Chapter 03

2432 Words
Tolong tunjukkan keberadaan kalian.. dengan vote dan komen kalau suka yaa, Saya bisa tiba-tiba hapus cerita dan pindah platform lain tergantung yang banyak peminatnya ^^ Dengan banyaknya platform menulis sekarang, saya jadi ga tau di sini masih banyak peminatnya atau enggak ^^ Mohon pengertiannya ^^ Ok selamat membaca! . . Saat kelopak matanya terbuka keesokan paginya, Melissa merasakan kepala dan badannya seperti ditusuk seribu jarum. Penglihatan berputar-putar dan dirinya juga tidak akan bangun jika tidak mendengar getaran berisik entah dari mana. Sebelah tangannya bergerak turun menuju tumpukan baju miliknya lalu mengaduk-aduknya saat benda itu masih bergetar. Dia menemukan benda tersebut ketika berhenti bergetar. You got three missed call from Sarah. Alisnya berkerut, lantas dia memeriksa daftar panggilan atau pesan lainnya dengan keengganan dan tenaga yang tersisa sedikit. You got ten messages from Sarah. Sebenarnya dia tidak ingin repot-repot melihat semua isi pesan tersebut, tapi ada satu pesan dari sahabatnya yang menarik perhatiannya. Pesan teratas dengan subject 'HADIAH!' menangkap perhatiannya. From: Sarah. Subject: HADIAH! Bagaimana malammu? Semoga malam jomblomu itu menyenangkan yah~ Oh iya, maaf yah semalam aku buru-buru pulang. Kau tahu? Sepupu dan adikku semalam tidak berhenti membahas milyuner tampan, Dalton Jones. Dan saat aku mengetahui wajahnya, aku menjerit histeris. Aku tidak tahan untuk menyimpan beberapa fotonya. Habisnya dia begitu tampan dan populer :P dan karena itu aku mengirimkan fotonya padamu. Ku tunggu ucapan makasihnya~ [VIEW PICTURE] Melissa melihat gambar yang dikirimkan Sarah dan tidak mau berkomentar apa-apa. Dalton Jones, apa yang diharapkan selain bermodal wajah tampan dan memang sudah dari sananya berasal dari keluarga kaya? Tentu saja tidak ada, menurutnya. Karena alasan lelah dan ingin mengistirahatkan tubuhnya, dia menjatuhkan ponselnya begitu saja di atas tumpukan pakaiannya lalu berusaha menyambung mimpi yang samar-samar... "Oh, kau sudah bangun rupanya." Manik biru langit itu bertambah volume, dirinya yang lama terbuai bayang-bayang mimpi segera menoleh pada sumber suara dengan perlahan. Di sampingnya duduk seorang pria dengan punggung disandarkan dan setengah badannya terbalut selimut. Dia tampan. (Melissa mengakuinya) dan kenapa rasanya begitu familiar? Ah, tidak butuh waktu lama sampai otaknya membuat kesimpulan. Tentu saja dia tahu itu siapa, iris gelap itu dan rambutnya yang coklat. Mereka bertemu di bar semalam dan walau enggan menghadapi kenyataan orang itu juga adalah Milyuner yang sedang dibicarakan bernama Dalton. Dalam pelatihannya, dokter hewan diharuskan bersifat kepala dingin dalam menghadapi sesuatu; baik itu dalam mengobati binatang yang terluka, menganalisa penyakit hewan ternak, atau menghadapi atasannya. Karena alasan sepele dan berguna itu, dia memasang ekspresi setenang-tenangnya walau dalam hati dia menjerit. "Umm, selamat pagi..." Tercipta keheningan kecil yang canggung. Di dalam kepala Melissa kalimat 'apa yang kita lakukan semalam' bermain-main dengan suara lantang bak kaset rusak. Dia menghela tubuh ke posisi duduk –mengabaikan rasa sakit di bagian bawahnya hingga tulang ekornya– lantas melirik sekilas dengan bantuan sinar lampu bersama mentari. Kamar itu tidak mencirikan kamar pribadi dan firasatnya mengatakan mereka berada di hotel. "Jadi," dia perlu kepastian atas fakta yang melayang dalam otaknya. Dengan segenap hati dan takut-takut dia melirik pria itu, "Jadi, kau pasti milyuner muda Dalton Jones itu, benar?" Seringai jail terlukis pada wajah Dalton, "Oh," tangan kanannya menyisir rambut coklatnya ke belakang, "Kau sudah sadar sekarang?" Melissa tidak mampu berkata-kata, digigit bibir bawah seraya memejamkan mata. Batinnya benar-benar mengutuk kebodohan atas dasar penat dan alkohol yang meracuni pikirannya. Demi Neraka, mereka berdua telanjang, dengan aroma keringat dan cairan khas bercinta masih melayang-melayang di udara atas bukti kegiatan mereka semalam. Dia tidak bisa mengelak. Lelucon gila macam apa ini? "Melissa?" Kelopak matanya terbuka dengan penuh kejengkelan. Dengan melawan kehendak ingin tidur, dia menatap Dalton tajam. "Maafkan aku tuan Dalton," maniknya menangkap ekspresi bingung Dalton. "Tapi, kumohon untuk melupakan apapun yang kita lakukan semalam. Terkadang aku bisa menggila saat mabuk." Melissa menunduk singkat dan meraih pakaiannya, tapi sayangnya saat dia ingin bangkit dan bergegas menuju kamar mandi kedua kakinya menghianatinya –atau lebih tepatnya bagian tengah diantara dus kaki lah yang menghianatinya. "Sakit? Ingin kubantu?" Sialan, pikir Melissa. "Tidak. Uruslah keperluanmu, aku hanya ingin membersihkan diri." Dia tidak peduli jika nada bicaranya sangat ketus. Melissa hanya ingin segera pergi meninggalkan tempat ini, dirinya tidak sanggup menanggung malu dan kenyataan yang dihadapinya. "Jangan sok," Dalton mendekat dan membantunya berdiri saat kedua kaki Melissa bergetar untuk berdiri. "Kakimu saja terlihat kesulitan untuk berdiri." "Sudah kubilang urus–" Dalton mencubit bibirnya gemas dengan maksud membungkamnya. Tentu saja dia tahu Melissa tengah menahan malu dan orang itu menutupinya dengan bersikap judes. Teknik kuno. "Tenanglah. Aku tidak melakukan apapun selain melayani permintaanmu semalam." Tangan Melissa menyingkirkan tangan yang mencubit bibirnya. "Kalau begitu, kenapa kau mau melayaniku?" Alis Dalton terangkat tinggi. "Kenapa kau menggodaku?" Skakmat. Apa ada kata-kata yang bisa melawan kalimat Dalton barusan? Jawabannya tidak ada. Melissa kalah dan memilih menyerah saat tubuhnya digendong ala pengantin menuju kamar mandi. Perlakuan tersebut sangat menginjak-nginjak harga dirinya sebagai wanita dewasa. Dalton membuatnya seperti gadis perawan yang baru saja melakukan malam pertama. "Kau mau mandi sendiri atau mau kubantu?" Dalton menurunkan kaki Melissa lalu membiarkan tubuhnya menunjang tubuh wanita tersebut agar tidak jatuh. Sekarang Melissa tahu penyebab rasa nyeri yang dialaminya semalam –namun mengantarkan pada kepuasan yang luar biasa. Tinggi pria ini mungkin seratus sembilan puluh sentimeter, sedikit lebih besar dari kebanyakan pria yang pernah ditemuinya, tubuhnya berotot, rambut-rambut merah kecoklatan tumbuh disekitar lengannya yang kekar dan sedikit di tubuhnya yang bidang, bahunya lebar, wajahnya di tumbuhi janggut tipis yang semakin menimbulkan kesan jantan dan seksi. Bagi Melissa, dia lebih mirip seorang tentara yang terbiasa bertarung di alam liar dengan beruang Grizzly yang kelaparan, daripada duduk di kantor gedung pencakar langit dan berkutat dengan dokumen kesepakatan bisnis. Tidak mengherankan dia memiliki bagian inti yang kuat dan gagah seperti tubuhnya. Wajah mereka berhadapan begitu dekat. Dalton melihat mata biru jernih yang memukau membuat siapapun yang melihatnya tenggelam. Lalu bibir wanita itu yang lembut, penuh dan nyaris cemberut, minta di kecup, digigit dan di kulum. Saat mengingat kegiatan panas yang mereka lakukan semalam, Tubuh Dalton bereaksi. Gairah Dalton kembali bangkit. Sial, dia ingin berada di dalam wanita itu sekali lagi terkubur dalam dalam-dalam hingga melepaskan gairah yang menggila akibat sensasi nikmat yang begitu dahsyat dari tubuh Melissa, meskipun dia merasakan pengalaman berhubungan intim paling dahsyat untuk pertama kali dalam hidupnya, tetapi semalam dia baru melakukannya satu kali. Sebelumnya, dia tidak pernah menginginkan kembali wanita yang telah menghabiskan malam dengannya. Melissa membuatnya candu. "Maaf, tapi bisakah kau membantuku?" Suara Dalton terdengar serak. Mata Melissa mengerjap, dan wajahnya tampak gelisah. "Apa?!!" "Aku sudah membantumu semalam, jadi kenapa kau tidak membantuku hari ini." Dalton menghimpit tubuh Melissa, mata pria itu sudah tertutup oleh kabut nafsu. Melissa ingin bergerak, namun kakinya seolah terpaku saat melihat pesona pria dihadapannya. Tampan, seksi dan juga jantan. Sekarang dia tahu kenapa para wanita begitu tergila-gila padanya. Dalton cukup seksi untuk membuat basah c*****************a hanya dalam satu lirikan. Dia tidak bisa menganggap ini sebagai pemaksaan, kenyataannya dia tidak mampu menolak saat pria itu menciumnya, memasukkan lidah ke dalam mulutnya dan membawanya dalam ciuman liar dan panas. Rasanya begitu gila, kaki Melissa terasa lemas. Dia bisa jatuh jika Dalton tidak menahan pinggangnya dengan tangannya yang kuat. Bahkan saat berciuman dan bercinta dengan Alexpun tidak sedahsyat ini sensasi yang ditimbulkan. Setiap sentuhannya membuatnya terbuai. Dalton menarik keluar sisi lain Melissa yang belum pernah ditunjukkan pada orang lain. Dia akhirnya merasakan jari panjang itu di pintu masuknya. "Ya Tuhan!" Jari-jari Dalton ada di dalam dirinya, meregangkannya, rasanya sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata, hanya desahanlah yang menunjukkannya. Melissa membiarkan dirinya jatuh sepenuhnya ke pintu kamar mandi saat dia melingkarkan kakinya di pinggang Dalton. "Aku akan melakukannya sekarang, oke." Dalton menarik dirinya keluar dan memposisikan dirinya sebelum masuk kedalam tubuh wanita di hadapannya. "Pe-pelan-pelan," Desisnya. Sementara itu Melissa mencoba menahan rintihan yang akan keluar dengan cara mencengkam bahu Dalton. Rasanya nyeri sekali saat benda keras dan panjang perlahan masuk melewati otot yang menjadi pusat gairahnya, dan juga kenapa hari liburnya harus mengalami hal seperti ini. Inginnya menghindari si bahan berita, alih-alih berhubungan seks dengannya. Apa Tuhan sebegitu senangnya mempermainkan takdir? "Dalton." Melissa mengerang menyodorkan pinggulnya pada Dalton. Pria itu akhirnya mendorong diri sepenuhnya ke dalam tubuh Melissa, keduanya mengeluarkan erangan puas. Dalton terus mendorong Melissa yang berpegangan padanya dengan sekuat tenaga. Dia menyandarkan kepalanya ke ceruk leher Melissa saat mendesah. Ia memainkan miliknya didalam dengan ritme yang cepat dan seirama dengan permainannya di tubuh bagian atas Melissa, memanja tiga daerah sensitif wanita itu sekaligus. "Dalton!" Melissa hanya bisa mengerang, dia jatuh sepenuhnya dalam d******i Dalton. Semakin Dalton mempercepat tempo, semakin keras Melissa mendesah dan berteriak, bagi Dalton, desahan Melissa adalah sebuah irama manis dan semakin membangkitkan gairahnya. "Kau luar biasa Melissa." Dalton terus meracau, dia merasa dalam ekstasi. Suara tubuh yang saling bertumbukkan memenuhi kamar mandi. Aroma manis tubuh Melissa, dan tubuhnya, bercampur menjadi satu. Cara rambut Melissa yang panjang menyapu belahan kembarnya begitu erotis dan seksi. Dalton merasa sudah sampai pada titik puncak permainannya, dan merasakan ia sudah siap untuk mengeluarkan hasratnya didalam tubuh Melissa, dengan sekali hentakan keras dan dalam, hasrat Dalton mengisi setiap senti tubuh Melissa. Saat melepaskan diri setelah puas menyalurkan hasrat, Melissa menatapnya galak. Dalton hanya memasang cengiran. "Sekarang kau bisa mandi. Aku akan menunggu di luar." Sebelum pergi Dalton mencium kening Melissa, – meskipun tidak biasanya dia bersikap lembut, lalu meninggalkannya sendirian. "Well, itu cukup cepat." Dalton berucap saat melihat Melissa sudah bersih dan berpakaian lengkap. "Kau bisa menggunakan kamar mandi itu sekarang." Rasanya sangat canggung dan malu saat Melissa menatap orang yang menggagahinya semalam –dan pagi tadi, rona di pipinya makin menggelap. Dalton mendengus geli saat melihat wajah Melissa bak tomat, tentu saja dia tahu apa yang wanita itu pikirkan. "Kalau lapar, kau bisa menggunakan voucher sarapan di atas nakas." Setelah itu Dalton memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Melissa termenung, mencoba menggunakan kewarasan yang muncul bak hantu saat dirinya terdesak. Dirinya melihat celah jawaban dari pertanyaan yang terus melayang dalam benaknya, bagai mana dan secepat apa dia bisa menyingkirkan diri dari pria itu karena tinggal lebih lama di sini akan menimbulkan ekspektasi yang tak sanggup dihadapinya. Ponsel dan dompetnya sudah tersimpan manis di dalam tasnya. Dirinya segera memakai sepatunya yang tergeletak di sudut ruangan. Telinganya mendengar suara guyuran air dari balik ruang tersebut, dia mencoba memanfaatkan kesempatan ini. Dengan langkah tidak teratur dan rasa nyeri yang masih mengaggunya, dia lari tersandung-sandung dari kamar tersebut. ... "Dasar tidak berguna," dia memaki di tengah udara pagi yang menusuk hidungnya, "sudah kubilang tunggu saja. Aku juga berperang akan hasrat ingin berlibur dan–Melissa?" Melissa menoleh saat baru saja keluar dari hotel. Manik matanya menangkap sosok senior yang tengah berkutat dengan ponsel. "James?" "Apa yang kau lakukan–diam lah kau!" dia menjauh dan kembali berurusan dengan ponselnya, "kalau masih mau berbual lagi lebih tidak usah dilanjutkan!" lalu panggilan itu terputus. Pria itu melihat Melissa. Ekspresi kesal bercampur bengis itu terganti dengan senyuman lembut ala anak lima tahun. Sang serigala sudah kembali menjadi domba. "Apa itu–" "Urusan pacar," James menukasnya, "omong-omong apa yang kau lakukan di sini Melissa?" James mendekat dengan hidung yang memerah. "Ah, hanya menemani kerabat," dia berdusta dengan mulus, "dia menginap di hotel ini. Omong-omong Apa yang kau lakukan disini?" "Oh, aku ingin mencari bosku yang sembarangan itu! Semalam dia menghilang dari pesta perusahaan dan hari ini dia harus pergi ke Argentina! Mellisa merasa prihatin dengan temannya itu. Dia dua tahun lebih tua dari Melissa, mereka berada SMA yang sama. Yang dia tahu James bekerja di perusahaan besar yang menaungi jaringan hotel, tempat hiburan, dan media. Namun dia tidak pernah bertanya tentang nama perusahaan, dan pekerjaan James. Menurutnya, selain tidak tertarik dengan urusan orang lain, mereka tidak terlalu dekat seperti dirinya dan Sarah. "Baiklah, semoga beruntung. Aku akan menghubungimu nanti." Melissa segera pergi sebelum James curiga, kerabat macam apa yang tinggal di hotel dan Melissa harus menemaninya semalam? ... Dalton mendengus saat dia mendapati kamar itu telah kosong. Melissa sudah pergi. Setelah semua bantuan yang telah dia berikan, dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Seharusnya tidak masalah bagi Dalton, lagipula dia memang tidak berminat berkencan dua kali dengan wanita yang sama bukan? Meninggalkan kontak, dan pertemuan berulang hanya akan membuat mereka merasa istimewa, kemudian mereka akan mulai membicarakan tentang hubungan jangka panjang yang mengikat. Melissa bukanlah tipe wanita yang sering ditemui Dalton. Dia hanya wanita yang sedang patah hati yang datang padanya atas kendali Alkohol yang mengambil alih tubuhnya–jelas dia bukanlah tipe wanita yang bersedia menghabiskan satu malam dengan orang asing. Dia juga telah meminta Dalton untuk melupakan kejadian yang terjadi diantara mereka. Seharusnya itu juga adalah hal yang bagus bagi Dalton. Tidak dipungkiri, dengan sensasi kepuasan yang dia rasakan semalam, Melissa akan menjadi wanita yang selamanya dia ingat. Kembali ke realita saat ketukan di pintu kamar terdengar. Dalton dengan enggan harus membuka pintu untuk James, bukan lagi wanita cantik bertubuh seksi yang dilihatnya, melainkan wajah marah seorang pria yang mendatanginya. "Sialan kau Dalton, apa kau tidak tahu betapa paniknya aku saat tahu kau meninggalkan pesta ulang tahunmu secara tiba-tiba?" Pria itu meluapkan amarahnya saat masuk ke dalam kamar. "Aku tahu James, tenanglah." "Bagaimana aku bisa tenang?! Kau tiba-tiba menghilang setelah pesta, dan ponselmu tidak bisa dihubungi, sementara siang ini kita harus berangkat ke Buenos Aires!" Dalton meditasi bola matanya. "Aku sudah bukan anak kecil, perayaan ulang tahun itu benar-benar bodoh dan memalukan." "Itu dari kolega kita! Setidaknya kau menunjukkan rasa terimakasih pada mereka." "Bukankah aku ada di sana saat acara inti? Aku pergi saat kalian mulai berpesta dengan minuman." Pandangan James mengelilingi kamar hotel itu. Untung saja kamar itu sudah bersih, Dalton membereskan kekacauan yang mereka timbulkan saat Mellisa sedang mandi. "Kau berkencan dengan wanita?" Sebuah pertanyaan retoris yang perlu jawaban, memangnya apalagi yang dilakukan pria seperti Dalton di kamar hotel? Dalton hanya menyeringai menanggapi Sekretarisnya yang sudah beberapa kali dia korbankan. Dialah yang menangani kekacauan yang ditimbulkan oleh Dalton ketika dia merasa permintaan klien dan kolega mulai tidak masuk akal. Atau saat dia menyelinap pergi dari acara membosankan seperti kemarin. Tidak ada orang yang bisa tahan dengannya selain James yang sudah dia kenal sejak bangku kuliah. "Tapi aku ingat kau membawa wanita semalam?" James mengernyitkan alis saat mengingatnya. "Aku bertemu di bar yang aku datangi saat melarikan diri dari pesta perusahaan." "Itu pesta ulang tahunmu!" James menegaskan. "Terserah apa yang kau lakukan, tapi jangan matikan ponselmu saat kau akan memiliki pertemuan penting!" "Ya, Ya, Akan aku usahakan." Dalton hanya bergumam malas sambil mengenakkan bahu. Dia memutuskan untuk sarapan sebelum pergi ke Argentina. Saatnya dia harus kembali pada kehidupan yang sebenarnya. . . . . . . AN : Hayoloh, cuma mau baca adengan anunya aja kan? hehe
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD