Siapa Chaerin itu?

1085 Words
Pagi-pagi sekali, Chaerin sudah tidak ada di kamar. Baju-bajunya juga sudah tidak ada, ke mana kah, dia? Dia sudah duduk di pesawat bersama nenek yang menjemputnya dari Indonesia. Nenek dari ibu Chaerin. “Nek, eoma yang menyuruhmu menjemputku?” Tanya Chaerin. “Anak nakal, ibumu itu hanya punya kamu sebagai tumpuan masa tuanya. Kalau tidak baik dan memikirkanmu, bagaimana dia bisa datang padamu kelak?” Penjelasan yang masuk akal. Tapi, menyuruh nenek tua ke sana ke mari sampai melintasi negara. Apa itu baik? “Tetap saja, eoma seharusnya menyuruhku saja. Tidak dengan memintamu datang ke sini. Lihatlah dirimu yang sudah tua ini.” Chaerin tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Dia memeluk erat neneknya hingga mendarat di bandar udara Sukarno Hatta. Kala itu langit sudah gelap, perjalanan yang memakan waktu hingga delapan jam itu membuat Chaerin tidak sanggup lagi. “Nak, rumah nenek sudah tidak jauh lagi. Tahan sebentar, baru lanjut istirahat.” Oceh nenek di dalam taksi. “Ya nek,” “Ingat, jangan menggunakan bahasa Koreamu di Indonesia. Kamu nanti di sangka idol di sana.” Pesan nenek pada Chaerin. Beruntung, saat di Korea Chaerin punya guru yang sangat baik. Sonia. Perjalanan delapan jam di atas udara dan setengah jam di darat. Membuat Chaerin benar-benar tepar. Chaerin melupakan makan malamnya, dia langsung tidur hingga pagi. “Pagi nenek, masa apa hari ini?” tanya Chaerin yang sudah cantik dengan baju kerjanya. “Kamu mau kemana?” tanya neneknya kaget. “Interview nek. Kemarin aku melamar pekerjaan lewat internet, dan sekarang sudah ada panggilan kerja.” Jawab Chaerin memakan sarapan yang di siapkan neneknya. “Kamu memang anak baik, tidak salah ibumu sangat menyayangimu.” Ucapan nenek seakan memberi semangat baru bagi Chaerin. Ibunya adalah satu-satunya orang tua yang menjadi harapan baginya. Eoma yang tidak pernah berani menentang papanya demi membela dirinya. Ternyata adalah orang yang penuh kasih padanya. “Nek, Chaerin berangkat.” Melangkah dengan harapan penuh, Chaerin berangkat ke perusahaan besar di Jakarta. Pemahaman bahasa yang cukup, membuat Chaerin optimis untuk di terima. “Wah, cantik banget gadis itu. Dia ngelamar jadi artis?” “Mungkin, tapi dia gak kalah cantik sama Mona.” “Heh, kepalamu minta di getok palu? Mona itu artis papan atas. Wajar dia bisa memiliki wajah kinclong. Tapi, kamu lupa saat pertama dia masuk agensi? Dia burik.” “Cih, paling dia juga putih karena oplas.” “Permisi, apa kalian membicarakan aku?” Chaerin menghampiri dua orang yang ada di lobi tempat dia interview. “Sok yess kali anda. Cih, Calok artis kecil aja sok.” Cibir salah satu dari keduanya. Chaerin hanya tersenyum mengejek, dia tau kalau dua orang itu tidak selevel dengan dirinya. Artis kecil? Hahaha lucu. Bahkan keluarga Chaerin bisa ngorbitin artis papan atas di Korea. Kenapa dia bisa mau ngelamar jadi artis di negara asing? “Nona Chaerin. Setelah melihat resume Anda, pimpinan kami menyetujui lamaran anda. Jadi anda bisa mulai bekerja di divisi animasi. Anda bersedia?” tanya orang tersebut. “Ya saya bersedia.” Divisi animasi? Tidak buruk. Chaerin mulai bekerja dengan lima orang rekan lainnya dan satu kepala divisi yang merupakan perempuan cantik. “Chaerin, benar namamu Chaerin? Ada pengalaman apa kamu? Jangan main-main masuk divisi.” Tegur Santi kepala divisi. “Benar nama saya Kim Chaerin, saya baru pertama bekerja. Untuk pengalaman kerja, mungkin saya masih tidak memiliki. Tapi kalau soal pengetahuan, saya sangat tahu. Karena keluarga saya memiliki agensi di negara saya.” Jawab Chaerin jujur. “Oh anaknya bos hahahahaha, kenapa kamu ke sini? Apa sudah bangkrut?” ejek santi. Chaerin tidak menganggapnya ada. Baginya, pekerjaanlah yang terpenting saat ini. “Chaerin, ambilkan aku minum!” seru Santi di tengah-tengah bekerja. “Apa kau tidak punya kaki dan tangan?” jawab Chaerin santai. “Kau melawan ku! Aku pastikan tidak ada hari esok untukmu!” ancam Santi. “Chaerin, sudah ambilkan saja. Jangan buat hari ini menjadi hari pertama dan terakhir kali kamu kerja di perusahaan Anggara.” Bisik salah satu teman Chaerin. Nana. “Hais, siapa dia berani mengancam pegawai? Dia tidak mengizinkan aku kerja esok hari? Mimpi dia setinggi apa?” ejek Chaerin. Dia jelas tau, pengaruh apa yang bisa di berikan atau tidak bisa di berikan oleh kepala divisi. Tapi kenapa hal ini bisa dengan mudah berkembang di perusahaan besar? “Dia itu sepupu pak manager umum di sini. Pasti mudah memecat orang.” Bisik Nana lagi. Dengan berat hati, Chaerin mengambilkan air minum untuk Santi di lantai bawah. Di sisi lain, seorang pemilik perusahaan yang baru datang pun di sambut oleh orang-orang yang bekerja di depan. Chaerin melihat sekilas, tapi tidak melihat dengan jelas. Chaerin acuh, dia pikir tidak ada hubungannya orang tinggi itu dengan dirinya. Orang tinggi itu memiliki wajah yang familiar, namun Chaerin lupa pernah bertemu di mana. Mata orang itu tertuju pada Chaerin yang tengah mengambil air. Perlahan mendekati dirinya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” suara berat dan dingin terdengar memekakkan telinga Chaerin. Chaerin kaget, dia hampir menjatuhkan tempat minum yang dia isi. “Ma.. maaf, anda siapa?” dengan berani Chaerin menatap mata hitam legam milik Zein. “Aku bertanya, jawab! Jangan kembali bertanya.” Gurat amarah terlihat di wajah Zein. Dia tidak mengira, bahwa wanita yang dia nikahi di negeri seberang itu menyusulnya ke Indonesia. Ini konyol. Berdiri tegap, Chaerin membenarkan baju putih dan rok hitam miliknya. “Saya Chaerin...” “Saya tau! Kamu Kim Chaerin. Tapi, kenapa kamu ada di sini?” sela Zein di tengah kegugupan yang di rasa Chaerin namun dia pura-pura tenang. “Ehem, saya karyawan baru di sini pak. Di bagian animasi. Tapi, dari mana anda tau nama saya?” Chaerin masih bingung. “Ooohhh dari resume saya....” tawa Chaerin sambil memukul bahu Zein. Tidak ada orang di sekitar Zein dan Chaerin, jadi tidak ada yang mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi, orang-orang itu ada di lima sampai tujuh meter di belakang Zein. Jelas mereka melihat keakraban Zein dan anak baru itu. Dua resepsionis yang tadinya membully Chaerin pun sekarang merasa takut. Apa kata-kata yang mereka lontarkan tadi, bisa membuat dirinya terancam? Ah, pasti gadis cantik itu tidak akan melaporkan dirinya. Tapi, apa hubungan bos besar itu dengan anak baru? Ini cukup aneh. Selain ini adalah kali pertama Zein berinteraksi dengan lawan jenis. Menjauhkan pengawal lebih jauh dari satu meter, adalah hal yang cukup aneh. Apa wanita ini sangat spesial, ataukah gadis ini pembuat masalah? Tapi, kalau di lihat cara mereka berinteraksi. Tidak mungkin kalau gadis itu pembuat masalah. Berarti gadis itu orang spesial untuk pak bos mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD