83

1345 Words

Dunia seolah melambat saat pintu itu terbuka sepenuhnya. Di atas ranjang rumah sakit yang dingin, sosok yang selama enam puluh hari ini hanya bisa Sena sentuh dalam diam, kini menatapnya. Matanya sayu, memerah, namun ada binar kehidupan yang sangat nyata di sana. "Mi amor..." Suara itu terdengar parau, pecah, dan kering—seperti gesekan kertas di atas aspal—namun bagi Sena, itu adalah melodi terindah yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Sena terpaku di kursi rodanya, tangannya mencengkeram erat pegangan kursi hingga buku jarinya memutih. Apakah ini nyata? Ataukah pikiranku sedang mempermainkanku lagi karena aku terlalu merindukannya? Batin Sena yang terus menggema di dalam pikirannya. Sesuatu yang ia tunggu beberapa hari dari awal Dialta tertidur. Dan saat ini, semua kembali, rasa syu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD