178

1086 Words

Genggaman tangan Mas Tama terasa begitu mendalam dan erat, aku ingin melepas namun ia menahan agar jemari kami tetap bertautan. Mbak Aira masih menangis pilu, suamiku juga masih merangkul tubuhnya dengan penuh perasaan. "Apa salahku, Mas? Mengapa tiba tiba diri ini dimadu tanpa alasan? Apakah aku sudah membuatmu sakit hati? Tolong sebutkan kesalahanku?" "Kita hanya semakin hari semakin jauh, Aira, kita saling mendiamkan dan kupikir kau mungkin sudah tak memerlukan ku di sisimu?" "Kau tidak peka Mas, aku mendiamkanmu untuk menunggu kau mendekatiku dan memberiku perlakuan romantis lagi seperti dulu. Nyatanya, kau membeku dan semakin menjauh," jawab wanita itu lemah, tiba tiba ia lemas dan tersungkur pingsan di pelukan Mas Tama. Aku yang terhenyak, hanya bisa berdiri dengan bingung, takut

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD