Sudah tujuh hari berlalu sejak malam berdarah itu, namun bagi Sena, waktu seolah berhenti di detik saat Dialta memejamkan mata. Koridor VVIP Pratama Hospital kini menjadi saksi bisu bagaimana seorang putri dari Klan Bramasta benar-benar berada di titik terendahnya. Sena duduk di kursi roda dengan selang infus yang menjuntai dari punggung tangannya, wajahnya yang dulu berseri kini tampak cekung dan pucat pasi. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah kaca besar ruang ICU, ia tak berpaling sedetik pun dari sana seolah takut jika ia berkedip, Dialta akan pergi selamanya. Calla yang selalu berada di dekat Sena beberapa hari ini, berlutut di depan kursi roda adik iparnya itu, memegang mangkuk bubur yang uapnya sudah menghilang—menandakan jika mangkok tersebut sudah cukup lama berada di tanga

