85

1594 Words

Ketukan pintu yang teratur menghentikan tawa Arsean. Sosok pria dengan jas putih rapi dan stetoskop yang melingkar di lehernya melangkah masuk. dr. Arslan datang dengan raut wajah yang jauh lebih santai dibandingkan beberapa hari lalu. Ia membawa sebuah tablet medis, mencatat perkembangan vital Dialta yang terpampang di monitor di samping ranjang. "Sepertinya bubur sumsum buatan istri memang obat paling manjur di rumah sakit ini," goda Arslan sambil melirik mangkuk yang sudah kosong. Ia kemudian melakukan pemeriksaan rutin; mengecek refleks pupil, denyut nadi, hingga kekuatan motorik di jari-jari tangan Dialta. Arslan menoleh ke arah Arsean yang berdiri di ujung ranjang. "Sean, kondisi stabilisasi hemodinamiknya sudah sangat bagus. Tekanan intrakranialnya normal, dan tidak ada tanda-ta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD