Tolong vote dan komen kalau suka yaa ^^
saya bisa tiba-tiba hapus cerita dan pindah ke platform lain.. tergantung yang mana yang banyak peminatnya ^^
Ok selamat membaca!
***
.
"Sebagai sahabatmu aku tidak bisa menerima ini!" Sarah meneguk birnya kasar, "Bagaimana bisa k*****t itu berselingkuh di belakangmu?" Sarah tidak bisa tenang, Melisa berusaha mengabaikan makhluk paling berisik itu. Setelah pergi dari Apartemennya dan memutuskan tidak akan kembali, Melissa memutuskan untuk sementara dia akan tinggal di klinik hewan yang dimilikinya. Dia menelpon Sarah karena membutuhkan tempat untuk bercerita. Selama satu jam penuh (begitu perhitungan Melissa) Sarah terus berbicara panjang lebar, mencerocos tentang betapa kurang ajarnya Alex, bahkan sesekali menyumpahi pria yang sudah Melissa anggap sebagai mantan kekasihnya. Ini resikonya memiliki sahabat yang maniak drama.
"Aku masih tidak percaya! Bagaimana bisa drama ini mengaduk-ngaduk perasaanku seperti ini." Wanita manis itu meremas dadanya. "Padahal kau sudah begitu banyak berkorban!" Sarah kembali meraih gelas birnya, mengernyit ketika gelasnya sudah tiga seperempat kosong.
"Sarah, aku datang ke sini bukan untuk mendengar celotehanmu tapi untuk menikmati malam akhir pekan." Melissa akhirnya memberi komentar, Sarah melotot padanya.
"Omong kosong!" Melissa yakin sahabatnya sudah mabuk. "Mana mungkin kau menelponku dan mengajakku minum di bar jika kau baik-baik saja!"
Melissa hanya tersenyum kecut menanggapinya. Memang dia sedikit terguncang, namun tidak ingin mengakuinya.
"Aku berani bertaruh dia akan menyesal." Sarah kembali meneguk birnya.
"Aku tidak peduli Sarah, aku tidak ingin memikirkannya lagi."
Sarah mendekat lalu merangkul lengan Melissa. "Benar. Tidak ada waktu untuk menangisi seorang b******n. Pergilah dan dapatkan pria tampan dan kaya lebih dari Alex."
"Tidak ada pria gagah dan kaya yang masuk ke bar murah ini." Melissa melihat keadaan di bar, pengunjung kebanyakan hanya karyawan kantor yang kebetulan terletak hanya dua blok dari tempat itu, sisanya sama seperti Melissa, anak muda yang hanya ingin bersenang-senang. Dan Lagipula, dia mungkin tidak tertarik untuk menghabiskan malam dengan seorang pria setelah kejadian yang baru dialaminya. Alex, benar-benar menghancurkan kepercayaannya terhadap cinta dan hubungan jangka panjang.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Sarah melirik tangan kiri Melissa yang mengenakan arloji.
"Jam sepuluh. Ada apa memangnya?"
"Seharusnya aku dirumah sekarang. Keluarga besarku memiliki tradisi makan malam bersama di akhir pekan di setiap awal bulan. Tapi karena kau menelpon dan sepertinya masalahmu sangat serius, makanya aku datang."
"Kalau begitu kenapa kau tidak bilang?"
Sarah kembali untuk mengambil tas di kursinya dan memasukkan barang-barangnya.
"Tidak. Karena aku harus punya alasan untuk melarikan diri."
"Sialan kau." Meski berkata seperti itu, dia tahu Sarah tulus memperhatikannya.
Sebelum pergi Sarah sempat menatap Melissa. "Mell, kau bisa menginap di rumahku kalau mau."
Melisa tersenyum ramah, "Tidak usah, Selamat malam Sarah."
Mengamati Sarah yang sudah menghilang di antara keramaian, Melisa meraih jus aplenya sambil mengamati keadaan bar yang mulai sepi. Mungkin yang dikatakan Sarah ada benarnya, dan itu membuatnya gelisah. Tapi menginap bersama keluarga Sarah juga bukan pilihan yang tepat, terlebih jika adik perempuannya yang cerewat selalu ingin mengetahui selak beluk kehidupannya.
Melissa menghala napas, manik matanya menatap langit-langit. Dirinya termenung, dinginnya udara malam, dentingan jam tua, dan bisikan orang-orang sama sekali tidak mengganggunya.
"Merenung lagi Melisa?"
Wanita itu menoleh, tersenyum tipis pada pemanggil. "Sudah tidak sibuk Pete?" godanya. Kedua kakinya sudah bergerak untuk menduduki kursi tinggi itu.
"Bicara apa kau Melissa? Mana mungkin aku sibuk dengan pelanggan hitungan jari?" Melissa terkikik lalu memesan koktail wiski saat bokongnya b******u dengan kursi tersebut.
"Wah, sudah berapa lama yah kau tidak minum alkohol?"
"Yeah, tuntutan perkerjaan melarang kami mabuk." Bartender itu terbahak, lalu menyiapkan pesanannya.
"Tadi aku melihat Sarah tapi tidak sempat menyapanya."
Melisa tidak membalas, dia malah menyaksikan Pete meracik minumannya.
"Silahkan, satu koktail siap!" Seru Pete, Melissa mengendus dan menggoyangkan cairan itu perlahan sebelum meminumnya, dia tersenyum.
"Vanilla, ini koktail vanilla?"
"Kau suka?"
Melisa mengangguk lalu menyesapnya perlahan.
"Oh, melihat ekspresi senangmu aku jadi teringat kegilaan kalian berdua dulu. Kau masih ingat?"
Tentu saja, saat Melisa dan Sarah bertingkah layaknya orang gila akibat rasa girang karena lulus dari Cornell University sebagai dokter hewan dan juga alkohol yang tak henti-hentinya diteguk. Mereka berdua harus izin sehari akibat pengar hebat.
"Itu dulu Pete, kami sudah dewasa sekarang." Dirinya mempertanyakan kepastian dari kalimatnya barusan.
Pete tertawa lalu meminta izin untuk melayani dua wanita yang baru saja duduk dua kursi dari dari Melissa, tentu saja dia memberi izin. Melissa menikmati minumannya dengan damai, jauh dari celoteh Sarah dan semoga saja bar sepi ini akan menenangkannya. Tapi kenyataan tidak selalu manis.
Dua wanita itu terus berceloteh tentang seorang milyuner muda yang sedang menjadi perbincangan hangat di antara wanita. Mereka membicarakan betapa tampan wajah pria itu dan mengatakan bahwa dia lebih pantas menjadi model daripada seorang pebisnis. Mellisa muak mendengarnya seakan beritanya sepenting berita perang dunia kedua. Membicarakan laki-laki hanya akan mengingatkannya pada Alex. Dengan mood hati yang berubah, dia lebih memilih mabuk sekarang.
"Pete, aku memesan segelas vodka." Pete terlihat terkejut karena Melisa tidak pernah memesan minuman itu sebelumnya.
"Melissa, tapi..."
"Tidak apa-apa, aku janji tidak akan membuat kekacauan."
Dengan berat hati bartender itu menuruti pelanggannya. Beberapa saat kemudian minumannya tiba dan dia langsung meminumnya. Waktu berlalu dan intensitas minum Melissa makin naik seraya mulut yang terus meracau akan masa lalu yang bangkit dari alam bawah sadar, efek alkohol mulai meracuni pikirannya.
"Sedang patah hati, ya?"
Suara itu mengejutkan Melissa, lantas dia menoleh. Dengan pandangan sedikit berputar, dia bisa melihat warna merah dari kemejanya yang mendominasi.
"Siapa kau?" sahutnya ketus seraya menaikkan sebelah alis. Dua wanita tadi tampaknya sudah pulang.
"Namaku tidak penting," orang itu tersenyum. "Kau tampak berantakan."
"Tidakkah orang tuamu mengajari untuk tidak berbicara dengan orang asing?" sindir Melissa, orang itu sudah duduk di sampingnya.
"Aku hanya ingin berteman," suaranya terdengar berat dan seksi, namun tidak berbahaya. " Karena ini malam ulang tahun yang kuhabiskan seorang diri."
"Oh, entah mengapa kita memiliki nasib serupa." Melissa kembali menyesap vodkanya, ini sudah yang ke enam. "Aku Melissa Nolan, kau?" sesaat manik matanya bertegun pada iris gelap orang itu.
"Dalton, panggil saja begitu."
"Baiklah kau mau apa? Pemilik bar ini sedang berada di gudang."
"Dia menitipkan tempat ini padamu?"
"Bisa iya bisa tidak." Melissa kembali minum. Pete kembali dengan keranjang sarat akan bir.
Pikirannya tidak dalam keadaan normal sehingga dia tidak benar-benar keberatan berbicara dengan orang asing. Dalton dan Melisaa berbicara untuk sementara waktu, sekedar basa-basi sosial, sampai akhirnya Melisa percaya Dalton hanya ingin berteman.
"Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya, apa kau sedang patah hati?" Daltom sudah memesan sebotol bir saat Dalton menawarkannya.
Karena Melissa sudah mempercayainya, maka dengan santai dia menjawab:
"Oh lebih buruk," pria surai biru itu kembali memesan vodka, " Aku mencurahkan segala kekesalanku pada Alex." Dia langsung menandaskannya ketika minuman itu tersajikan. Kerongkongannya serasa terbakar.
"Alex?" Tanya Dalton balik, Mengangguk mantap.
"Ya, Hari ini aku memergoki mantan kekasih tidur dengan wanita lain di Apartemen kami. Si k*****t itu bersenang-senang saat aku pusing menyiapkan bahan seminar." Sebenarnya Melissa orang yang sangat jarang memakai kata makian, tapi jika alkohol mengambil alih, maka etiket pun terlupakan.
"Wow, dia benar-benar bajingan."Dalton menyesap birnya, manik mereka saling bertukar pandang.
"Tapi kelihatannya kau tidak terlalu sedih."
Melisa menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku marah, aku kesal tapi tidak bisa menangis."
"Ceritakan lebih banyak."
Lalu Melissa menceritakan segala perasaannya kepada teman ngobrolnya. Betapa dia ingin mencincang Alex karena telah berselingkuh, kemudian hari-harinya tentang mengobati hewan-hewan terlantar dan memantau kesehatan hewan di peternakan, hingga rasa kesal Melissa terhadap milyuner muda yang sedang menjadi pembicaraan para wanita. Dia tidak mengenal laki-laki itu namun jika yang dia dengar itu fakta, maka Melissa menyimpulkan jika milyuner itu pasti seorang laki-laki yang bisa dengan mudah mendapatkan wanita. Anehnya Dalton akan membalas perkataannya dengan terkikik, atau mengomentari hal-hal –yang menurutnya lucu– tentang sang milyuner muda.
"Padahal dia cuma orang biasa, kenapa orang tergila-gila dengannya?" Tanya Dalton, dalam hati dia tertawa menanyakan hal tersebut.
Melissa tersenyum, dirinya berusaha melawan kehendak mata yang ingin terpejam. "Kau membaca pikiranku ya?"
Dalton tertawa setelah menyesap birnya. Lalu pembicaraan mereka terus berlanjut, bahkan sampai menyindir hal-hal Ekonomi dan Politik. Melissa terkagum-kagum bagaimana Dalton mengerti dunia bisnis.
"Wah, kau pasti wartawan. Kerja dimana?" Tanya Melissa kagum dengan kepandaian Dalton memanipulasi lawan bicara hingga tanpa sadar bercerita banyak hal padanya.
"Bukan, aku pengangguran." Dustanya. "Kenapa memangnya?"
"Kau seakan mengerti cara menggali informasi dari seseorang, sayang kau pengangguran." Gelas vodka Melissa sudah lama terlupakan. Dia mengintip arlojinya saat Dalton menyesap bir keduanya, sedikit terkejut melihat jarum panjang dan pendek akan bertemu di angka dua belas.
"Ah, nyaris jam dua belas." Dengan terburu-buru dia menghabiskan sisa minumannya. "Aku harus pulang sekarang, asistenku pasti gelisah."
Dalton ragu dengan perkataan Melissa. Melihat tubuhnya yang doyong dan bisa ambruk kapan saja makin menambah keraguannya. "Kau mabuk, yakin bisa mengemudi?"
"Aku tidak membawa kendaraan." Melissa berdiri dari kursinya, menatap Dalton dengan mata sayu, kakinya terasa sangat lemas. "Senang berbicara denganmu Dalton, lain kali–"
Dan dalam kedipan mata Melissa sudah ambruk di lantai. Dalton segera menghampiri dan mengguncang tubuh itu.
"Ah, jadi dia sudah tidak sadar yah?" Dalton spontan menoleh, Pete menopang dagunya. "Aku tidak menyangka dia mampu menghabiskan delapan gelas vodka, biasanya hanya dua gelas saja."
"Apa akan ada orang yang menjemputnya?"
"Tidak tahu, tadi dia datang bersama temannya tapi sudah pulang."
Dalton mendesah setelah berpikir sejenak, lalu meraih dompetnya dan mengeluarkan selembar uang.
"Permisi anak muda," maniknya menelaah terhadap Dalton. "Tapi wajahmu rasanya familiar."
Dalton tersenyum, lalu menopang tangan Melissa di bahunya setelah meletakkan uang di meja. "Begitulah."
Lalu pengetahuan itu perlahan mengendap. Manik hitam Pete membola saat menyadari orang tersebut. Surai coklat yang berkilau, tubuh tinggi dan kekar namun memiliki wajah tampan, dan selembar seratus dolar U.S. Demi Tuhan, siapa yang tidak mengenalnya?
"Aku akan membawamu ke hotel. Setelah itu urusanmu."
Dengan lembut dia meletakkan Melissa di kursi penumpang. Perjalanan itu tidak diam dan tidak berisik, dengan bergumam ke Dalton dari waktu ke waktu.
Akhirnya mereka sampai di hotel, karena Dalton bingung harus mengantarnya kemana dan rumahnya juga bukan pilihan bagus untuk menghabiskan malam, terlebih malam ulangtahunnya ini. Setelah memesan kamar dia mengendong Melissa menuju ruangan tersebut, yang sialnya terletak di lantai enam dan membuatnya menggunakan lift. Dia membuka pintu dan dengan kewalahan meletakkan Melissa ke tempat tidurnya, menutupinya dengan selimut, dan memberi jeda untuk mengagumi paras cantiknya.
Dia cantik sayang pemabuk, pikir Dalton.
Lalu dia membuat langkah untuk pergi, memberikan yang lainnya privasi. Dia sudah memesan kamar lainnya untuk ditempati, takut-takut Melissa terbangun dan salah paham jika mereka tidur berdua–walau sebenarnya dia bisa meninggalkan wanita itu begitu saja, tapi dia tidak mau mengambil resiko Melissa akan meminta pihak hotel untuk membuka datanya.
"Selamat malam." Bisiknya. Dia baru saja akan pergi tapi batal ketika mendengar erangan Melissa.
"Hei, kau tidak apa-apa?" Dalton mendekat, lalu terkejut saat tangan Melissa memegang pergelangan tangannya. Orang itu masih setengah sadar, tapi cengkamannya kuat.
"Jangan pergi." Melissa merubah posisi menjadi duduk, matanya setengah terbuka. "Bukannya kau tidak punya teman menghabiskan malam ulang tahunmu?"
Dalton tidak menjawab, lebih tepatnya dia tidak bisa menjawab. Meskipun dalam keadaan mabuk, Melissa masih bisa mendengar saat Dalton mengatannya di mobilnya. Sesaat dia merasa konyol bercerita dengan orang mabuk.
"Temani aku." Suaranya terdengar berat, tapi memohon. " Aku kesepian."
Karena keadaan mabuk, dia menariknya ke bawah dan mencium Dalton. Sementara pria itu tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, tidak menduga dengan gerakan itu. Ciuman itu tidak dalam dan tidak berat, hanya mempertemukan kedua bibir itu cepat. Alasan yang terbayang di dalam otak Dalton adalah: Melissa langsung melakukan apa yang dia inginkan, jelas bahwa dia benar-benar mabuk untuk melakukan hal seperti itu.
"Maaf," Dalton berkata setelah terlepas dari ciuman. "Tapi–"
Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Dalton terpaku pada sosok si wanita, paras cantiknya benar-benar menghipnotis, seperti femme fatale yang menjerat mangsa menggunakan kecantikannya.
Rambut pirang halusnya.
Bibir merah tipisnya.
Nafas yang terengah-engah.
Biner biru laut memancarkan nafsu birahi yang tak disembunyikan.
Demi neraka, melihat sosok menggoda ini sudah mampu membuat kejantanannya bergetar. Dia meneguk saliva kasar, dan menyadari bukan dia saja yang dalam kondisi sialan ini.
"Tolong aku." Kedua tangan Melissa mengalung pada lehernya, jarak mereka hanya beberapa centi. "Aku kepanasan."
Dalton diam seraya mengumpulkan kewarasannya di tengah gelombang nafsu yang mendesak. Dia, pemimpin perusahaan bernama lengkap Dalton Jacob Jones harus berbuat apa? Dia tidak bisa berhubungan seks dengan orang yang baru ditemuinya, jika hal ini ketahuan media mungkin saja reputasinya dalam bahaya. Tapi setiap ada malaikat selalu ada iblis. Dia juga–entah mengapa–tidak bisa menolak suguhan di depannya.
"Kumohon."
Suaranya datarnya berubah menjadi desahan, mata sarat dengan pengharapan dan nafsu yang ingin dituntaskan. Saklar Dalton sudah ditekan. Persetan, dia akan mengikuti nafsu binatangnya terlebih dahulu, masalah reputasinya bisa dipikirkan nanti. Dan lagi pula–
"Jika itu maumu." Dia mengelus pipi yang merona itu seduktif. "Melissa"
–kesempatan baik seperti ini lebih baik jangan ditolak, kan?
.
.
.
.
.
Sebenarnya cerita begini sangat mainstream, tapi pas saya cari di toko buku ga ada yang sesuai dengan selera saya.. ? Jadi ya saya buat sendiri aja ? Tapi ide dan cerita murni pemikiran saya, jadi jangan GR klo saya menjiplak tulisan siapapun. ?
Ya sudah, terimakasih sudah membaca ??
Mohon maaf klo ada typo yang terlewat dan kata yang tidak berkenan, akan saya perbaiki sambil jalan ?