Tolong tunjukkan keberadaan kalian dengan Follow, vote dan komen kalau suka yaa
Saya bisa tiba-tiba hapus cerita dan pindah ke platform lain tergantung yang ramai peminatnya ?
Karena karena sekarang banyak platform menulis, saya jadi ga tau di sini masih banyak penghuninya atau enggak? ?
Untuk kabar dan info cerita saya bisa ketemu saya di IG : @msshinkii ?
Ok selamat membaca!
.
.
.
WARN!!!
-ADULT CONTENT
-EXPLICIT LANGUAGE
.
.
"Jika itu maumu," dia mengelus pipi Melissa seduktif, "Melissa."
Iris gelap itu menatap manusia yang sudah memohon melalui biner cantiknya. Dalton beranjak naik ke ranjang sesudah melepaskan sepatu lalu duduk di tepinya.
"Lepaskan kedua sepatumu dulu," Melissa melakukan perintah pria itu dan melemparkan kedua benda itu ke sudut ruangan. Dalton duduk dengan kedua paha Melissa di selangkangannya, dia menyeringai.
"Sepertinya disini belum basah," tangan kanannya meraba pada bagian dalam rok Melisa, "Tapi dirimu sudah merasakan panas, aneh sekali." Lalu dengan nakal dan seduktif dia menanggalkan pakaian Melisa, tapi entah dengan alasan apa dia masih membiarkan pemilik biner biru langit mengenakan roknya.
"Kau tahu, aku tidak bisa melakukannya secara to the point," Melissa tidak mengerti dengan ucapan Dalton, "Jadi kita akan melakukan Foreplay terlebih dahulu." Dalton menjilat bibir wanita di depannya, tentu saja membuat wajah tersebut beringsut maju mencium lawan mainnya, walau terkesan sedikit sloppy.
Pemula, pikir Dalton.
Dia terus melumat bibir merah tersebut tanpa menyertakan perang lidah, dengan alasan dia ingin menilai sejauh mana Melisa bisa bertahan. Licik sekali.
"Hmmm..." Melissa memutuskan ciuman. Matanya sayu. "Dalton..."
Melissa memelas dan Dalton tahu itu. Dia kembali menjamah mulut tersebut, kali ini dengan lumatan agresif penuh nafsu. Pemilik bibir seksi itu menggigit bibir tipis Melissa gemas; membuat sang pemilik mengeluarkan erangan sakit dan memberikan kesempatan lidah Dalton masuk. Dalton menyeringai dalam hati saat Melissa menutup matanya dan membiarkan dia menginvasi mulutnya; menjilati deretan giginya, mengajak lidah tersebut bermain, menggoda langit mulut Melissa sambil melakukan ritual pertukaran saliva.
Di pihak Melissa, wanita tersebut sudah hanyut dalam gelombang nafsu yang memabukkan. Tubuhnya sangat senang saat Dalton memberinya lumatan-lumatan tersebut, tapi sedikit kesal saat dia menggigit bibirnya. Kedua tangannya bersandar pada belakang kepala Dalton dan mendorongnya pelan, secara insting menginginkan ciuman itu lebih dalam.
Suara kecipak saliva dan erangan terdengar jelas dalam ruangan tersebut. Dengan kedua tubuh yang sudah mulai memanas mereka masih melanjutkannya sampai Melissa menarik
rambut Dalton; meminta jeda untuk bernafas.
"Hhahh..." Melissa sama sekali tidak bisa berkata-kata. Mulutnya menganga mengambil nafas dengan saliva yang menetes turun. Dalton yang berada di atasnya menyeka cairan tersebut.
"Baru ciuman kau sudah lelah?" ibu jarinya mengusap bibir bawah Melissa, "Bagaimana kalau kita melakukan tahap selanjutnya? Apa kau akan pingsan?" suaranya mengejek. Sedikit geli ketika menangkap perubahan pada biner biru langit tersebut.
"Tapi tubuhmu putih dan lembut," jari jemarinya mengelus p******a penuh Melissa, "Aku suka."
Lalu Dalton membungkukkan dirinya; mengecup leher Melissa gemas, menjilat, menggigitnya sampai menimbulkan warna ungu yang pekat. Sementara itu wanita di bawahnya sedikit tersentak saat Dalton memulai aksinya, tapi lama-kelamaan dia terbuai juga sampai mengeluarkan erangan–yang menurut Dalton seksi dan makin menaikan libidonya.
Satu tangan Dalton yang bersandar pada pinggul Melissa beranjak naik memainkan salah satu putingnya. Menggesek benda itu pelan lalu membuat gerakan memutar. Gerakan nakalnya tidak hanya itu saja, dia juga menggesekan selangkangannya pada bagian bawah Melissa, membuat wanita mabuk tersebut merasakan getaran aneh pada pusat gairahnya.
" Dalton–"
Melissa tidak melanjutkan kalimatnya; dia lebih memilih mengeluarkan desahan-desahan nikmat saat dua jari Dalton menarik dan memijat putingnya. Lidah Dalton juga menjilat turun dari leher menuju p****g yang menganggur; menyedot benda merah kenyal tersebut dan melakukan gerakan memutar sensual dengan lidahnya.
"Eumh. ge–li..." Melissa komentar di tengah desahannya, saat itu mulut Dalton memanjakan p****g yang satunya. Kedua tangannya mengangkat rok Melissa dan meremas-remas sesuatu yang bersembunyi di balik kain.
"Apa yang kau... lakuka–hahnnn..?"
Dalton tidak menjawab. Lidahnya bergerak turun menuju bagian yang tertutup dengan kain berenda putih. Dia menyeringai saat menangkap ekspresi bingung Melissa. "Tenang saja," wajahnya mendekat pada s**********n, "Kau tidak ingin kepanasan, kan?" lalu dia menjilat bsgian tersebut, Melisaa sedikit terkejut.
"Tidak, perlu takut."
Keraguan terlukis di wajahnya. "Ta-tapi..."
"Tidak apa-apa, kau yang memintaku untuk menolongmu kan?" Melissa diam lalu mengagguk pelan.
Dalton menarik rok serta dalaman Melissa dan membuang ke segala arah, kemudian memposisikan wajahnya kembali di depan pusat gairah Melissa, menciumnya singkat Hingga menggelinjang kegelian akibat bergesekan dengan janggut tipis yang tumbuh di sekitar wajah Dalton. Dan pria itu memaanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjilatnya. Lidah basahnya berputar dan menekan, perlakuan itu membuat Melissa tak kuasa menahan desahan –erangan nikmatnya yang akhirnya menjerit nikmat seraya mengulang nama Dalton bak mantra. Kedua kakinya menghimpit Dalton dan orang tersebut tidak keberatan, pria itu makin memberikan hadiah memabukan bagi Melissa. Satu tangan Melissa menyentuh rambutnya, memainkan jarinya seirama dengan gairah yang dirasakan. Sedangkan tangan satunya meremas-remas sprai sebagai bentuk gumpalan kain. Gerakan Dalton semakin lama semakin mendesak seiring dengan erangan Melissa akibat perlakuan Dalton yang menggetarkan tubuhnya.
Sekarang dunia Melisa serasa berputar-putar. Getaran dari mulut Dalton sudah membuatnya gila, terlebih dengan sensasi hangat dan basah di dalam sana. Dalton menyeringai di tengah kegiatannya dan juga saat Melisa memohon meminta untuk lebih. Dia tidak bisa menolaknya.
"Le-Lebih cepat ..."
Melissa mendesah tertahan. Gadis pirang itu menadahkan kepalanya keatas, tubuhnya melengkung ke depan dengan kedua kaki yang makin menjepit Dalton, kedua tangannya menarik erat seprai.
Klimaks pertamanya datang, pandangannya mengabur setelah melepaskan gairahnya serta suhu tubuh yang naik berpusat pada inti kewanitaannya. Nafasnya terengah-engah.
Dalton menelan cairan yang berasal dari Melissa tanpa rasa jijik maupun geli, dan itu menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Melissa.
"Apa tidak apa-apa?" Melissa menatap dengan mata sayunya, "Maksudku itu berasal dari tu-tubuhku..."
Sebelah alis Dalton naik tinggi.
"Kenapa?" dia menyeka sudut bibirnya, "Kau jijik?"
Melissa menggeleng,"Yang tadi itu oral kan, kan? ini pengalaman pertamaku melakukan hal seperti ini." Ungkapnya jujur lalu orang itu diam sebentar. Diliriknya s**********n Dalton yang juga mengembung dan sepertinya minta untuk dimanjakan. Dalton, melihat gembungan besar itu dia yakin milik Dalton lebih besar dari milik Alex.
"Sepertinya milikmu juga harus dimanjakan," kilatan matanya kembali dipenuhi nafsu, "ingin kubantu?"
Mustahil bagi Dalton untuk menolaknya, jadi dia membiarkan Melissa melucuti baju-celanya dengan cepat–kasar lalu membuang kain tersebut ke samping ranjang. Melissa bergeming, dugaannya tepat sasaran saat benda besar itu mengacung tinggi. Maniknya menjelajah di sekitar benda pusaka milik Dalton; pahanya keras dan berotot seperti Atlet, terdapat rambut halus yang tumbuh di sekitarnya, dan pucuk yang basah akan precum. Tanpa Melissa sadari salivanya diteguk kasar, dia tidak sabar untuk mencicipi benda tersebut.
"Kau melakukannya seperti ini, kan?" jempol tangan kanannya mengelusnya, Dalton sedikit tersentak.
"Semoga aku bisa membalasmu."
Dengan tempo sedang Melissa menggerakan jempolnya pada bagian pusat gairah Dalton, merasakan benda keras berurat tersebut sementara Dalton melirik sang dokter hewan serta mengeluarkan helaan nafas berat, dan membiarkan Melissa memanjakan dirinya dengan posisi menungging. Harus dia akui gerakan jari tersebut makin menaikan libidonya. Dalton ingin langsung saja menyerang Melissa sekarang dan membuat wanita itu berteriak putus asa akibat perlakuan Dalton padanya, tapi disisi lain dia juga tidak ingin hal ini cepat berakhir.
"Hah... Melissa..."
Melisa tahu desahan itu menginginkan lebih, maka dia mendekatkan wajahnya dan menjilat pucuknya, menggigit lalu memasukan segenap benda tersebut kedalam mulutnya saat Dalton mendesah lagi. Jujur saja sudut bibirnya terasa perih karena memasukan benda itu dan juga mencela ukurannya yang begitu besar.
"Melissa..."
Walau mulutnya masih perih, lidah yang berkerja di dalam sana melakukan perkerjaannya dengan baik. Di dalam mulut, lidah Melissa lincah kesana kemari memberi kenikmatan pada Dalton. Menggunakan salivanya dan cairan precum sebagai pelumas, Melissa mulai memajukan kepalanya memberi kenikmatan pada milik Dalton, dan tentu empunya harus mendesah berat. Giginya pun mulai ikut serta, mengeruk dan menggigit kulit kecoklatan. Dalam hati merasa sedikit geli saat Melissa melakukannya seperti permen karet.
Dalton akhirnya ikut andil, tangan kanannya menjambak rambut Melissa pelan dan membantu mempercepat tempo hisapannya –dan dengan keji mengabaikan erangan Melissa yang tersedak saat benda itu tiba-tiba menabrak pangkal tenggorokannya.
"Terus seperti itu Melissa..."
Air mata berkumpul di pelupuk mata Melissa. Dirinya sedikit merutuk Dalton mendadak menjambaknya, gerakan Dalton makin membuat bibirnya perih, tersedak berulang kali, dan membuatnya kesulitan bernafas. Erangan protes lolos dari tenggorokannya, dan hal itu membuat Dalton semangat karena getaran mulut Melissa yang memanjakan p***s besar miliknya.
Kenikmatan demi kenikmatan terus mengaliri tubuhnya, hingga pada suatu titik Dalton betul-betul merasa akan meledak. Hal itu dirasakan oleh Melissa. Setelah beberapa hisapan terakhir akhirnya Dalton mengeluarkan cairan kental yang sangat banyak dalam mulut Melissa. Pria itu betul-betul menikmatinya, Melissa mengulum cairan tersebut lantas ditelan –walau sebagian tumpah melalui sudut bibirnya. Pemandangan yang menurut Dalton sangat seksi.
"Pe-perih..." Desis Melissa. Dalton segera membantu membersihkan sisa cairan yang berada di lehernya.
"Bibirmu merah," Ibu jari Dalton mengusap bibir Melissa pelan. "Sepertinya sakit.
"Menurutmu?" Dalton tersenyum melihat manik indah itu menajam dan protes, lantas dia mencium wanita tersebut dan merebahkan punggungnya rata dengan ranjang.
"Kalau begitu biarkan aku memanjakanmu," manik mereka bersirobok. "Dua tahap lagi dan tubuhmu tidak akan kepanasan."
"AKH! Apa yang kau lakukan!?"
Tangan Dalton kini melakukan tugas seperti mulutnya tadi. Memasukkan jari telunjuknya ke dalam lubang kewanitaan Melissa. Wanita mengerang dan mencakar punggung pria itu hingga meninggalkan bekas kemerahan ketika Dalton memasukkan kedua jarinya dan menjelajahi dinding itu keluar masuk. Dan terus menerus seperti itu, mencoba merenggangkan dinding itu. Disusul oleh jari ketiga.
Mulut Melissa terus menerus menyebut nama pria itu. Seakan-akan hanyalah nama itu yang diingatnya. Disusul desahan-desahan dan erangannya. Yang mengiringi kegiatan yang dilakukan Dalton pada tubuhnya.
Saat Melissa mendesah dan memohon, Dalton mengeluarkan jarinya. Dia memandang ragu pada jarinya dan juga Melissa. Wanita di bawahnya menatap Dalton sayu dan memohon.
"Ke-kenapa kau berhenti?"
Dalton menatapnya, menangkap basah keinginan terdalamnya yang terpancar dari manik biru bening tersebut. Merasakan tatapan Dalton pada dirinya membuatnya resah, dan Melissa mengerang saat jari telunjuk meluncur pada lubangnya dengan sendirinya, menekan lembut dengan maksud ingin melanjutkan perkerjaan Dalton, "Aku sangat basah, tolong aku Dalton..."
"Apa yang kau inginkan?" dengan nada mengejek dominan, dia mempermainkan hawa nafsu Melissa dengan keji. Sekedar ingin melihat reaksi wanita mabuk ini jika berhenti di tengah permainan. Pria ini senang sekali melihatnya.
"Di-dirimu," bisiknya terbata-bata, menahan malu.
"Bagaimana?"
"Ma-masuki aku," Dua manik itu masih bersirobok, Tangan Melissa menuntun. Dalton lupa cara untuk bernafas, pandangannya tidak bisa terlepas dari tangan Melisa yang membawanya pada dirinya yang basah dan membuka kakinya semakin lebar. Tangan kanannya mengocok kejantanan yang kembali mengeras, lalu menggoda kerutan yang berkedur itu dengan pucuk penisnya sebelum memasukannya sekali hentak.
Melissa sedikit menyesal melakukannya, karena yang dia rasakan saat ini bagian bawahnya seakan robek, tubuhnya bagai dibelah dua, dan rasa penuh yang aneh memenuhi Melissa.
"Dalton, sa-sakit..." Melissa memang bukan seorang perawan, tapi merasakan ukuran yang begitu besar seperti membawanya kembali pada saat pertama. Dia yakin milik Alex tidaklah kecil, tapi ukuran orang ini benar-benar gila.
Dalton tahu tubuh Melissa sekarang menahan rasa sakit, dan dia juga tidak nyaman melihat wajah wanitanya mencerminkan rasa tersebut, tapi getaran-getaran dinding itu seakan memijat miliknya. Melissa sangat sempit dan miliknya sudah dimanjakan sebelum dia bergerak.
"Bertahanlah," Tangan Dalton menahan pinggul Melissa, lantas dia menarik mundur setengah kejantanannya untuk membiasakan Melissa.
"Be-bergeraklah," titahnya dengan mata berair, "aku tidak apa-apa."
Dalton mengangguk, dia kembali masuk dengan perlahan setelah merasakan wanita di bawahnya sudah rileks. Dia berinisiatif mencium bibir Melissa dan memainkan p******a Melissa untuk mengalihkan perhatian Melissa pada rasa tidak nyaman itu.
Melissa awalnya merintih seraya menarik seprei kuat-kuat, tapi setelahnya dia mendesah nikmat saat rahimya bergesekan dengan kulit p***s Dalton yang berurat.
"Le-lebih cepat."
Dalton menaikan temponya, mencium selangka dan rahang Melissa, lalu menempelkan bibirnya di leher wanita itu sebelum kembali menghujam. Dirinya berusaha mencari titik emas Melissa kembali saat empunya sibuk terbuai dengan kenikmatan.
Melissa terus meracau, rasa nikmat ini benar-benar membuatnya gila, lebih gila saat Dalton memanjakan dengan mulutnya atau selama dia bersama Alex. Sementara Dalton menguatkan pegangan pada pinggul Melissa, tubuh Melissa yang memberikan kenikmatan tiada tara.
"Sempit sekali, Melissa..."
Dalton mendesah tertahan, menghantam titik kenikmatan Melissa terus menerus membuat dirinya seakan terhisap.
Kedua tangan Melissa melepas seprei dan meraih leher Dalton; mempertemukan kedua bibir mereka dengan lumatan yang dalam. Suara decakan dan tamparan alat kelamin mendominasi ruangan itu. Aroma s****a dan peluh pekat menguar dari kedua insan tersebut. Tidak ada yang peduli dengan dunia luar, sekarang mereka tengah menikmati nikmatnya surga duniawi dan terus melakukannya tanpa henti.
"Hah .. Oh ... Dalton."
Ciuman mereka terlepas saat paru-paru berontak meminta oksigen. Dalton bisa merasakan dirinya ingin keluar, dia makin mempercepat tempo tusukannya. Hentakan pada tubuh Melissa membuat ranjang itu berderit
Dalton juga merasakan Melissa makin menjepit dirinya, dia juga merasa sangat dekat. Perut keduanya bergejolak, sesuatu seperti melilit mereka. Beberapa tusukan terakhir, keduanya menjerit saat mereka mencapai puncak kenikmatan. Entah sadar atau tidak Dalton melepaskan gairahnya dalam tubuh Melissa sedangkan wanita dibawahnya tidak peduli karena dibutakan oleh kenikmatan.
Keduanya berlomba-lomba mengisi paru-paru mereka dengan oksigen, manik kedua bersirobok seraya menetralisir detak jantung yang menggila akibat kegiatan bercinta mereka. Dalton menarik miliknya yang sudah melemas dari dalam tubuh Melissa yang penuh, seketika cairan tersebut keluar dari sana dan membasahi pahanya. Dalton terlihat lemas.
"Melissa, apa kau masih kepanasan?"
Melissa tidak menjawab. matanya menyayu dan terlihat dia sangat lelah tapi menikmati ulah yang Dalton lakukan.
"Tidak," tangan Melissa yang masih mengalungi leher Dalton membawa tubuh itu mendekatinya lalu membaringkannya di samping. Dia tersenyum, sangat lembut dan mampu membuat pipi Dalton merona. "Terima kasih, berkat kau aku melakukan seks lagi setelah sekian lama."
Dengan kekuatan terakhirnya Melissa mengecup pipi Dalton singkat sebelum akhirnya dia tergelincir lurus ke dunia mimpi. di sisi lain, pria itu tersenyum geli melihat sang dokter hewan yang berani melakukan seks dan mengecupnya, dia mengacak surai pirang yang sedikit basah karena keringat tersebut lalu membisikan sesuatu di telinganya.
"Tidak masalah,"
Setelah itu iris gelap miliknya ikut terpejam.
.
.
.
.
.
Well.. adegan begin cocok untuk menemani Sabtu malam kalian ?
Maaf klo ada yang tidak berkenan, saya sudah berusaha sehalus mungkin ? tapi saya yakin buku cetak lebih eksplisit juga ada ?
Terimakasih sudah membaca! ?
Sampai jumpa!