Emergency Landing di Hatiku

1115 Words
“Miss, besok terbang lagi?” tanya Luna sebelum mereka berpisah di depan pintu koridor. Tania menggeleng sambil merapikan tote bag-nya. “Besok libur. Lusa baru fly lagi. Kamu?” “Besok short haul ke Singapore, Miss. Mau nitip sesuatu nggak?” tawar Luna ramah. Tania terkekeh kecil. “Nggak, thanks. Kalo gitu safe flight ya besok. Aku masuk dulu.” Luna melambai sebelum berjalan pergi, sementara Tania menghela napas pelan. Dalam hati ia sudah mengomel, ‘Nick White… semoga lo sadar diri’ dan— Tada…! Begitu pintu apartemennya terbuka, hidungnya langsung diserbu aroma masakan yang warm, rich, dan sangat menggoda. Dan ketika ia menoleh ke ruang tengah— Tania terpaku. Nick berdiri di sana dengan kaos crew neck hitam dari brand premium, apron abu-abu melingkar rapi di pinggang. Rambutnya sedikit berantakan namun tetap stylish, seolah baru keluar dari iklan majalah. Cahaya lampu dapur jatuh di wajahnya, menegaskan garis rahang tegas dan senyum tipis yang membuatnya tampak seperti kapten pilot yang kebetulan sedang berperan jadi chef pribadi. Tampan dan elegan. Refleks, Tania menutup pintu rapat-rapat, nyaris panik. “Gila… kapten Nick! Kamu ngapain masih di sini? Dan serius, ini semua kamu yang masak?” Nick menoleh pelan sambil memainkan spatula di tangannya, ekspresinya tenang tapi penuh sindiran. “Kalau bukan aku, siapa lagi? Kamu kira ada jin baik hati yang nongkrong di dapur kamu, hmm?” Tania terdiam, tapi Nick sudah melanjutkan dengan suara datar yang tak memberi ruang untuk bantahan. “Selama kamu belum memutuskan mau tinggal di mana, aku akan tetap di sini. Mau kamu terima atau tidak.” Hening sejenak. Nick tetap tenang, spatula di tangannya bergerak mengaduk masakan. Di sampingnya, Tania menatap tak percaya. Pria yang dulu rambutnya mirip mie instan, petakilan, dan asal nyeplos, kini berdiri dengan gaya baru, begitu berbeda sampai Tania harus beberapa kali menggeleng, berusaha menyadarkan diri kalau ini nyata. Tapi…’ Bibir itu’… Tatapan Tania jatuh pada bibir Nick yang soft pink, jelas tanda dia bukan perokok. Lalu jakun yang naik turun, d**a bidang, dan— Plak! Tania menampar wajahnya sendiri. “Sadar, Tania! Sadar! Masa lo terpesona sama suami sendiri? Malu-maluin banget,” gumamnya pelan. Nick mematikan api kompor, lalu menoleh dengan ekspresi penasaran. “Muka kamu kenapa pucat begitu? Sakit?” tanyanya, nada suaranya tetap calm. Ia mengangkat tangan, menempelkan punggung tangannya ke dahi Tania. Dug! Dug! Dug! Degup jantung Tania meledak, seperti suara ratusan kuda berlari di savana. Panik, ia cepat menepis tangan Nick. “A-apaan sih! Aku baik-baik aja kok,” ucapnya terbata, lalu berlari meninggalkan island kitchen. Sembunyi di mana? Kamar nggak ada. Paling banter… kamar mandi. Tania mengunci diri di kamar mandi, lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang pintu. “Kenapa sih gue jadi kayak gini? Apa gue jatuh cinta?” gumamnya, tangan terangkat meremas d**a sendiri, masih berusaha menetralkan degup yang kacau. “Nggak, nggak! Ini fix gara-gara kaget. Tiba-tiba dia muncul lagi di hidup gue yang udah nyaman, aman, sentosa,” lanjutnya cepat. Sudut bibirnya terangkat, senyum tipis muncul. “Iya… ini bener.” Ia melangkah ke arah wastafel, menatap bayangan dirinya di cermin. “Sebelum yang lain sadar, gue harus bisa ngusir dia dari sini. Masa harus seatap? Oh no… nggak bisa, itu gila.” Tok! Tok! Tania melompat kaget ketika suara ketukan terdengar di pintu kamar mandi. “Kamu tidur di dalam, Tania?” suara Nick terdengar datar dari luar. Tania mendengus, lalu memutar bola matanya dengan malas. ‘Udah bagus fisiknya berubah, tapi mulutnya… tetap aja nyelekit. Bikin bete gue,’ gerutunya dalam hati. Perlahan Tania melangkah keluar dari kamar mandi, matanya langsung menangkap Nick yang berdiri bersedekap, menatapnya tajam. “Makan sana,” perintahnya singkat, dagu terangkat menunjuk ke arah meja makan yang sudah penuh hidangan. Nasi goreng western itu jelas menggugah selera. Tapi bukan Tania kalau tidak membela egonya yang setinggi langit. “Nggak, aku udah makan tadi sama Luna,” bohongnya cepat, meskipun perutnya sudah menjerit minta diisi. Nick tidak menanggapi. Dengan tenang, pria itu menjatuhkan tubuhnya seenaknya di atas kasur empuk Tania, lalu memejamkan mata seolah kamar itu memang miliknya. “Woi! Bangun, itu tempat tidur aku!” protes Tania. Nick membuka mata perlahan, lalu menepuk sisi kosong di sampingnya. “Tempat kamu di sini,” ucapnya tenang. Kalimat sederhana itu cukup membuat jantung Tania berdegup liar, seolah siap melompat keluar dari d**a. Tania menghentakkan kaki dengan kesal, lalu bergegas ke wardrobe untuk mengambil pakaiannya sebelum kembali lagi ke kamar mandi. “Gue butuh refreshing otak, biar bisa mikir cara ngusir dedemit itu,” umpatnya sambil mendengus. … Tania keluar dari kamar mandi dengan rambut masih menetes dan T-shirt kebesaran yang, baru ia sadari, jatuhnya kebablasan longgar. Begitu melangkah ke kamar, Nick masih duduk santai di atas kasurnya, iPad di pangkuan, tampak terlalu nyaman di ruang yang bukan miliknya. Tanpa menoleh, Nick berkata pelan, datarnya menusuk, “Dengan outfit kayak gitu… kamu mau bikin aku ke-trigger, Tan?” Tania otomatis berhenti. Alisnya naik, mulutnya nyaris protes, tapi matanya kemudian turun melihat dirinya sendiri. Oh no! Kaos itu tipis. Sangat tipis. Dan gongnya lagi, dia lupa pakai dalaman! “Ya ampun…” Tania memelintir ujung kaosnya, pipinya memanas. “Aku cuma mau tidur, bukan…—ya pokoknya bukan itu!” Nick akhirnya menoleh, hanya sekilas. Tatapannya singkat, tapi cukup untuk membuat Tania ingin masuk balik ke kamar mandi dan hidup selamanya di sana. “Next time,” ucap Nick pelan, sudut bibirnya terangkat sedikit, “kalo mau tampil turbulen begitu, kasih aku heads up dulu.” Tania ingin melempar bantal ke wajahnya. “Nick, sumpah ya, kamu itu-” “Hm?” Nick menutup iPad, lalu bangkit perlahan dari kasur. Gerakannya tenang, presisi, seperti orang yang terbiasa menghitung langkah di cockpit. Ia berdiri sangat dekat. Terlalu dekat. Tania menelan ludah. “H-hey… jangan mendekat gitu. A-aku mau tidur.” Nick menundukkan kepala sedikit, suaranya rendah tapi tetap cool, “Aku juga. Tapi kamu lupa satu hal, Tan.” Tania mengerutkan alis. “Apa lagi?” Nick mengangkat satu alis, menatap langsung ke matanya, tatapan yang membuat tulang belakang Tania seperti dialiri arus listrik halus. “Kita cuma punya satu tempat tidur.” Tania langsung membeku. “HAH?! Maksud kamu apa?! kamu tidur di sofa kan!?” Nick menggeleng pelan. “Sofanya patah.” “Patah? Kapan?!” Tania hampir teriak dan hampir saja menangis Nick memasukkan tangannya ke kantong celana santai yang ia pakai dan menjawab santai, “Pas kamu mengunci diri di kamar mandi, aku cek. Kayaknya dari tadi pagi. Kamu nggak sadar?” Tania memicingkan mata curiga. “Terus kamu mau tidur di kasur aku?” Nick hanya mengangguk sekali. “Berdua?!” Nick mengangkat bahu seolah jawaban itu jelas. “Better than tidur di lantai, kan?” Senyumnya tipis, annoying, dan… menyebalkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD