Prolog
Tolong vote dan komen klo suka yaa.. saya bisa tiba-tiba hapus cerita dan di pindah di platform lain, tergantung yang banyak peminatnya ^^
Selamat membaca!
***
Tangan Melissa menggenggam erat gagang pintu sebuah kamar. Seharusnya dia memberikan kejutan untuk kekasihnya, Alex. Namun melihat keadaan yang terjadi sekarang, sepertinya Melissa lah yang mendapat kejutan.
Bagaimana tidak, pemandangan yang dilihatnya adalah seorang wanita yang tengah terbaring di ranjang dengan seorang laki-laki diatasnya yang tak lain adalah kekasihnya sendiri, Alex. Berdua, tanpa busana di ranjang yang sama, mereka memandang Melissa seperti sejoli yang kesenangannya sedang diganggu.
Pantang bagi Melisa untuk meratapi sebuah perselingkuhan. Dia menjaga ekspresinya tetap normal dan berkata.
"Oh, maaf, aku lupa memberitahu kalau seminar diundur. Silahkan lanjutkan kegiatan kalian." Suaranya sedingin es puncak Himalaya.
Dengan perlahan Melissa menutup pintu kamar itu, kemudian pergi meninggalkan Apartemen yang telah dia tinggali bersama kekasihnya selama dua tahun.
"Melissa!" Alex mengejarnya ketika Melissa berada di parkiran bawah tanah untuk mengambil mobil. Melissa tidak menggubrisnya, dia tidak ingin lagi berurusan dengan pria yang kini telah menjadi masa lalunya. Penghianatan adalah kesalahan terbesar yang tidak bisa dia maafkan.
"Melisa Tunggu!" Suara itu terdengar semakin dekat. Melissa mempercepat langkahnya hingga sedikit berlari kecil, tak peduli dia sedang menggunakan sepatu setinggi tujuh centi. Sayangnya, dia kalah cepat. Alex berhasil mengejar dengan langkah kakinya yang panjang, dia mencengkram lengan Melissa karena wanita itu masih tidak mau menjawabnya. Namun tentu saja Melissa melepaskannya dengan kasar.
"Jangan menyentuhku! kau menjijikkan." Pandangan Melissa begitu mencemooh seolah Alex adalah wabah penyakit menular yang berasal dari tempat yang sangat kotor.
Alex melebarkan matanya, jelas dia terhina dengan perkataan Melissa. Tetapi sadar, dia tidak bisa melakukan apapun. Jakun pria itu naik turun secara dramatis saat dia menelan ludah.
"Aku bersumpah, aku hanya mencintaimu, aku tidak serius dengannya." Ucapnya lirih.
Melisa tersenyum sinis menanggapi Alex. "Oh, kalau begitu aku kasihan padanya karena hanya dijadikan mainan."
"Melissa ..." Alex ingin mengatakan sesuatu, namun kata-katanya seolah tertahan di tenggorokan.
"Alex ... Kau tau kan aku tidak suka berbagi barang yang aku miliki?" Melissa bertanya dengan nada angkuh yang memandang rendah, membuat Alex sesak napas.
"Lalu apa yang akan aku lakukan jika yang miliki di sentuh dan dimainkan orang lain ?" Alex masih tidak menjawab. Binar kebencian itu begitu nyata. Dia belum siap mendengar Melissa mengatakan sesuatu yang tidak ingin dia dengar.
"Aku akan membuangnya." Begitu mantab dan penuh tekad. Setelah mengatakan hal itu Melissa segera berbalik untuk masuk kedalam mobil sedan putihnya.
Alex terlihat panik, jelas dia tidak ingin melepaskan Melissa. Dia bergerak dengan cepat dan menggenggam pergelangan tangan wanita itu. Membuat Melissa melotot karena perlakuan Alex.
"Aku tahu aku tidak bisa dimaafkan, tapi tidak bisakah kau memberiku kesempatan?"
Melissa menatap tidak percaya, setelah tertangkap basah seperti itu, dia terang-terangan meminta kesempatan? Tidak tahu diri.
"Lalu bagaimana denganku? Apa kau memikirkan perasaanku ketika kau mengkhianatiku?" Melissa menjawab dengan marah, namun suaranya yang sedikit bergetar itu menunjukkan perasaannya yang terluka.
"Aku menyesal. Tapi aku tidak bisa melepaskanmu. Setelah itu, terserah kau ingin menghukumku seperti apapun."
Perkataan Alex membuat hatinya semakin sakit. Baru beberapa saat yang lalu dia melihat kekasihnya sendiri bercinta dengan wanita lain di atas ranjang yang biasa mereka tiduri berdua, dan sekarang laki-laki dihadapannya memohon agar Melissa tidak meninggalkannya?
sebesar apapun rasa cintanya terhadap Alex tetap tidak bisa menjadi penebus. Alex memang melakukan satu kesalahan, tapi kesalahan itu sangat fatal. Dan hukuman yang paling pantas untuk Alex adalah meninggalkannya.
Dengan kekuatan amarah dan rasa kecewa yang besar, Melissa berhasil melepaskan diri dari Alex, membuat pria itu terjatuh dalam sekali tendangan, padahal dia tidak pernah belajar beladiri.
"Jangan pernah muncul lagi di hadapanku Alex. Selamat tinggal."
Alex meninju udara dan menggeram saat melihat mobil Melissa yang pergi menjauh.
.