Rafqa baru saja terlelap setelah menyantap makan siangnya. Perlahan kututup pintu kamar, nyaris tanpa suara agar tak mengganggu jagoan kecil itu. Rasa haus dan lapar membuatku sedikit tergesa ke dapur. Telur balado, tempe mendoan dan ikan patin goreng masih utuh di meja makan. Sepertinya Mas Rama belum menyentuh makanan itu secuil pun. Apa gara-gara penolakanku tadi membuatnya kembali marah dan dingin seperti sebelumnya? Jika memang iya, terserahlah. Aku tak peduli, yang penting fokus kerja dan cari uang untuk mewujudkan mimpi bapak dan Emak. Aku nggak mau ambil pusing soal Mas Hasbi maupun Mas Rama. "Ri, Rafqa mana?" Mas Hanif muncul dari arah tangga dengan senyum lebarnya. "Baru saja tidur siang, Mas." Aku tersenyum tipis lalu kembali menikmati makan siangku. "Rafqa sudah makan

