82

1787 Words

Tampak di sebuah tempat yang jauh dari hingar bingar, Dialta berdiri di tengah hamparan rerumputan hijau yang membuat segar mata saat memangdangnya dengan cahaya sinar yang lembut. Tidak ada rasa sakit dari luka yang ada di tubuhnya, tidak ada bunyi bising kehidupan yang menyesakkan, dan tidak ada rasa lelah dalam dirinya. Semuanya terasa tenang, ringan, dan damai. "Kenapa lo masih di sini?" Suara itu membuat Dialta menoleh. Di sampingnya, duduk seorang pemuda dengan wajah berseri, mengenakan pakaian putih bersih yang tampak bersinar lembut tertimpa cahaya. Dialta tertegun. Wajah itu... wajah yang selama bertahun-tahun menghantui mimpinya dengan rasa bersalah yang mematikan. Wajah yang mengharuskannya menebus semua kesalahan yang pernah ia buat. "Rama?" bisik Dialta tak percaya. Ram

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD