Aku tak berani menoleh sedikit pun ke arah Mas Rama yang fokus menyetir. Seperti patung, aku hanya diam menatap jalanan beraspal yang terlewati. Mas Rama pun sepertinya enggan bertanya. Entah apa yang dipikirkannya detik ini. Aku benar-benar tak paham dengan sikapnya yang terlalu sulit ditebak. "Kenapa diam saja?" Pertanyaan itu membuatku tersedak seketika. "Masa harus nyanyi-nyanyi, Mas?" Aku menoleh lalu buru-buru kembali menatap ke luar jendela saat tak sengaja bersirobok dengannya. Spot jantung rasanya berhadapan dengan lelaki misterius itu. "Masih digangguin ibu-ibu itu?" Aku berpikir sejenak. Kenapa Mas Rama bisa bertanya seperti itu? Apa benar dugaanku jika perubahan sikapnya memang karena mulut ibu-ibu itu yang nggak ada filternya? "Nggak kok, Mas. Semua baik-baik saja."

