Piring-piring sudah kosong, hanya menyisakan aroma kopi dan roti bakar yang masih hangat di udara. Tania bersandar di kursi bar, menyuapkan sisa potongan buah ke mulut sambil men-scroll ponselnya pelan. Rambutnya masih berantakan khas bangun tidur, kaus kebesaran menutupi setengah paha, dan ekspresinya sudah menunjukkan tanda-tanda “habis sarapan, waktunya rebahan”.
Nick menghabiskan tegukan terakhir kopinya, lalu meletakkan mug itu dengan suara pelan. Tatapannya terarah ke Tani, bukan intens, cuma… fokus. Terlalu fokus untuk ukuran pagi hari.
“Ayo,” ucap Nick tiba-tiba.
Tania langsung mendongak, wajahnya cengo. “Ayo… apa?” tanyanya penuh curiga.
Nick berdiri, meregangkan bahu dengan santai. “Olahraga.”
Refleks, Tania melempar ponselnya ke atas meja makan lalu memeluk tubuh sendiri dengan ekspresi kocak. “Ka-kamu jangan macem-macem ya! A-aku bukan cewek gampangan, meski status kita masih suami istri.” Kalimat itu meluncur cepat dari bibirnya, tanpa filter.
Nick mengerutkan dahi, lalu mencondongkan tubuh, kedua tangan bertumpu di meja. “Apa hubungannya kamu bukan cewek gampangan sama kita olahraga? Serius, tadi malam kamu kebentur di kamar mandi sampai—” ia menunjuk kepalanya sambil memutar telunjuk, gestur klasik yang seolah berkata: ‘otak kamu baik-baik saja kan?’
Tania melotot kesal. “Nick White!”
“Yes, I am!” jawab Nick cepat, wajahnya tetap tak berdosa.
Tania mendengus, lalu menatap Nick dengan mata menyipit. “Kamu sengaja ya mancing-mancing aku?”
Nick hanya mengangkat bahu santai. “Aku kasih waktu sepuluh menit. Kalau kamu belum ganti pakaian yang layak, aku bakal paksa kamu jogging pakai begituan. I mean every single word, my wife,” ucap Nick dengan suara calm yang malah bikin bulu kuduk Tania berdiri.
“Olahraga beneran ini?” Tania memastikan lagi, masih ragu.
Nick mengangguk, sudut bibirnya terangkat tipis. “Kamu kira apa? Olahraga kasur? Jadi… kamu sudah siap? Ayo kalau—”
“No! No! No! Nggak ya! Iya, iya, kita olahraga di lapangan!” Tania langsung melompat dari kursinya dan ngacir seperti dikejar setan. Senyum samar pun tercetak di wajah tampan Nick, menambah aura coolnya.
“Ternyata otaknya m***m juga,” gumam Nick sambil menggeleng pelan, senyum tipis nyaris tak terlihat. Ia kemudian melirik arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. “Five minutes left,” ucapnya tenang, nada suaranya dingin tapi penuh tekanan halus.
“Iya! Sabar napa sih?” omel Tania, akhirnya muncul dari kamar mandi lengkap dengan setelan jogging: hoodie oversized warna abu-abu, celana training hitam yang pas di kaki, dan sneakers putih yang masih tampak baru. Rambutnya dikuncir tinggi, memberi kesan sporty tapi tetap manis.
Tania menatap suaminya seolah Nick baru saja mengusulkan terjun dari pesawat tanpa parasut. “Nick. Please deh ya. Aku baru selesai makan, masa dipaksa olahraga,” protesnya, meski tahu ujungnya pasti sia-sia.
“Justru itu. Biar nggak langsung tumbang ke kasur,” balas Nick santai. Ia meraih kunci mobil dari keychain, gerakannya tenang. “Ayo jalan.”
“Bentar! Aku cek dulu.” Tania berlari ke arah pintu, membukanya pelan, lalu melirik kiri dan kanan dengan waspada. Setelah yakin tak ada siapa pun, ia memberi isyarat cepat.
“Ayo buruan,” ucapnya, sebelum melesat menuju kubikel lift yang tak jauh dari sana. Nick menyusul dari belakang, langkahnya tenang, senyum samar nyaris tak terlihat.
Pertanyaannya, sampai kapan mereka mau main kucing-kucingan? Apalagi tetangga Tania adalah seorang pramugari senior yang hobi gosip, mulutnya lebih tajam daripada speaker bandara.
…
Setelah sekian lama terjebak di padatnya jalanan Jakarta, akhirnya mobil mereka berhenti di depan Suropati Park.
Tania menghela napas panjang, menatap keluar jendela dengan wajah lega. “Finally…” gumamnya, seolah baru saja lolos dari misi penyelamatan.
Nick hanya melirik sekilas, lalu mematikan mesin mobil dengan gerakan tenang. Ia meraih kunci, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Let’s go.”
Pintu mobil terbuka, udara segar bercampur aroma pepohonan langsung menyapa. Tania melangkah keluar lebih dulu, merenggangkan tangan ke atas seperti atlet yang siap pemanasan. Nick menyusul dari sisi lain
“Kamu duluan aja, aku nyusul,” ujar Tania.
Nick membungkuk, hidung mancungnya nyaris menyentuh hidung sang istri. Napas mereka bertabrakan, senyum menyebalkan tercetak di wajahnya. “Haha… kamu pikir aku Megan yang bisa kamu bohongi?”
Tania memutar bola mata dengan malas, lalu memasang tampang memelas. “Sekali ini aja, please…”
“No. Lari.” perintah Nick singkat, nada suaranya tenang tapi tegas.
“Nick…” Tania mencoba lagi.
Nick mulai menghitung, suaranya rendah tapi penuh tekanan. “Satu… dua… atau aku bakal hubungi Papa dan bilang kamu mau resign dari profesi pilot, balik ke perusahaan. Papa pasti senang banget, apalagi sekarang Loli kewalahan ngurus Megan—”
Belum sempat Nick menuntaskan kalimatnya, Tania langsung angkat tangan. “Fine! Aku lari. Sekarang aku lari!” ucapnya dengan nada gemas, sebelum berlari kecil dengan ekspresi setengah kesal setengah pasrah.
Nick hanya berdiri di tempat, senyum tipisnya muncul lagi, sleek, cool, dan jelas menikmati kemenangan kecilnya.
Tania mulai berlari kecil mengelilingi area taman, tapi baru dua puluh langkah, napasnya sudah terdengar seperti murid sekolah yang dipaksa upacara pas hari Senin.
“Nick… aku… mau… mati…” serunya sambil menepuk d**a sendiri, seolah serangan jantung tinggal tunggu giliran.
Nick berjalan santai di belakangnya, bahkan tidak terlihat ngos-ngosan. “Tania, baru juga tiga puluh detik”
“Tiga puluh detik itu lama! Kamu kira ini film action? Di dunia nyata, stamina perempuan normal itu—”
“Kamu seorang Pilot Tania, stamina harus kuat” potong Nick cepat
Tania langsung berhenti dan menatap Nick dengan melotot. “Kuat di kokpit pesawat beda, oke! Di pesawat tuh ada AC… flooring-nya rata… terus ada kapten ganteng yang bisa jadi penyemangat. Di taman? NOTHING!”
Nick menyilangkan tangan di d**a. “Aku kurang ganteng buat jadi penyemangat?”
Tania terdiam lima detik. Pikirannya menimbang. Lalu ia mendecak.
“Ganteng. Iya. Tapi menyebalkan. Nilai penyemangatnya jatuh karena sifatmu, Captain.”
Nick mengangguk pelan. “Baiklah. Lari lagi.”
Tania mendesah panjang, lalu kembali berlari kecil. Kali ini ia memasang ekspresi dramatis seperti pemain sinetron.
“Kalau aku pingsan, itu salah kamu! Nanti aku trending di t****k dengan tagar Co-Pilot Tak Kuat Sporty Life Challenge!” seru Tania, napasnya mulai tersengal.
Nick mengimbangi langkahnya dengan santai, ekspresi tetap cool. “Bagus dong. Minimal kamu trending bukan karena gosip jambak-jambak rambut sama Alisa.”
Tania langsung melotot, meski masih berlari. “Kamu berani banget nyebut nama si cacing itu? Kalau bukan gara-gara kamu, hidup aku aman-aman aja nggak ketemu dia. Eh, malah kamu lagi yang bawa dia masuk ke hidup aku. Rese banget. Toxic!”
Nick hanya terkekeh, lalu tiba-tiba menyalip Tania dan berlari pelan di depannya. “Ayo. Kejar aku.”
“Nggak mau!” Tania langsung berhenti. “Aku bukan golden retriever!”
Nick menoleh dari depan. “Oke. Kalau begitu aku panggil Papa. Bilang kamu—”
Belum selesai kalimat itu keluar, Tania otomatis meloncat maju dan mulai berlari lagi.
“Sumpah ya Nick, kamu itu menyebalkan jadi manusia, kenapa nggak jadi kodok aja sih!” desisnya
Nick tertawa kecil, pertama kalinya sejak pagi itu.
Suara rendahnya menyusul dari belakang, “Good girl.”
Sementara mereka sibuk berolahraga sambil terus beradu mulut, di apartemen, sebuah kejutan diam-diam sudah menunggu untuk mengguncang hari mereka.