176 POV RAISA : mas Tama

899 Words

Kupikir suamiku akan datang secepat mungkin ketika aku memberi tahunya bahwa Mbak Aira mendatangiku. Masalah yang kami hadapi sekarang cukup pelik sehingga mau tak mau, kami harus melibatkan orang tua. Om adi dan tente Sisil belum kuhubungi, aku sedang mencoba menimbang keputusanku sebelum mendatangkan mereka berdua ke rumah Bunda. "Jadi apa rencananya?" tanya Bunda saat aku berdiri di ambang jendela dengan tatapan sedih. Rintik hujan di luar sana, serta cuaca mendung membuat hati ini semakin suram. Ingin kuhentikan air mata ini agar tak lagi menetes, tapi tetap saja, kekecewaan dalam hati terlanjur besar dan membuatku rasanya ingin berteriak keras. "Sudah pukul lima, apakah Tama tidak akan menjemputmu pulang?" "Menurut Bunda bagaimana, apakah ia akan datang menjemputmu setelah aku tah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD