pergi

975 Words
Mas Ikbal menghampiriku dengan garang lalu menarik lenganku dengan kasar. Plak! "Apa-apaan, kamu Jannah!" Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku, membuatku merasakan sensasi pedih dan panas di bagian wajah pelipis dan ekor mata. Telingaku sampai berdenging saking kerasnya pukulan itu. "Mas ...." Kutatap dia dengan air mata berderai sedangkan Soraya mundur dengan wajah ketakutan. "Kalian membuatku malu," desisnya. "Maaf, Mas, aku gak bermaksud bikin Mbak Jannah marah dan membuat Mas malu," cicit Soraya yang tersudut ke sisi wastafel. "Apa ini, Jannah?! Kupikir kalian wanita bermoral yang akan mengangkat derajatku, derajat keluarga kita." "Hahaha," aku tertawa getir mendengar ocehannya, "Kamu bicara tentang mengangkat derajat, sesungguhnya kamu sedang menyabung kami dalam rumah ini," ujarku dengan nada sinis. "Kalian istriku! Bukan binatang!" teriaknya. "Lantas kenapa kau satukan kami dalam satu rumah seperti hewan peliharaan, bukankah istri adalah amanah orang tua dan perhiasan dunia bagi pria?!" jeritku kesal. Dengan napas memburu dan kepala yang rasanya mengebulkan asap aku kembali meradang. "Jika kamu memang menghargai kami, lantas perlakukan kami sebagai istrimu, berikan kami jalan terbaik dan solusi, kamu pria yang serakah, Mas!" Aku membalasnya dengan sengit sehingga ia berusaha menghampiri dan hendak mengangkat tangannya memukulku. Aku pun tak ingin lagi terlihat lemah dan menangis saja, maka kuhampiri juga dia. "Apa?! Mau pukul? Ayo pukul, tunjukkan pada Soraya bahwa kau mampu memukulku dengan benar, Ayo pukul," tantangku dengan tatapan membeliak. Ia terlihat ragu dan memundurkan dirinya, "Kau keterlaluan Jannah, padahal aku sudah berusaha mengambil hatimu," jawabnya. "Cih, mengambil hatiku? Hahaha." Aku tertawa pura-pura pongah dengan perasaan yang demikian hancurnya. "Lihat, bagaimana engkau perlakukan istri tuamu seperti barang rongsokan yang bisa kau lupakan kapan saja, lihat!" teriakku, "Kau siksa batin dan ragaku sesuka hatimu, kau pikir kau membayar kepalaku dengan harga berapa, apa karena istrimu yang itu harga lebih mahal dari seperangkat alat shalat, hah?!" "JANNAH!!" Ia berteriak. "APA! KAU INGIN COBA MENDOMINASIKU!!" Aku pun balas berteriak dengan sangat kencangnya hingga kulihat dari jendela kaca tatangga berkerumun di depan rumah. Wajahku rasanya terbakar oleh amarah dan napasku tersengal-sengal rasanya. Aku merangsek ke luar rumah dengan hijab yang sudah tak beraturan bentuknya, kuhampiri mereka semua. "Hei, kalian ... kalian mau tahu kenapa rumah ini selalu ribut dan kacau kan, akan kuberitahu," kataku sambil menatap para tetanggaku. "Jannah ...." Mas Ikbal mencoba menahanku dengan ucapannya dari dalam rumah. Aku tak peduli, sudah kepalang ia membuatku terluka dan sakit hati hingga sedemikian rupa. Bukan rasa sakit tamparan yang membuatku kecewa tapi jatuhnya harga diri di depan Soraya membuatku meledakkan amarah, dia memperlakukanku seolah-olah aku adalah pembantu yang tak berharga. "Kalian tahu, jika Mas Ikbal menikah lagi, kan, suamiku itu membawa istri barunya ke rumah ini, dan membuatku melayani mereka, kalian puas sekarang, Ibu-Ibu," kataku dengan keras. Ibu-Ibu terlihat saling pandang dan saling berbisik-bisikan, di saat yang sama juga putriku kembali dari rumah Mbak Mira karena mendengar keributan kami. "Bunda ... Bunda kenapa ...hik ... Hik ...." Ia mulai menangis melihatku kalap dan berantakan. Kuraih putriku dan kupeluk dia erat-erat, lalu kami bertangisan di depan teras rumah di saksikan para tetangga. "Baik, Raisa ayo kita pergi Nak, kita gak berhak lagi ada di sini," ucapku sambil sambil membangunkannya. "Kamu gak boleh bawa Raisa kemana-mana!" ancamnya sambil mencoba menghalangiku yang ingin masuk ke kamar raisa mengambil pakaiannya. "Kenapa?! Kamu mau apa?! Membunuhku ... silakan, tapi aku akan tetap membawa anakku." Lalu terjadilah adegan saling tarik menarik anak yang membuatku putriku menjerit takut juga kesakitan. "Lepaskan anakku," katanya. "Kamu yang lepaskan!" balasku. Tetangga menjadi riuh dan mau tak mau ikut masuk memisahkan kami yang sedang memperebutkan Raisa. Mbak Mira meraih Raisa dari gendonganku dan membawanya keluar, sedangkan putriku menjerit-jerit ketakutan. "Kamu Ibu yang gila," desis mas Ikbal. "Kamu pria laknat yang merusak segalanya." Balasku. "Aku menyesal menikahimu!" "Baik, aku terima ucapanmu, kuanggap itu talakmu!" Kualihkan pandangan pada Soraya yang masih mencicit di sudut ruang keluarga. "Puas kamu w***********g! Dasar jalang, aku memang akan pergi dari rumah ini. Tapi demi Allah, aku tak pernah ridho sedikit pun atas apa yang ada di dalamnya yang juga hasil jerih payahku, semoga kalian berbahagia," kataku sambil menangkupkan kedua belah tangan. Dengan cepat kusambar koper diatas lemari lalu kumasukkan pakaianku dan pakaian putriku, kuraih berkas-berkas dan dokumen penting juga kunci mobil. Kuseret koper dengan kasar di depannya. Dan bersiap meninggalkan rumah yag telah memberiku sejuta kenangan itu. Namun aku kembali teringat sesuatu, Kulirik cermin hias di ruang keluarga yang bingkainya terbuat dari marmer putih terbaik, dia adalah hadiah pernikahan kami dan alm. Ibunda Mas Ikbal. "Karena pernikahan ini sudah berakhir, maka apa yang berkaitan dengannya sebaiknya di hancurkan." Kudorong meja berukir indah dengan ornamen berbentuk matahari beserta cerminnya dengan keras hingga jatuh dan menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Praang!! Meja dan cermin pecah berantakan dan Mas Ikbal hanya mampu menatap nanar membungkam mulutnya sendiri. "Ayo Raisa," ucapku sambil menyalakan kunci pemindai mobil. "Ayo Nak," kunaikkan putriku lalu kuikat sabuk pengaman. Bersamaan dengan itu pak RT tempat tinggal kami datang. "Mbak Jannah, Mbak Jannah mau kemana?" Tanyanya dengan raut prihatin. "Saya mau pergi, Pak. Karena Mas Ikbal sudah menjatuhkan talaknya." "Tidak, itu tidak benar," sanggahnya di depan Pak RT. "Terus saja berkelit, hingga air laut kering," sungutku sambil menstarter mobil. Ketika mobil hendak meninggalkan pekarangan Mas Ikbal berusaha mengejar dan membujukku. "Jannah tunggu, Jannah ini hanya kesalahanku, aku minta maaf, Jannah," ucapnya panik. Aku sudah tak peduli, rasanya hatiku beku dan telingaku sudah tuli untuk termakan semua bujuk rayunya. "Jannah hentikan, maafkan aku," teriaknya dari luar mobil sambil meggebrak-gebrak kaca. Kutarik persneling dan kuinjak gas sehingga mobil tiba-tiba melaju kencang dan membuatnya tersungkur ke pinggir jalan. Raisa putriku hanya menangis sambil melihat pemandangan itu dari arah belakang mobil kami. "Bunda ... Ayah jatuh." "Biarkan saja! Ibu baru akan membantunya." Begitu kataku yang membuat putriku terpana lalu air matanya meluncur deras seketika. "Aku akan membuat mereka menyesal," gumamku, aku bertekad untuk itu. Lihat betapa semua orang menjadi korban poligami yang tidak sesuai tuntunan agama?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD