Setelah miskin, di buang.

1073 Words
“Nara, ini aku Jery. Buka pintunya, sayang.” Jeremy tidak bisa membuka pintu itu karena salah kode. “Jery, sebaiknya jangan bertemu dengan Nara terlebih dulu. Ini semua demi kebaikan kalian berdua. Karier Nara tengah di ujung tanduk, untuk saat ini. Tolong mengertilah, di masa depan jauhi Nara sejauh lima meter dan bersikaplah tidak mengenal Nara.” ini semua adalah kata-kata Nara yang di sampaikan langsung oleh manager dan mengatasnamakan dirinya. Berita tentang di coretnya Jeremy sebagai ahli waris keluarga Betrand sudah menyebar di seluruh negeri. Itu semua di lakukan oleh ibu dari Jeremy hanya untuk menunjukkan sifat asli dari Nara. Sayang sekali, meski berita tentang dirinya dan keluarga sudah menyebar seluruh Korea. Hanya dia satu-satunya orang yang tidak mengetahui kabar itu. Dia mengatakan Chaerin adalah wanita bodoh, padahal dirinya sendiri yang t***l. “Baiklah, aku akan menjaga jarak untuk sementara waktu.” Setelah kepergian Jeremy, Nara pun keluar dan mengomel. “Sudah miskin, mencari ku? Apa dia tidak punya otak? Gara-gara lelaki macam dia karier ku hancur. Jauhkan manusia miskin bau busuk itu dari ku di masa depan!” seperti manusia tidak tau terima kasih, Nara lupa jika tempat yang di tempati ini adalah milik lelaki itu. “Sudah lupakan, sampah seperti dia memang layak di buang dan jangan di pungut lagi.” setali tiga uang, manager itupun tidak ingin lagi berurusan dengan lelaki macam dia. Chaerin mengira dunianya sudah hancur kali ini, tetapi.. setelah dia mendengar berita tentang Jeremy yang di buang oleh keluarganya pun membuatnya sedikit merasakan kebahagiaan. Sedikit, bahkan senyumnya Chaerin pun tidak selebar biasanya. “Kenapa masih tidak senang? Kita sebentar lagi akan mendengar ada ketukan pintu orang ingin menginap. Aku yakin, keluarga Jeremy tidak sebodoh anaknya. Aku yakin, apartemen mewah seharga empat juta Won itu akan segera di kosongkan.” Sonia adalah calon Psycholog, jadi dia tau seperti apa tindakan yang biasanya orang-orang lakukan hanya dengan sekali mengamati perubahan sikap itu. Apa yang di katakan Sonia memang benar, tapi sayangnya Chaerin tidak ingin membukakan pintu untuk siapa pun. Berbeda dengan Sonia, dia membukakan pintu dan benar itu Nara bersama dengan barang-barangnya dan asisten pribadinya. “Minggir,” Nara sangat sombong, bahkan dia yang menumpang pun masih berlagak dia orang paling penting. “Aduh, nek. Ini tempat apa? Sempit dan bau sekali.” kata asisten Nara. Chaerin yang masih berada di dalam selimut pun enggan untuk bangun hanya demi menyapa mereka berdua. Bukan mau bermaksud tidak sopan pada Nara dan asistennya, dia hanya tidak ingin melihat atau bertemu dengan mereka. “Chaerin, aku tau kamu masih belum tidur. Maafkan aku, mau kan kamu untuk menampungku di sini?” kata Nara yang berusaha memancing amarah Chaerin. “...” tidak ada jawaban dari Chaerin. Bahkan hanya untuk membuka selimut pun Chaerin enggan. Namun sialnya, ponselnya berdering tidak pada waktu yang tepat. Karena ponsel itu terus berdering, mau tidak mau Chaerin mengangkatnya. “Hmm…” mendengar apa yang di sampaikan oleh orang yang berbicara di ujung telepon. Chaerin langsung bangkit dari tempat tidur dan menyambar jaketnya sebelum keluar kari kamar asrama. “Apa teman mu itu sehat? Aku rasa dia pendendam.” kata asisten Nara. “Diamlah, dia putri Kim Yoo jin. Ke depannya jangan berani bersinggungan dengannya, kalau tidak…. nasibmu akan sama seperti ku.” kata Nara sekilas melirik ke arah Sonia. Sonia tau apa yang di maksud Nara, tapi dia pura-pura terpancing dan ingin mendengar kejelekan apa lagi yang akan keluar dari mulutnya soal Chaerin. “Kenapa memangnya nasib mu?” tanya Sonia acuh seperti biasanya. “Kamu tidak lihat sekarang? Kau tau kan kalau apartemen yang aku tempati sekarang itu adalah milik Jeremy. Berani sekali Chaerin mengatakan pada keluarga Jeremy untuk mengambil dan mengusirku dari sana. Aku gak habis pikir, padahal selama ini aku sudah tahan harus berbagi kekasih dengan dia. Kau tau Sonia, Jeremy sudah sangat lama ingin meninggalkan Chaerin? Tapi aku yang menahan dia untuk tak memutuskan hubungan mereka, tapi ini balasan dia pada ku.” Ucapan Nara begitu sedih, seakan itu semua adalah sebuah kebenaran. Sonia tidak bodoh jika begitu percaya dengan apa yang di katakan Nara. Tapi dia hanya berpura-pura percaya dengan menunjukkan rasa tidak percaya atas cerita Nara. “Apa? Benarkah begitu?” dia terlihat sangat syok, namun seketika dia berubah. “Kau pantas mendapatkan semua itu. Lagian, siapa kamu? Dia jauh lebih terhormat dari pada kamu yang sudah mengambil milik sahabat sendiri. Aku baru tau kalau kamu selalu minta uang makan pada Chaerin, padahal kan aku yang selalu bayar makanan kalian. Sungguh tidak tau diri. Buktikan kalau memang kamu itu artis papan atas, beli apartemen mu sendiri dan pergi dari sini.” Nara kaget Sonia mengetahui semua itu. Dalam hatinya dia memaki Chaerin yang sudah bermulut besar mengatakan itu semua. Wanita itu sudah harus di beri pelajaran, dia harus merasakan apa yang namanya dikucilkan dan hidup bersembunyi seperti dia saat ini. Nara memang menghalangi Jeremy untuk memutuskan Chaerin. Itu semua hanya untuk menunjang karier dia. Berteman dengan anak pemilik agensi adalah sebuah keuntungan tersendiri. Di tambah dengan kehadiran Jeremy yang sudah memanjakan dirinya. Dunia serasa berada di genggamannya. Tapi sekarang? Dunianya runtuh dan menenggelamkan dirinya sampai ke dasar pusaran bumi. Hubungan yang mereka jalin selama ini membuatnya seperti boomerang yang menyerang balik padanya. Nara semalaman tidak bisa tidur karena ranjangnya yang di rassa tidak nyaman. Padahal itu adalah ranjang yang biasa ditempatinya selama ini. Terus apa masalahnya dengan sekarang dia tidak bisa tidur? Itu karena kecongkakan dan kesombongan yang mendarah daging padanya. Dia terlalu tinggi memandang dirinya sendiri yang rendahan itu. Menyamakan diri dengan artis papan atas hanya dengan beberapa kali membintangi sebuah sinetron sebagai pemeran pendamping utama. Selain itu, kehidupan yang selalu memanjakan dirinya selama inilah yang membuatnya melupakan asal dirinya. Rumah yang selalu bertumpang tindih dengan tetangga juga ia lupakan. Seakan dia berada di atas awan dan tidak membutuhkan tetangga pun membuatnya malu untuk pulang. Rumah susun yang di tinggali oleh keluarganya sangat kecil, dan banyaknya anggota keluarga lah yang membuatnya sangat sempit. Itulah alasan yang kuat buatnya untuk tidak kembali ke rumah di daerah kumuh tersebut. Di tambah lagi dia tidak ingin memiliki ikatan dengan orang-orang rendahan seperti keluarganya yang memiliki sifat buruk. Ayah yang merupakan seorang pemabuk, ibu yang hanya hanya seorang buruh cuci. Kakak yang selalu membuat onar dan adik yang terlihat angkuh padanya, padahal hanya dia yang memperhatikan ibunya. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah ingin di temui lagi oleh Nara seumur hidupnya setelah berhasil. Tapi kenyataannya adalah dia malah terpuruk di awal kariernya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD