dapurku

848 Words
Kutinggalkan mereka dan berlari ke dapur, saat sampai di sana, mataku kembali terbelalak melihat dapur kesayanganku yang sudah sangat berantakan dan kotor. Meja makan penuh piring kotor bekas mereka sarapan subuh tadi, sebagian makanan tumpah tanpa di tutup dan mengundang lalat. Lantai dapur ditumpahi s**u dan lengket di kakiku, entah siapa yang menumpahkannya, mengapa ia tak berinisiatif mengelapnya, lalu pintu kulkas tidak ditutup rapat, kuraba piranti di dalamnya sudah tidak dingin, mungkin sejak semalam kulkas ini dibiarkan seperti ini sehingga makanan mulai layu dan berbau. Lemari-lemari dapur terbuka begitu saja dan tidak ditutup kembali ketika mengambil piring, sedang ceruk wastafel di penuhi panci kotor hitam penuh celomok, komporku seperti kompor yang dimuntahi dan dibiarkan begitu saja sampai kering bekas makanan makanan yang meluber ke permukaan stainlessnya. "Astagfirullah, sabarkanlah aku dengan emosi yang semakin memuncak ...." Aku bergumam pada diriku sendiri. Seumur hidup aku tak pernah melihat rumah sekotor ini, terlebih lagi dapurku, tempat aku mengolah makanan dan menikmatinya. "Jorok sekali wanita ini," bisikku, "Apakah seumur hidupnya dia tak pernah belajar membereskan rumah atau minimal belajar membersihkan bekas makannya, apakah dia ini anak sultan yang dimanja dan selalu dilayani khadimah dengan segala kenyamanan sehingga ia bisa berbuat seenak jidatnya?" Aku sudah tak tahan lagi. Degan menahan sakit hati, aku segera beranjak kamar mandi untuk mencuci pakaian anakku dan lagi-lagi, aku tak kalah terkejut lagi di sana, pakaian Soraya digeletakkan saja dilantai tanpa memasukkan terlebih dahulu ke dalam baskom, kuangkat pakaiannya dengan ujung jari, kucium bau yang menguarkan aroma apek dan membuatku mual, mungkin sejak kemarin ia meletakkannya di sini. Kulirik juga tong sampah dan emosiku tiba- tiba naik dan mendidih di ubun-ubun, bagaimana tidak, pembalut penuh darah berserakan dan menguarkan bau anyir yang ... Bukan saja mengundang rasa jijik namun setan pun akan berpesta di sana untuk menjilatinya. Mungkin di hari kedatangannya ia tengah datang bulan dan baru bersih semalam sehingga dia dan Mas Ikbal berbulan madu dan meninggalkan dalamannya di kolong ranjang. "Ya Allah ...." dadaku bergemuruh. Aku sudah tak tahan lagi, aku tak peduli lagi pada penilaian orang lain "Soraya!" Teriakku. Belum ada sahutan ia dari dalam kamarnya. Dan suamiku yang sejak tadi berdiam di sana bahkan ia tidak berinisiatif untuk mengambil Raisa supaya aku bisa membereskan rumah. Mengapa ia juga tidak keluar dari kamar Soraya, apa yang mereka lakukan? "Soraya!!" suaraku kian meninggi "Ada apa Jannah," ucap mas Ikbal tergopoh-gopoh di susul wanita itu di belakangnya. "Lihat apa yang terjadi di rumah ini,apakah kamu pernah melihat rumah ini seperti ini sebelumnya?" Mas Ikbal menatap dapur dan Soraya bergantian, "Jannah mungkin Soraya belum sempat membersihkannya," jawab mas Ikbal. "Ayo, Soraya ....," Pintanya pada soraya agar wanita itu membantuku. Kulirik panci T-chef set kesayanganku yang kubeli dengan menyisihkan uang belanja selama berbulan bulan. Kuambil dari rendaman wastafel yang tersumbat oleh sampah makanan di dasarnya. "Mas ... Panciku, ya Allah," desisku mendelik melihat panciku yang seharga 8 juta gosong dan lengket sedangkan bagian luarnya juga menghitam. Dumprang! Kubanting sekuat tenaga benda itu sehingga menimbulkan suara yang begitu keras. "Jannah. ..." mas Ikbal membulatkan matanya. "Apa, Mas mau marah? Mas ga terima, hah! Lihat semua ini, lihat kulkas dan lemari, lihat kompor yang menjijikkan ini, apakah ini adalah hasil pekerjaan seorang wanita dewasa?" Aku membeliak marah sekali. "Ma-maaf, Mbak aku belum sempat, semalam aku lelah sekali," ucapnya lirih sambil berlindung di balik punggung suamiku. "Lelah katamu? Lelah ngapain?!" Kuhampiri dia dan kuseret dia ke kamar mandi dengan kasar. "Apa ini? Pakaian dan pembalutmu kau buang sekenanya saja, kau pikir aku p1embantumu?" Wanita itu terlihat pucat dan gemetar sekali. "Sudah ... Sudah Jannah aku akan membereskannya," sela mas Ikbal berusaha menengahi kami. Luar biasa, Ia rela melakukan tugas rumah demi istri barunya. Gubrak! Kuangkat baskom pakaian tersebut dan kubanting ke halaman belakang. "Kata siapa kau bebas mengotori dapur dan kamar mandi, kau pikir ini rumah Ayahmu, hah! Asal kau tau aku menemani Mas Ikbal dari hidup di kost kost petakan, menabung sedikit demi sedikit untuk membangun rumah ini dan kini kau masuk sebagai pengacau," kataku sambil menghampirinya dan bersiap mencekiknya. "Mas ....!" Wanita itu menjerit takut. "Jannah," Mas ikbal menangkap kedua tanganku dan berusaha merangkulku, "Jannah Istigfar, Ya Allah, Bunda ... Mungkin kamu terlalu lelah dan stress." Ia berusaha menenangkanku. "Aku bukan saja lelah dan stress aku sudah gila olah perbuatan kalian, aku gila!" teriakku tanpa kendali Mas Ikbal lalu menarikku dan membawaku ke ruang tivi, Sambil terus memintaku untuk beristighfar. Putriku yang terbangun langsung menangis ketakutan melihatku menngamuk, mungkin ia tak pernah melihat ibunya sekacau itu sehingga ia menjadi syok. Beberapa tetangga berdatangan dan mengetuk pintu rumah. "Assalamualaikum, ini ada apa Mbak Jannah," ucap mereka yang menghambur langsung padaku yang kini nyaris pingsan dan lemas karena marah. Tatanggaku mereka yang sudah dekat padaku langsung masuk ke dalam rumah dan ikut terbelalak melihat keadaanku, rumah, anak dan lebih-lebih lagi seorang madu. "Selamat Mas Ikbal, kau sudah mengacaukan hidupku, selamat Soraya, kau puas sekarang?!"desisku. Dan wanita itu hanya berdiri mematung tanpa tahu apa yang harus dilakukannya sedang tetangga sibuk mengipasiku, mengambil putriku dan membereskan dapur dan mesin cuci. Luar biasa, bukan? Demi Tuhan aku jijik sekali dengan adik maduku ini, jijik sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD