Konflik!

1103 Words
Suara Alli yang benar-benar keren dengan tingkat tinggi menyatu dengan suara sang rapper yang mempunyai ciri khas tebal membuat kolaborasi mereka benar-benar panas dan mengguncang seluruh penonton. Tidak ada yang tidak terhibur kecuali pria yang berdiri disana di VVIP, dengan tatapan tajam dan tangan yang dilipat. “Halo semuanya, saya Branden Holly teman dekat Alli juga rekan bisnis. Salam kenal semua” ujar ia jika di translate ke Indonesia, semua penonton bersorak. “Oke Branden, kau akan menemaniku dalam 2 lagu lagi bukan?” “Yeah” jawab Branden “Sebelum itu kita akan melihat seberapa antusiasnya mereka” Branden Holly mengangguk dengan mata disipitkan dan bibir yang di panyunkan itu sungguh terlihat sangat manis, Alli pun menirunya membuat penonton semakin berjerit keras. Beberapa menit berlalu, Branden nampaknya sudah selesai dengan kolaborasinya bersama Alli ia pun kini berada di backstage. Sementara itu Alli yang masih diatas panggung dan menyanyikan satu lagu solonya, ia nampak lelah dengan keringat yang sudah membasahi sekujur tubuhnya. Setelah lagu berakhir. “Ada yang ingin kutunjukan pada kalian, semoga kalian menyukainya. Tunggu” teriak Alli yang kemudian berlari ke belakang panggung, ia mencari-cari seseorang apakah seorang staf? Atau manager? Oh bukan, ia mencari-cari Nona. Alli kebingungan kemana ia pergi, bahkan kakaknya yang tadi berada di sini sekarang ternyata tidak ia temui. “Alli kenapa kau malah kesini? Kau ada pertunjukan satu lagi lagu terakhirmu” ujar salah satu staf, namun ternyata Alli mengabaikannya dan tetap mencari-cari semua staf bertanya-tanya apa yang terjadi pada Alli. Alli membuka satu persatu setiap ruangan di sana, setelah ruangan keempat yang berusaha di bukanya. Ia justru melihat sesuatu yang tidak pantas ia lihat. Nona tengah berdiri disana nampak seperti ketakutan, di depannya ada dua orang pria dan salah satu diantara mereka memegangi tangan Nona cukup kasar. Hal itu membuat Alli benar-benar marah, rahangnya mengeras dan tatapannya menajam. Ia berjalan dengan tergesa-gesa kearah pria itu lalu memberikan satu pukulan keras tepat di pipinya pria itu tersungkur ke tembok. “s**t” desis Alli menatapi pria itu dengan mengangkat satu alisnya, ia segera memeluk Nona melindunginya dari mereka. “Nino ya ampun” desis pria satunya lagi yang tak lain teman Nino yang merupakan fans berat Alli. Alli menatapi Nona “Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Alli berusaha menanyai kekasihnya dengan lembut, meski urat-urat dikepalanya benar-benar sudah timbul. “Aku tidak apa-apa mereka memaksakanku kesini dan aku tak tahu apa yang akan mereka katakan, mereka berasal dari SMA yang sama denganku” jawab Nona sejujur-jujurnya Pria berambut gimbal itu tiba-tiba berjongkok dihadapan Alli dan memohon-mohon. “Alli aku datang kesini untuk menonton konsermu, aku adalah penggemar terberatmu. Maafkan temanku yang bodoh itu, ia menyukai Nona tapi aku berusaha untuk memberitahu dia supaya tidak melakukan itu, maafkan dia” ujarnya dengan nada yang cukup mengkhawatirkan Alli mengabaikan pria itu, ia menarik tangan Nona lalu berdiri di depan Nino kemudian Alli berjongkok di depannya. “Jika kau menginginkan Nona, kau takkan pernah bisa jika saat inipun kau masih sangat lemah” ujarnya menatapi pria itu cukup dekat dengan tatapan yang selalu Alli lakukan saat ia marah. Alli kembali berdiri dan berjalan menuju keluar bersama kekasihnya. Nino tersenyum dengan menyungging “Hah, loe belum tahu siapa gue?” ujarnya membuat langkah Alli terhenti. Alli menatapi pria itu “Kalaupun aku tahu, kau masih bukan tandinganku” Nino menyipitkan matanya kesal, Alli pun langsung membawa nona keluar dari ruangan tersebut. Nino berdiri dan hendak mengejar Alli namun temannya segera menghalanginya. “Hentikan bodoh, Alli benar loe bukan tandingannya, jika loe terus-terusan melawannya justru yang akan terkena masalah besarnya adalah loe” ujarnya Nino masih menatapi jalan yang dilalui Alli barusan. “Minggir, gue akan berhasil lain kali” ucapnya sambil mendorong tubuh temannya. Nino pergi, sementara temannya itu terduduk di lantai. “Nino kenapa sih gue punya sahabat kayak loe, keras kepala” Alli masih memegangi tangan Nona sembari berjalan menuju ke panggung. “Apa kau yakin Alli?” Alli hanya terdiam “Yang apa kamu masih marah?” Ia masih tetap terdiam “Napa masih marah sih, mereka berdua itu temen SMA aku mereka gak ngelakuin apa-apa ko sama aku. Lagian pria yang berambut keriting itu dia bilangkan dia fans kamu” “Lalu pria yang satunya lagi? Apa di sekolah kamu sering dideketin dia? Atau laki-laki lain banyak yang ganggu kamu?” ujar Alli menatapi Nona cukup intens Nona memutar bola matanya “Gak ada yang kayak gitu Li, aku rasa mereka sewajarnya aja ko bersikap sama aku” “Kamu bilang itu wajar? Nona, pria tadi itu menyukai kamu. Aku bisa melihatnya dari sorot matanya, dia ingin mendapatkan mu dari ku. Hah, habis-habisan dia kemari hanya untuk tahu siapa pacarmu” desisnya Nona nampak khawatir “Udahlah abaikan saja dia Li, aku juga akan bilang ko kalau dia macam-macam” Alli tersenyum “Itu kewajibanmu untuk memberitahuku, Aku harap kamu bisa jaga jarak dari pria lain sayang. Aku khawatir” lirih Alli Nona mengangguk, mereka kemudian berjalan kembali. Hingga sampai di depan bodyguard Alli berhenti disana. “Tolong urusi kedua lelaki yang ada di sebelah sana” perintah Alli Nona menatapi Alli lalu menggelengkan kepalanya “Jangan Li” “Kenapa?” “Kamu jangan ngelakuin itu, salah satu diantara mereka adalah fansmu masa iya kamu mau usir dia, dia jauh-jauh datang kesini beli tiket konser yang mahal eh malah kamu usir” Alli menghela nafas “Ya sudah aku gak bisa lakuin itu, jika kamu tidak mengijinkannya. Tapi lihat saja jika pria itu mendekatimu lagi” Nona tersenyum, ia benar-benar tahu kekasihnya sangat mengkhawatirkannya. “Alli lagu terakhir” ujar salah satu staf Alli pun mengangguk lalu melangkahkan kakinya dengan percaya diri, ia masih memegangi tangan kekasihnya itu. Membuat semua staf saling menatapi satu sama lain dengan bingung. “Alli apa yang kau lakukan?” tanya salah satunya “Ini bukan saatnya!” Alli tetap berjalan lurus tanpa mendengarkan mereka “Alli apa ini tidak akan apa-apa?” tanya Nona nampak ragu “Alli hentikan” teriak managernya yang berada di belakang Alli pun berhenti, ia kemudian membalikan badannya. “Apa?” tanya nya dengan nada yang cukup menantang Manager itu nampak mengatur nafasnya “ Alli bukan saatnya kau membawa dia keatas panggung! Popularitasmu akan turun, biarkan nanti-nanti saja” Alli memutar bola matanya “Ah kalian menggangguku saja” ujarnya lalu kembali melanjutkan langkahnya “Alli!” teriak managernya lagi                   “Apa? Kalian ingin aku keluar dari agensi?” ancam Alli dengan nada yang penuh penekanan Hal itu membuat semua yang berada disana nampak khawatir, tidak bisa jika tanpa Alli. Agensi mereka akan hancur. Semua penghasilan terbesar didapat setelah Alli bergabung. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD