179

1150 Words

"kalau begitu aku pulang dulu ya Mas,"ucapku sambil menghampiri Mas Tama dan mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangannya. Suamiku yang paham dengan itu lantas mengulurkan tangannya untuk ku cium, tapi tiba-tiba sang istri menepisnya dan menahan lengan suaminya. "Jangan sentuh Mas Tama di hadapanku, aku tidak bisa menyaksikan itu." "Oh, maaf, baiklah," jawabku lirih. "Pulanglah Dan bicarakan ini pada orang tuamu, katakan pada mereka bahwa aku tidak bersedia untuk menyerahkan suamiku!" Mas Tama ingin protes dan membelaku tapi wanita itu mencengkeram tangannya dan memberinya isyarat agar pria itu tidak ikut campur pada urusan kami, meski terlihat memiliki wajah ayu yang penuh kelembutan namun Mbak Aira ternyata wanita yang tegas dan cukup punya prinsip. Aku salut padanya. "Satu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD