Chapter 04

2501 Words
Hanya dalam waktu dua puluh empat jam Melissa telah mengalami banyak hal dan perhatian emosi yang begitu cepat. Bagaikan Rollercoaster, kehidupannya yang tenang di jungkir balikkan begitu cepat sebelum Melissa menyadarinya. Dia yang baru saja merasakan marah, sedih dan kecewa karena dikhianati kekasihnya, kemudian frustasi lalu bertemu dengan seorang pria tampan dengan daya tarik sensual yang membawanya pada rasa surga dunia. Namun semua itu tidak berarti apa-apa dibandingkan rasa malu yang luar biasa karena baru saja tidur dengan orang asing yang tidak pernah dia kenal sebelumnya. Dia memaki dirinya sendiri mengingat betapa Murahannya dia saat itu. Jika bisa Melisa ingin menghapus hari itu dalam ingatannya seolah tidak pernah terjadi. "Dok? Aku pikir kau akan menginap di klinik semalam." Suara seorang pemuda menyambutnya saat Melissa memasuki klinik. Laki-laki muda berkulit gelap dan berwajah manis. Dia adalah staff yang bertugas untuk berjaga pada malam hari. Semalam Melissa memang mengatakan bahwa dia akan datang dan menginap di klinik hewan miliknya. Namun gara-gara kebodohannya dia harus bertemu Dalton dan terjebak dengan pria itu untuk berakhir dengan malam paling memalukan di sepanjang hidupnya. Melissa memberikan senyum meminta maaf. "Oh Hallo Scott. Maaf aku tidak memberitahumu, semalam aku tiba-tiba bertemu temanku dan menginap dirumahnya." Dia berharap bahwa aktingnya cukup meyakinkan. "Tidak apa-apa dok, aku tahu kau punya urusan." Anak itu menjawab dengan kedipan matanya, wajah Melissa seketika semerah tomat. "Masih ada dua jam sebelum klinik buka. Aku akan memeriksa keadaan hewan yang rawat inap." Melissa melesat pergi sebelum dia semakin salah tingkah. Setelah meletakkan tasnya dan mengambil stetoskop, Melissa memasuki ruangan tempat hewan-hewan dirawat diikuti oleh Scott dibelakangnya. Pertama dia memeriksa seekor kucing Siam yang baru sembuh dari serangan virus dan sekarang dia dalam masa pemulihan. Kondisinya sudah membaik dan telah di keluarkan dari ruang isolasi. Namun keadaannya masih dipantau. "Suhu tubuhnya normal dan nafsu makan bagus." Scott menjelaskan di sebelah Melissa yang sedang memeriksa mata kucing itu. "Jika hari ini semua hasil pemeriksaan bagus, mungkin besok dia sudah boleh pulang." Setelah selesai memeriksa kucing, dia kemudian beralih pada kelinci yang kakinya terluka karena terjerat jebakan tikus saat bermain-main di halaman rumah majikannya. Kakinya sudah di obati, namun dia masih harus menginap karena tubuhnya masih lemas dan ternyata dia mengalami gangguan makan. "Kondisinya stabil dan sudah bisa bergerak." Scott menjelaskan. "Apa hari ini dia sudah mau makan?" "Ya, setidaknya dia sudah bisa makan sendiri." Melissa tersenyum dengan perkembangan hewan itu. Dia mengelus hewan berbulu putih itu dan berbisik "Kalau kau sudah sehat, kau sudah boleh pulang, Ok?" Melissa mengembalikan kelinci itu ke kandang, kemudian dia meminta Scott untuk memberikan obat dan antibiotik. Setelah selesai dengan hewan berbulu, Melissa pindah ke area yang diperuntukkan bagi reptil. Melissa memang mengumpulkan berdasarkan spesies agar lebih mudah untuk merawatnya. Di tempat itu mereka merawat seekor kura-kura yang baru selesai operasi di bagian perut nya. Melissa meminta Scott untuk sedikit mengangkat kura-kura itu. "Hai jagoan." Dengan penuh sayang, Melissa memeriksa luka operasi yang masih baru. Setelah memastikan tidak ada infeksi, Melissa mengoleskan obat kemudian menutup luka dengan perban baru. "Kau anak yang kuat." Dia melihat Scott telah mengganti cairan infusnya. Dia kemudian menyuntikkan antibiotik dan obat. Perlu sedikit usaha dan tenaga karena kulit kura-kura yang begitu keras. "Kondisinya stabil, kita bisa fokus pada pemulihan." Setelah selesai dengan kura-kura, dia mengambil seekor iguana hijau yang dirawat karena kekurangan kalsium. Badan iguana itu sedikit lembek, dan ukurannya lebih kecil untuk usianya. "Kurasa kita bisa memberinya obat sekarang." Melissa menyiapkan beberapa suntikan khusus yang terdiri dari infus, antibiotik, obat dan makanan anjing yang telah dihaluskan. Scott memegangi hewan itu agar tidak lari. Pertama, Melissa menyuntikkan cairan infus di bawah lapisan kulit, kemudian antibiotik dan sedikit obat, lalu yang terakhir, Melisa memberinya makan melalui mulut. Semua di lakukan dengan suntikan khusus karena hewan itu sedang susah makan. Dua hari lalu saat melakukan x-ray, dia menemukan batu di saluran kencing si iguana yang kemungkinan mendesak lambungnya dan menghambat kemampuan dalam menerima makanan. Dengan sabar Melissa memberikan makanan sedikit demi sedikit. Selain karena iguana itu sedang sakit, batu yang ada di saluran kencing iguana itu membuatnya muntah. "Kapan dia akan dioperasi dok?" Tanya Scott yang memperhatikan mulut iguana yang dipenuhi makanan yang di muntahkan. Melissa mengambil tissue lalu mengelap mulut iguana kecil itu dengan hati-hati. "Setidaknya sampai kondisinya stabil. Dua Minggu dari sekarang, atau jika menunjukkan perkembangan yang pesat. "Dia baru enam bulan, tapi dia kecil juga." "Dia akan menjadi kerdil meski sudah sembuh dan dioperasi. Meskipun aku masih tidak mengerti kenapa ukuran batu ditubuhnya sudah sebesar itu padahal umurnya masih enam bulan." Makanan kembali di berikan. Jumlahnya sudah diatur sesuai berat badan dan kebutuhannya jadi dia harus menghabiskan makanan itu meskipun memerlukan usaha. "Mungkinkah kesalahan sejak masih bayi? Dia kurang asupan sinar matahari dan kurang minum banyak air kan?" Bayangan seorang anak berusia sepuluh tahun yang begitu khawatir karena hewan kesayangan harus di rawat membuat hati Melissa seperti tercubit. Dia tidak marah pada anak itu, tetapi tidak menyukai fakta bahwa iguana itu diberikan kepada seorang anak kecil sebagai hadiah Natal tanpa dibekali cara merawat yang baik dan benar. "Kemungkinan besar seperti itu. Karena itulah jangan meremehkan binatang peliharaan apapun jenisnya. Bahkan sekalipun dia reptil. Oh satu lagi. Jangan digunakan sebagai hadiah. Mereka punya nyawa, dan mereka juga punya perasaan. Kalau kau hanya membutuhkan mereka untuk mainan lalu kemudian membuangnya jika sudah bosan lebih baik pelihara boneka saja."Melissa menyuntikkan makanan untuk yang terakhir. "Aku bekerja dengan binatang dok, tidak mungkin aku melakukan seperti itu." Scott berkata dengan cemberut. "Oh maaf, aku terlalu terbawa perasaan." Jika mereka tidak mau membiayai hewan itu, Melissa sudah berencana memberikan ceramah panjang lebar pada orang tua anak itu dan akan membawa si iguana ke penangkaran atau memberikan pada temannya yang sanggup untuk merawatnya. Namun Untung saja mereka mau membayar perawatan hingga sembuh. "Jika kasus ini bisa selesai aku akan memberitahu mereka. Baiklah, sekarang kembalikan dia ke kandangnya." ... "Kau boleh pulang Scott. Aku sudah disini jadi tidak perlu menunggu yang lain datang. Terimakasih sudah mengurus mereka." Melissa berkata saat memasuki ruangan Staff. Scott sedang duduk di balik komputer. "Tidak masalah dok, aku senang melakukannya." Melissa menyadarkan tubuhnya di tepi meja di seberang Scoot, tangannya bersidekap. Dia menatap pemuda berambut keriting itu. "Kau tahu? Klinik kita sudah mulai dikenal, dan mulai banyak pemilik hewan yang datang. Apakah mulai besok kau mau membantu pada jam reguler?" Scott adalah dokter muda yang baru lulus kuliah, tentu saja tawaran Melissa sangat berarti untuk karirnya. "Benarkah? Lalu siapa yang menjaga klinik saat malam hari?" "Aku akan tinggal di sini. Ada ruangan kosong di lantai tiga.Tentu saja aku akan mencari satu asisten lagi untuk berjaga kalau-kalau aku harus pergi." "Tapi kau tidak bisa bekerja dalam dua puluh empat jam dok." Wajah Scott tampak khawatir. Dia tahu betapa sibuk Melissa dengan pekerjaannya di klinik, kemudian kunjungan rutinnya di shelter sebagai bagian dari pekerjaan amal. "Klinik ini tidak benar-benar buka dua puluh empat jam. Hanya menerima keadaan darurat. Lagipula aku lebih lega jika mengawasi pasienku secara langsung." Yang dikatakan Melissa benar-benar dari hati. Dia ingin berada satu rumah dengan hewan-hewan yang dia rawat, sehingga jika mereka mengalami hal yang mendesak, mereka tidak harus menunggu Melissa hingga datang dengan resiko nyawa mereka tidak selamat. Bagi Melissa itulah dedikasi seorang dokter tidak peduli jika itu dokter manusia ataupun dokter hewan. Scott tahu jika selama ini Melissa tinggal di Apartemen mewah bersama kekasihnya. Dia juga tahu bahwa Melissa sedang memiliki masalah tentang hal itu, namun dia memutuskan tidak bertanya karena itu bukan urusannya. "Jadi bagaimana?" "Tentu aku mau. Terimakasih." Scott menjawab dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Setelah Scott pulang, Melissa menuju ruang pantry untuk membuat kopi agar pikirannya lebih jernih. Dia merasa sangat lelah dan badannya terasa pegal dan sedikit nyeri, jelas Melissa tahu apa penyebabnya. Mengingat kejadian semalam wajahnya kembali memerah. Melissa segera menepis bayangan ingatan yang terasa seperti video porno itu. Jika bisa dia ingin tidur seharian demi mengistirahatkan badan pikirannya yang lelah. Namun tanggung jawabnya sebagai dokter hewan membuatnya harus fokus pada hewan yang harus dia obati melebihi masalah pribadinya sendiri. Melissa kembali ke ruang kerjanya untuk memeriksa hasil sinar-x si iguana hijau. Hingga sesuatu menabrak kakinya dan dia melihat ke bawah meja. "Hai, kau sudah bangun?" Melissa tersenyum dan membelai belakang kepala Anjing golden Retriever yang memekik kegirangan karena bertemu dengannya. Dia adalah Angel, anjing peliharaan klinik Melissa. Banyak orang yang menyukai Angel karena dia pintar dan ramah pada manusia. Secara tidak langsung dia menjadi maskot klinik hewan Melissa. Angel juga memiliki tugas memberi dukungan emosional pada pasien yang membutuhkan perawatan ataupun yang takut karena tidak suka disuntik, sehingga mereka menjadi lebih tenang saat bertemu Angel. Melissa tidak pernah melatihnya, dia hanya tidak sengaja masuk saat Melissa sedang memberikan vaksin rutin pada seekor anjing yang gemetaran karena takut disuntik. Angel mendekat dan mengendus anjing itu kemudian mereka melakukan komunikasi yang Melissa tahu hanya di mengerti oleh para anjing. Hal itu juga terjadi saat Melissa mencoba memperkenalkannya pada hewan yang rawat inap. Angel membuat hewan itu lebih bersemangat dan pemulihanpun menjadi lebih cepat. Sejak saat itu Melissa mengijinkan Angel untuk mendampingi pasien saat penyuntikan vaksin dan menghibur hewan yang rawat inap. Dengan catatan hewan itu tidak terkena penyakit menular. Angel melakukannya dengan sangat baik. Anjing itu seolah tahu apa yang menjadi tugasnya. Setelah ditinggalkan dalam keadaan nyaris mati di udara beku, dia berterima kasih pada penyelamatnya. Melissa menyiapkan makanan untuk Angel dan anjing itu melahapnya dengan rakus. Melissa menghela napas saat mendengar kicauan burung dan menatap langit pagi yang cerah. Dia sudah memutuskan untuk menetap di klinik. Tetapi dia meninggalkan pakaian dan barang-barangnya di apartemen. Dia terlalu jijik untuk kembali ke tempat itu. Alex pasti sudah lebih dari sekali membawa wanita di apartemen mereka. Lagipula, surat-surat penting ada di mobil dan dokumen ada di klinik. Melissa akan memulai semua dari awal. Dia harus fokus untuk mengembangkan klinik yang baru dia dirikan dua tahun lalu. Dia baru tersadar. Disaat dia sedang membanting tulang untuk kliniknya, Alex bersenang-senang dengan wanita lain. Dia mendengus keras. Untung saja, saat berada di klinik dan melihat para hewan,juga Angel bisa mengalihkan perhatian Melissa. Juga Dalton ... meskipun memalukan, tapi Melissa akui pertemuan panas dengan pria itu membuat rasa sakit hati Melissa tidak separah sebelumnya. Tapi itu hanya satu malam. Tidak ada pertemuan kedua dan seterusnya. Tak peduli bahwa Dalton adalah pria terseksi yang pernah dia temui, yang dapat membuatnya melayang hingga melupakan akal sehat. Banyak yang harus dia lakukan. Tidak ada waktu untuk meratapi nasibnya. Membesarkan klinik yang dia bangun, mendatangkan alat yang lebih canggih dan spesifik, menambah kapasitas rawat inap dan membangun rumah sakit hewan yang terhubung langsung dengan rumahnya. Melissa juga ingin terlibat aktif dalam kegiatan penyelamatan hewan terlantar, dan membantu pengobatan gratis untuk mereka. Mulai sekarang Melissa akan membuka lembaran baru hidupnya. Hanya dia dan hewan-hewan. Dia tidak butuh laki-laki sebagai teman hidupnya. Dan hal pertama yang dia lakukan adalah membeli baju baru. ... Pasir putih dan air di tepi pantai terasa yang hangat. Udara tropis memang menyenangkan. Dalton meninjau tempat yang akan menjadi tempat calon bisnis barunya di luar Amerika. Mata gelapnya tersembunyi dibalik kacamata hitam dan angin pantai meniup rambutnya yang gelap. Bukannya berantakan, namun hal itu membuatnya terlihat seksi di mata wanita. Dia seperti seorang model. Di temani oleh beberapa pria berpakaian formal yang berbicara bahasa Spanyol, mereka membicarakan rencana dan konsep pembangunan hotel dan resort di area yang masih belum banyak diketahui publik. Dalton berkomunikasi dengan lancar kepada mereka. Dengan terbatasnya akses ke tempat itu karena tidak semua orang bisa datang ke sana, Dalton berencana menjadikannya kawasan berlibur untuk kalangan atas. Sehingga mereka bisa menikmati liburan dan suasana pantai yang privat tanpa banyak wisatawan. Karena Dalton merasa pantai tropis selalu dipenuhi turis hingga nyaris tidak ada tempat untuk bersantai. Dan sepertinya puas dengan penjelasan Dalton. Terlihat dari anggukan mantap dan senyuman "Kenapa kau tertarik melebarkan bisnismu di sini?" James bertanya saat mereka berjalan kembali ke mobil. "Tidak ada alasan khusus. Aku melihat peluang yang cukup menjanjikan dan belum terlalu banyak saingan. Juga keamanan disini cukup stabil." "Apa kita perlu menyingkirkan hutan itu?" "Biarkan saja. Itu bisa menjadi nilai tambah untuk resort nantinya." Dalton dapat melihat pepohonan yang lebat berwarna hijau tua di depan garis cakrawala yang biru. Warna yang mengingatkan Dalton pada dalamnya tatapan seseorang. Sejak kapan dia jadi melankolis seperti ini? Pada malam harinya mereka di jamu dengan makan malam mewah di hotel yang berlatar pantai tropis di Argentina. Alunan musik dan tarian penuh energi khas negara latin menghibur Dalton yang hanya menatap datar di kursinya. Satu-satunya hal yang dia sukai adalah Torrontes - minuman yang terbuat dari varietas anggur yang ditanam secara eksklusif di Argentina- Yang jarang dia temui di LA ataupun Eropa. Para penari wanita berpakaian minim meliuk-liuk dengan gerakan sensual. Tatapan Dalton sempat bersirobok dengan seorang dari mereka dan dia bersumpah melihat ekspresi mengundang di wajahnya. Namun Dalton buru-buru berpindah melihat tempat lain. Dia sedang tidak tertarik, dan tidak b*******h padahal banyak gadis eksotis nan seksi yang terang-terangan memberikan undangan padanya. Dalton kembali meneguk minumannya. Kepalanya terus mengingat malam yang dia lalui dengan Melissa. Dia tidak bisa melupakan pesona mata biru yang seolah bisa menghipnotisnya. Kemudian wajahnya yang cantik berubah kemerahan karena hal yang telah dia lakukan padanya. Dan suara putus asa yang memohon pada Dalton untuk membawanya mencapai puncak kenikmatan begitu merdu ditelinga. Hal itu terus berlanjut hingga kunjungannya di Argentina selesai dan kembali ke Los Angeles. Saat di berada di dalam pesawat dia bersandar sambil melihat ke luar jendela. Sikapnya yang aneh ini pun juga disadari oleh James dan asistennya. "Bos kita seperti bocah yang merajuk." Ucap asisten pribadinya. James memperhatikan Dalton. Dia bersikap seperti ini sejak meninggalkan hotel di Amerika. Hari dimana dia menghabiskan malam ulangtahunnya dengan seorang wanita yang entah dia tidak tahu siapa. "Ada apa? Apa wanita itu terlalu nikmat sehingga kau tidak bisa melupakannya?" Dia bertanya sambil menyeringai. Dalton mendengus dan cemberut karena tebakan James tepat sasaran. "Kenapa kau tidak mencarinya saja?" "Kau tau aku tidak pernah berkencan dengan wanita yang sama dua kali kan?" James merotasi bola matanya malas. Dalton dan harga dirinya yang tinggi. Meskipun dia tidak tahu apa yang membuat pria itu berubah menjadi seorang pemburu. Namun James merasa itu bukanlah urusannya. Dalton masih muda, tidak ada salahnya dia mencari hingga menemukan wanita yang cocok untuk menghabiskan sisa hidupnya. Itu jika dia mau. "Seperti apa dia?" James bertanya penasaran dengan wanita yang berhasil membuat temannya itu bersikap seperti anak kecil. "Dia pirang, matanya besar dan biru." Benar-benar tipe wanita kesukaan Dalton. Namun dia pernah bertemu wanita pirang sebelumnya dan tidak pernah berefek seperti ini. "Cari saja yang lain, aku yakin masih banyak wanita seperti itu. Atau kau mau ke Eropa?" Dalton tidak merespon. Dia tidak butuh Eropa atau gadis manapun, mungkin dia tidak akan bertemu lagi dengannya, namun ada sesuatu di dalam diri Melissa yang tidak dapat dirasakan dengan wanita lain. . . . TBC Maaf baru update.. saya sibuk pindahan toko saya.. gara2 dampak pandemi.. ? Ya sudah terimakasih sudah membaca ? Tolong vote dan komen kalau suka yaa.. Saya usahakan update teratur ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD