Cupid’s Turbulence

1256 Words
Nick menatap sekeliling apartemen studio milik Tania, ruang sempit yang jelas tidak layak dihuni dua orang. Sudut bibirnya terangkat tipis, cukup untuk membuat Tania langsung waspada, lalu otomatis kembali ke mode defensif ala Tania tiga tahun lalu. “Kamu ngapain senyum-senyum gitu?” tanyanya cepat, sambil memeluk tubuhnya sendiri seolah butuh tameng. Nick, dengan gaya sleek khasnya, memasukkan kedua tangan ke saku celana lalu berbalik menghadap Tania. “Nice,” ucapnya ringan. “Kayaknya kita bisa mulai dari studio kecil ini… mulai ngerakit chemistry” Tania membelalak. Apa!? Kupingnya jelas nggak rusak. Barusan Nick bilang apa? Mulai ngerakit chemistry? “No. Ini nggak mungkin bener, kan?” gumamnya, menggeleng kecil sambil menatap Nick dengan ekspresi horor campur disbelief. Jantungnya langsung bikin ulah, bukannya kerja sama malah bikin parade liar. Tania hampir saja kehilangan keseimbangan, berdiri dengan wajah yang jelas-jelas nggak siap menghadapi kalimat elegan nan absurd dari Nick. “Dengar, ya,” Tania menatap Nick dengan serius, kedua tangan terangkat seolah membuat batas. “Di sini tuh banyak kru maskapai kita. Kamu sama aku nggak boleh tinggal seatap. Nanti malah jadi bahan gosip liar, terus aku mendadak jadi artis dadakan, trending topic di grup WA perusahaan. No, thank you. Please, ya.” Nick hanya menatapnya sambil menahan senyum tipis, senyum yang menurut Tania sudah cukup untuk memicu bencana nasional. “Kamu punya dua pilihan,” ujarnya tenang. “Kita stay di sini… atau kamu ikut aku pindah ke apartemenku?” Dua pilihan yang terasa seperti jebakan. Dan Tania tahu, apa pun jawabannya, hidupnya tidak akan lagi tenang. “Kamu—” Belum sempat Tania menyelesaikan protesnya, Ting tong! Bel apartemennya berbunyi. Suara itu menusuk udara dan sukses membuat Tania membeku seperti patung lilin. Wajahnya sekonyong-konyong pucat. “Semoga aja itu salah pencet… atau tamunya tetangga,” bisiknya panik. Namun, semenit kemudian— Ting tong! Ting tong! Ting tong! Belnya meraung seperti dipencet orang yang dendam tujuh turunan. Tania menelan ludah sampai terdengar sendiri oleh telinganya. “Siapa sih yang datang jam begini?!” “Mau aku bukakan?” tawar Nick santai, malah terlalu santai. Seolah ini cuma penghantaran pizza yang datang lebih cepat dari jadwal. “Jangan!” Tania langsung menghentikan langkahnya, memblokir Nick dengan tubuh sendiri. Ia celingukan kiri–kanan seperti agen rahasia amatir, lalu memandang Nick dengan ekspresi ‘Oh My God tolong gue please’. “Maaf ya…” katanya lirih, pasrah namun terdesak. Nick baru saja mengangkat alis, belum sempat bertanya apa pun. Tania sudah menyeretnya ke wardrobe besar di sudut ruangan. “Masuk sini. Cepat.” “Are you seriuos?” tanya Nick dengan ekspresi tidak percaya “Shhh!” Tania menempelkan telunjuk ke bibirnya sendiri. “Stay di dalam. Jangan keluar. Jangan bersuara. Jangan bernapas terlalu keras sampai orangnya pergi. Ngerti?” Nick menatapnya beberapa detik, cool, tenang, seperti pria yang sudah terbiasa menghadapi kekacauan. “You’re unbelievable,” gumamnya, tapi ia tetap masuk juga. Tania lalu mendorong Nick plus koper kecilnya ke dalam wardrobe, lalu menutup pintunya dengan cepat, seolah sedang menyembunyikan pangeran kerajaan dari paparazzi. Tania melangkah cepat menuju pintu, menelan gugupnya sebelum memutar kenop Dan ‘boom.!’ Luna. Pramugari senior, tetangga blok sebelah, sekaligus ratu gosip regional maskapai. “Oh… Mbak Luna.” Tania menampilkan ekspresi pura-pura kaget yang sangat amatir. Ia berdiri di ambang pintu tanpa memberi gestur mempersilakan masuk. Luna tersenyum tipis—tipis seperti default senyum orang yang hobi menyimak drama hidup orang lain. “Miss Tania, punya waktu nggak?” tanyanya. Wajahnya tampak muram, tapi aura ingin tahu-nya tetap berpendar jelas. “Punya sih, ta—” Belum sempat Tania menyelesaikan kalimat, Luna sudah nyelonong masuk begitu saja dan mengambil tempat di sofa. Sofa yang jaraknya cuma beberapa langkah dari wardrobe tempat Nick disembunyikan. Tania hampir meratap ke arah langit-langit. Ia menggaruk kepala yang jelas-jelas tidak gatal. “Tapi aku mau siap-siap, Mbak. Mau pergi lagi…” ujarnya. Bohong total. “Oh gitu ya? Mau ke mana?” Luna menatapnya penuh selidik. Tania hanya mampu nyengir, nyengir tipe orang yang bohongnya belum punya alur, skrip, maupun plot twist. “Ehehe… ya… itu…” Di dalam wardrobe, entah kenapa Tania bisa merasakan aura Nick yang tenang, cool, tapi pasti lagi menikmati tontonan kekacauan istrinya di luar. “Atau aku ganggu Miss Tania, ya?” tanya Luna lagi, suaranya dibuat-buat lembut, tapi mata kepoan itu menyapu ruangan seperti sedang inspeksi mendadak. Tania buru-buru menggeleng, kedua tangannya ikut bergerak seolah menepis udara. “Bukan gitu, Mbak. Maksud aku… habis ini aku mau cari makan malam.” “Aku ikut ya, Miss! Sumpek banget sendirian di kamar. Mau malming, tapi pacar aja belum punya… hehe.” Luna langsung menyelutuk, semangatnya meledak seketika sambil nyengir lebar. ‘Well done, Tania. Well done,’ batinnya sarkastis. ‘Udah capek, sekarang malah nambah kerjaan biar makin capek. Hebat banget. Tepuk tangan, please.’ Padahal yang ia mau cuma rebahan, skrol sosmed, atau telponan santai sama ponakannya Tania sempat ingin meralat semuanya, bahwa dia salah ngomong, bahwa dia sebenarnya mau mandi lalu mati gaya di kasur. But no! Nggak ada satu pun cara elegan untuk mengusir Luna dan membebaskan Nick dari wardrobe tanpa bikin heboh satu blok pramugari. Dia bahkan bisa membayangkan Nick di dalam lemari itu, diam macam vampir nunggu matahari terbenam. Bisa-bisa pingsan berdiri kalau kelamaan. “Iya sudah, ayo, Mbak,” akhirnya ucap Tania pasrah. Dalam hati ia berdoa, tolonglah, begitu gue pulang nanti, Nick udah nggak di sini. Please.’ “Begitu aja, Miss? Nggak ganti baju dulu?” Luna mengangkat alis, menunjuk seragam pilot yang masih melekat full di tubuh ramping Tania. “Nggak lama kok, Mbak. Ayo.” Tania mengisyaratkan langkah pergi sebelum Luna menemukan hal-hal yang tidak seharusnya ia temukan di apartemen kecil itu. “Ayo.” Begitu pintu tertutup rapat, Nick akhirnya melangkah keluar dari dalam wardrobe. Napasnya masih tersengal sedikit, wajahnya merah, antara kepanasan dan malu karena baru saja menjalani sauna gratis ala apartemen Tania. Belum sempat ia menarik napas panjang, ponselnya bergetar dan muncul tulisan ‘Mama’ incoming video call. Nick refleks menekan tombol hijau, lalu menjatuhkan diri ke sofa dengan desahan lelah. “Yes, Ma.” “Nick, kamu sudah ketemu Tania belum?” Mama Sarah langsung menyerang tanpa basa-basi. Nick mengangguk cepat, berusaha terlihat santai padahal otaknya masih panas. “Ini aku di apartemennya, Ma.” Mata sang mama langsung berbinar, senyumnya merekah seperti baru saja menerima perhiasan edisi terbatas. “Mana orangnya? Mama mau bicara, kangen banget.” Nick menelan ludah. “Tania lagi keluar cari makanan.” Alis Mama Sarah terangkat tajam. “Kamu bohongin Mama, Nick? Awas ya—” “Madam Sarah White,” potong Nick cepat sambil mengangkat tangan seolah bersumpah. “Aku nggak bohong. Kami baru touchdown Jakarta, dan dia lapar. Dia pergi sama temannya buat cari makanan.” “Hm.” Mama Sarah menyipit, menatap seperti detektor kebohongan hidup. “Ya sudah… Mama percaya kamu untuk sekali ini. Jangan coba-coba.” Nick hanya tersenyum menanggapinya. “Yes, Ma.” Setelah itu obrolan bergeser ke topik biasa, tentang cuaca, tentang rumah, tentang betapa Mama Sarah merasa Nick makin kurus, padahal itu efek lighting. Hingga akhirnya Nick menghela napas panjang dan berkata, “Ma, aku mau mandi dulu ya. Panas banget dari tadi.” “Oke. Jangan lupa makan,” pesan Mama Sarah sebelum mengakhiri panggilan. Begitu layar ponsel padam, ruangan kembali hening. Nick menyandarkan kepala ke sofa, menatap langit-langit dengan senyum miring. ‘Tiga tahun sudah berlalu… Tania malah makin keras kepala.’ Bahunya terangkat pelan, tubuhnya masih malas bergerak. ‘Kayaknya aku harus cari cara lain biar dia takluk,’ batinnya, setengah frustrasi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD