210

1094 Words

Dua Minggu penuh air mata bergulir, itu bukan masa singkat yang bisa kunikmati dengan hanya melakukan rutinitas sehari-hari dan pergi bekerja tanpa memikirkan apapun. Ke mana-mana aku melangkah, aku selalu was-was akan bertemu dengan Mas Tama atau istrinya atau mungkin keluarga istrinya dan saudara Mbak Aira. Aku khawatir akan dihujat atau dihina jika berpapasan dengan mereka. Untuk pertama kalinya, hari ini aku menjejaki pengadilan agama untuk perkara cerai yang kutuntuy dari suamiku. Ironisnya, aku menuntut orang yang kucintai, dan kulakukan itu demi keluarganya, demi ketenangan hatinya, aku mengalah menjauh agar suamiku tidak terus terjebak dilema. Kini aku dan Bunda duduk di depan ruang tunggu dengan perasaan berdebar, sudah dua Minggu aku berusaha menata hati agar tidak terpengaruh

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD