Love in Transit

1196 Words

Jakarta pagi itu tidak benar-benar cerah. Langit berwarna abu-abu pucat, seolah enggan memberi semangat. Dari jendela besar apartemen Nick di Green Lake City, pemandangan hanya dipenuhi deretan gedung dan jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan, klakson bersahut-sahutan seperti orkestra yang dipaksa main tanpa konduktor. Tania mengerjap pelan, tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layar menyala, angka digital terpampang jelas. “Baru jam tujuh…” gumamnya lirih. Sekejap kemudian, dengan rambut masih awut-awutan dan mata yang dipaksa melek meski terasa berat, ia refleks bersuara, “Mama!” pekiknya tertahan, nyaris seperti bisikan panik. Semoga aja Mama belum bangun, batinnya, buru-buru menuruni ranjang. Tatapannya langsung terpaku pada alas tidur Nick tadi malam, rapi, koso

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD