175

1253 Words

Aku masih terhenyak dengan kenyataan cepat barusan. Seorang wanita datang, membawa anaknya lalu mengumbar kemarahan dan mengaku bahwa dia istri suamiku. Sungguh hal itu mengejutkan dan sulit diterima akal. Kalau benar Mas Tama memang pun istri mengapa selama ini diaterihat seperti bujangan yang tidak punya kegiatan lain selain bekerja dan menemuiku. Kapan waktunya ia sempatkan untuk pulang dan menemui istrinya. Mengapa ia pandai sekali. "Tapi aku tak boleh asal percaya tanpa konfirmasi dari Mas Tama. Aku akan bertanya padanya sebelum menghakiminya," gumamku sambil menyeka air mata. Perlahan Aku tutup pintu utama yang baru saja di gebrak oleh Mbak Aira, lalu beranjak ke kamar untuk meraih ponsel dan menelpon belahan jiwaku. "Assalamualaikum, Sayang." Tutur sapa Mas Tama seolah air dingi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD