87

1646 Words

Bunyi detak tongkat kayu Dialta yang beradu dengan lantai semen dingin bergema di sepanjang lorong bawah tanah markas Bramasta. Pencahayaan di tempat itu temaram, hanya lampu neon redup yang berkedip-kedip, menambah kesan mencekam. Udara di sini terasa pengap, berbau besi dan lembap. Arsean dan Arsenio berjalan di sisi kiri dan kanan Dialta, menjaga langkah pria itu yang sesekali masih tampak goyah. Namun, meski langkahnya belum stabil, sorot mata Dialta telah kembali—tajam, sedingin es, dan mematikan. Sisa-sisa kehangatan yang tadi ia tunjukkan pada Sena di rumah, telah terkunci rapat di balik pintu markas ini. "Kamu yakin, Alta? Tubuhmu bahkan belum sanggup berdiri lebih dari lima belas menit tanpa bantuan," bisik Arsean pelan, tangannya bersiap menahan lengan Dialta jika pria itu tiba

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD