pecah kaca

1217 Words
Mobil itu meluncur dengan cepat menuju arah rumah sakit, aku hanya mempu ternganga melihat cara mas Ikbal mengemudikan mobil, gas ditarik kuat hingga ban mobil berdecit dan debu-debu berterbangan di jalan. Aku yakin ia tidak menemukannya di rumah sakit, namun jika ia menemukan alamat rumah Mas Rafiq aku khawatir ia akan membuat keributan dan saling memukul. "Hmm semoga saja tidak," gumamku dalam hati. ** Keesokan harinya, seperti biasa setelah salat subuh aku melakukan rutinitas membersihkan kontrakan, memasak nasi dan mencuci pakaian, ketika sedang asyik menjemur di gantungan tiba-tiba klakson berbunyi sangat kencang di depan kost-kostanku. . Kulirik mobil dan aku terkejut karena Mas Ikbal sudah di depan kontrakan bahkan ketika matahari belum sepenuhnya menyingsing, apa gerangan. Keinginannya pagi-pagi begini? Kuletakkan pakaian di ember lalu buru-buru menghampirinya sebelum suara klaksonnya membangunkan seluruh komplek tempat kost ini berada. "Mas Ikbal, apa-apaan sih?" Ia tersenyum lebar dari balik kaca mobilnya. "Ada apa pagi-pagi kemari?" ulangku. "Aku datang memantaumu," ujarnya santai sambil bersedekap dan menyender di pintu mobil. "Apa maksud Mas dengan kata memantau?" Kataku dengan perasaan tidak nyaman. "Kamu istriku Jannah, jadi tanggung jawabku untuk menjaga dan memantau kegiatanmu," Jmjawabnya. Aku tertawa miris mendengar ucapannya. "Hei, Mas. Setelah kita pisah rumah kini Mas baru mau bertanggung jawab menjaga dan memantau? tidak usah repot-repot aku baik-baik saja," tolakku. "Uhm .... Kalo begitu aku mau ketemu Raisa," katanya dengan mata berkedip nakal. "Nanti saja," imbuhku sambil membalikkan badan. "Aku Ayahnya aku berhak," ucapnya dengan nada bicara yang mulai emosi. "Sudah Mas, aku sibuk dan harus segera berangkat kerja, lagipula Raisa masih tidur." Aku berlalu menuju tali jemuran dan mengabaikannya di depan gerbang. "Lho itu siapa?" tanya Bu Dewi pemilik kost. "Dia suamiku, Bu, namun ...uhm ...." Aku menjawab dengan nada sedikit ragu. "Kenapa ga disuruh masuk," tanyanya. "Anu ... Ibu tahu sendiri kan?" bisikku. "Tapi gak enak lho Mbak, dilihat tetangga," imbuh ibu kost. Kuhampiri lagi Mas Ikbal dan menarik lengannya menjauh dari mobil itu. "Ada apa Jannah, kok narik-narik?" "Mas, sampai kapan kamu mau merongrong hidupku, menjauhlah dari sini, biarkan aku tenang dengan anakku. Aku gak nyaman kamu seperti ini," kataku. "Makanya ayo pulang biar kamu nyaman," jawabnya menyentuh kedua bahuku. "Lepaskan Mas," aku mengelak, "Aku gak nyaman juga serumah denganmu, aku tidak ingin kembali lagi, lagi pula kamu sudah bilang kalo kamu menyesal menikahiku." "Iya, Jannah, aku tahu, aku salah, aku mohon maaf," jawabnya sambil menangkupkan kedua belah tangan. "Aku tidak bermaksud dengan kata-kata itu, untuk mentalakkmu. tidak ada kata talak meluncur dari mulutku." "Aku sudah menerimanya Mas, aku sudah menyiapkan mentalku, aku akan menata ulang hidupku, jadi kumohon pergilah dari sini." Aku membalas menangkupkan tangan dan berbalik arah. "Kau tidak mencintaiku lagi?" Ucapannya membuatku berhenti dan berbalik badan, kutatap ia sejenak, menelisik raut keseriusan dan ketulusan dari wajahnya namun tak kutemukan.selain wajah memelas saja. Pertanyaan aku mencintainya atau tidak membuat hatiku nyeri dan berdenyut-denyut memberontak, ingin kuberteriak sambil mengoyak pakaiannya bahwa aku mencintainya tapi apa yang telah dia lakukan telah membekukan hatiku sebagian. "Maaf, tidak usah menanyakan cinta," desisku. "Sungguh kamu mau bercerai dariku?" ucapan berikutnya itu membuat hatiku kembali tersengat dan air mataku kembali meleleh lagi. Ingin kutahan tapi tak sanggup kulalukan. "Tanya hatimu sebelum menduakanku? Mengapa kamu begitu mudah menorehkan luka, apa yang kau pertimbangkan?" "Aku sudah menceritakannya, Jannah," bantahnya. "Tapi ... Kau bisa menolongnya dengan cara lain tanpa harus menikahi mantan adik angkatmu itu," balasku. "Aku ...." Ia mengacak rambutnya dan membuang muka ke langit, "Aku tidak bermaksud membuat kamu terluka." "Tapi kamu melukaiku, kamu melakukannya! Kamu bahkan tidak bisa menahan diri untuk menunda malam pertama," jawabku dengan emosi. "Aku-ak-aku ...." "Cukup! Tolong pergilah dari sini, jangan membuatku malu dengan menunggu seperti orang gila di pinggir jalan." "Aku tetap menunggu, Jannah," sergahnya. "Terserah tapi aku tak akan memperdulikanmu." Aku waberlalu. * Pukul delapan kurang 20 menit aku sudah siap, begitu juga Raisa, aku akan mengajak serta dia dan kutitip dia di rumah ibu. Tidak aman aku meninggalkannya dengan Ibu Dewi karena ayahnya bisa jadi akan membuat alasan dan membawanya pergi. Aku sungguh khawatir. Kukunci rumah dan kugandeng Raisa, namun mataku membulat seketika karena kulihat ia masih berdiri di sana. Di depan gerbang, memeluk terali seperti orang yang ... Ah aku kesal. "Mas Ikbal! jangan banyak tingkah, pergi dari sini," usirku sambil menyentaknya. "Aku kan,menunggumu Jannah, aku menunggu seperti Dillan yang menunggu Milea." "Astagfirullah, kau sudah gila," desisku sambil berlalu meninggalkannya. "Sebaiknya aku antar karena kalian bisa terlambat," lanjutnya. "Gak usah aku pesan taksi daring," kataku. Ia tak menjawab hanya melongo melihatku dan putrinya mengabaikannya. "Raisa ... Ini ayah bawa permen," katanya setengah berteriak karena jarak kami sudah cukup jauh. "Nanti aja, Yah, Raisa mau ke rumah kakek, da-daaah." Anakku melambaikan tangan mungilnya ke arah ayahnya. Baru lima menit berjalan menuju jalan utama, tiba-tiba Fortuner putih melesat dan berhenti di depan kami. Kaca mobil terbuka dan Mas Rafiq menyapa sambil melambaikan tangan. "Hai, Raisa." Ia menyapa putriku dengan manis. "Hai Om," balas putriku. "Mari kuantar kalian," tawarnya sambil membuka pintu mobilnya dari dalam. "Gak usah, Mas. Aku udah pesan taksi online," tolakku halus. "Ayolah, sekalian kuantar, lumayan daripada bayar," ajaknya memaksa. Aku bimbang naik ke atas mobilnya sementara dari kejauhan sana suamiku menatap kami, aku mencoba mengurangi konflik. "Gak usah, Mas." "Ayo naik, Raisa, Om beli hadiah buat Raisa," katanya sambil meraih sebuah plastik berlogo toko mainan yang berisi boneka Barbie yang cantik. "Hore ...," seru Raisa lalu menaiki mobil itu tanpa bertanya lagi padaku. Duh putriku. Kutatap Dokter Rafiq dan suamiku dari kejauhan sana bergantian, hati ini galau luar biasa, di satu sisi aku tak enak menolak Dokter Rafiq di sisi lain suamiku sedang menatap dengan hati yang kuyakin panas oleh kecemburuan. Akhirnya aku dengan langkah berat mau ikut di mobilnya dengan catatan aku tak usah duduk di depan, hanya Raisa dan Dokter saja yang di depan. "Kamu baik-baik saja," tanya Dokter Rafiq yang melihatku sedikit gelisah. "Gak, Dok, saya baik-baik saja," elakku. "Uhm, kita antar Raisa ke rumah Ayah kamu," tanyanya. "Iya, Mas. Mas tahu sendiri kan, kalo di rumah sakit kita ga bisa bawa anak-anak?" "Iya betul, apalagi di masa pandemi seperti ini," balasnya. "Nanti Raisa baik-baik di tempat Kakek ya, jangan nakal," katanya pada anakku sambil mengelus pucuk kepalanya. "Ok, Om." Anakku tersenyum dan kami semua tertawa bahagia. Tiba-tiba ... Syiiiiiit .... Brak! Mas Rafiq menghentikan mobil dengan mendadak, aku tersungkur ke depan dan membentur kursi yang ada di hadapanku. Untungnya Raisa menggunakan sabuk pengaman sehingga dia tidak terjatuh atau terdorong ke depan. "Astagfirullah-hallazim," seru Mas Rafiq terkejut. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi tiba-tiba berbelok dan menghentikan lajunya dengan mendadak menghalangi mobil kami. Kutatap dengan seksama dan kupastikan itu mobil suamiku. Maka cepat kuraih handle pintu dan keluar dengan hati ketar-ketir' kulabrak ia habis-habisan di jalanan. "Mas Ikbal, apa yang kamu lakukan, kita semua bisa celaka?" Ia menatapku dengan sorot mata yang menghujam dan berapi-api. "Apa?! Kamu ingin apa, Mas? Kamu cari perhatiamnya dengan cara yang salah Mas!" Teriakku. Tiba-tiba ia membuka pintu mobil, menuju mobil Mas Rafiq dengan membawa kunci Inggris ukuran besar dengan panjang 40 CM. "Hei, Mas Ikbal, mau apa?" Aku mencoba menahannya. "Minggir kamu," katanya sambil mendorongku. "Tunggu, kamu mau apa?!" Aku menghadangnya dengan kuat. "Aku akan memberinya pelajaran." ia mendorongku lagi dan berlari cepat menuju mobil Mas Rafiq yang jaraknya tidak kurang dari dua meter. "Astagfirullah, Mas Rafiq .... awas! Mas Ikbal, Stop!" Aku menjerit panik. Prang! ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD