"Kau yakin ingin tinggal disini Mell?"
Sarah bertanya saat dia mengunjungi Melissa di kliniknya. Jam operasional sudah tutup dan sekarang mereka berada di lantai satu yang di gunakan untuk pet shop. Sarah duduk di sofa kulit berwarna merah yang di tata seperti ruang tamu. Tempat itu juga digunakan untuk ruang tunggu pemilik hewan sebelum bertemu dengan dokter.
"Aku bisa sedikit membenahi lantai tiga dengan menambahkan dapur kecil dan memanfaatkan rooftop untuk tempat bersantai. Klinik ini berada di lokasi yang sempurna karena dekat dengan Venice beach, rasanya aku tidak perlu repot memikirkan mencari apartemen." Melissa tertawa kemudian kembali berkata. "Lagipula ini adalah salah satu impianku memiliki klinik yang menjadi satu dengan rumahku. Yah ... meskipun sedikit berbeda karena keputusan ini tiba-tiba."
"Tapi Mell ... " Perkataan Sarah menggantung di udara. Membuka kliniknya sendiri dan menjadi satu dengan tempat tinggalnya adalah impian Melissa sejak kecil, namun saat itu Alex kurang setuju karena membuat Melissa kurang memiliki waktu sehingga Melissa bersedia mengalah. Tidak disangka inilah balasan yang dia berikan atas pengorbanan Melissa.
"Jangan kasihan padaku." Melissa berkata dingin seakan bisa membaca pikiran sarah. "Lebih baik kau tidak menemuiku dulu jika hanya menunjukkan tatapan seperti itu."
Melissa sangat tidak suka jika ada orang yang kasihan padanya. Itulah Melissa. Wanita kuat dan mandiri. Dia lebih suka menjadi orang yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain tanpa menunjukkan sisi lemahnya, apapun masalah yang dialaminya.
"Ayolah Mell, bukan seperti itu maksudku."
Sarah menghela napasnya. "Baiklah, kau sudah memutuskan untuk melupakan Alex maka yang aku lakukan adalah mendukungmu dengan tidak mengungkit masalah itu lagi."
"Lagipula kenapa kau disini? Apa rumah sakit hewan itu sedang tidak memiliki pasien?" Tanya Melissa kesal. Temannya itu menganggu waktu bersantai Melissa dengan secangkir kopi dan pemandangan matahari terbenam dari atas balkon.
"Aku libur! Aku kesini untuk menjemputmu, kita akan mencoba gaun yang akan kau pakai saat menjadi pendamping pengantin di pernikahanku." Sarah merengek dengan kesal.
Melissa menepuk jidatnya. Dia benar-benar lupa jika memiliki janji temu dengan butik yang ditunjuk sarah. Dia sangat sibuk di klinik sehingga tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal ini.
"Maaf aku benar-benar lupa."
...
Dalton duduk di kursi kulit merahnya, memperhatikan layar TV yang terus menerus menayangkan bursa saham. Informasi yang bergerak melintas di sepertiga bagian bawah layar tidak membuatnya terkesan. Semuanya lancar dan keadaan stabil. Seperti yang diharapkan dari seorang Dalton Jones.
Dengan bosan dia melemparkan panah dart ke target yang ada di seberang ruangan. Meleset.
Ini pertama kalinya sejak dia memutuskan untuk memulai usahanya sendiri setelah ibunya meninggal. Semua yang dilakukan Dalton selalu tepat. Itu hanya permainan, seharusnya dia tidak perlu gusar. Bisa saja tangannya sedang licin atau dia sedang mengantuk, meskipun itu hanya ada dalam imajinasinya.
James masuk ke ruangan Dalton. Seperti biasa wajahnya selalu di tekuk.
"Nichole sudah dua kali menelpon dan dia sudah tidak percaya kalau kau sedang pergi atau menerima tamu, aku tidak bisa terus-terusan mencari alasan."
"Itu adalah salah satu tugasmu James, membuat alasan untukku."
James memijit pangkal hidungnya. Dalton benar-benar bersikap seperti anak kecil yang kehilangan mainan dan orang tuanya tidak bisa membelikannya lagi karena hanya ada satu. Di sepanjang Minggu ini dia sering melamun. Meskipun hal itu tidak memengaruhi pekerjaannya. Tapi tetap saja merepotkan untuk James.
"Kenapa kau tidak mau menerima telepon dari Nichole?"
Dalton teringat kaki jenjang pengacara cantik yang jelas terlihat cerdas. Namun dia adalah orang egois dan selalu memikirkan diri sendiri. Matanya tidak terlihat cerdik namun licik.
"Dia yang membatalkan kencan secara tiba-tiba di saat terakhir. Aku tidak bisa memaafkannya."
"Bisakah kau berhenti bersikap seperti anak kecil?!"
"Untuk urusan yang ini susah."
"Aku disini bekerja sebagai sekretarismu, sialan. Bukan menangani hal remeh seperti ini."
Dalton menatap wajah teman lamanya itu.
"James, kenapa kau selalu marah-marah?"
"Memangnya salah siapa aku marah-marah begini?"
James berteriak jengkel pada bosnya itu. Kemudian matanya menyipit memperhatikan Dalton.
"Jangan bilang kau masih memikirkan wanita pirang itu."
"Dia cantik sekali, dan satu-satunya wanita yang memintaku melupakan apa yang telah kami lakukan malam itu. Seharusnya aku yang mengatakannya."
Tidak ada wanita yang pernah menolak Dalton sebelumnya. Itulah yang mengusik harga dirinya yang tinggi.
"Kau gelisah karena dia wanita pertama yang tidak tertarik padamu."
Dalton menyadari apa yang dikatakan James itu benar. "Hanya kau yang memahamiku James."
"Diam kau! Jangan pernah ucapkan kata menjijikkan itu padaku."
James berkata dengan risih. Dia menyerahkan portofolio tebal untuk di periksa Dalton. Itulah tujuan utama dia masuk kesini.
"Kalau kau ingin melupakannya maka lupakan. Tapi jika kau terus memikirkannya maka carilah dia!"
Dengan itu James keluar dari ruangan Dalton dengan sedikit membanting pintu.
Membuat Dalton menggeleng tak habis pikir kenapa James tidak terkena hipertensi sampai saat ini.
Dalton kembali memikirkan ucapan James. Memang benar semua kegalauan dan kegelisahannya selama ini disebabkan oleh Melissa. Selain nama dan pekerjaannya sebagai dokter hewan, Dalton tidak memiliki informasi apapun tentang wanita itu. Bisa saja dia mencarinya, namun prinsip dan harga dirinya membuatnya enggan melakukannya. Dia selalu di kejar, bukan mengejar. Meskipun malam itu Melissa yang menggodanya terlebih dulu, tetapi saat itu dia sedang mabuk. Jika Melissa tidak mabuk Dalton yakin wanita itu lebih memilih memukul wajahnya alih-alih menciumnya.
Dalton bangkit dari kursinya. Pemandangan kota Los Angeles dari atas gedung tertinggi yang mengingatkan akan kesuksesannya tidak dapat menghiburnya.
Sekarang dia tidak bisa memikirkan untuk berkencan dengan siapa. Dia juga tidak ingin jalan-jalan sendirian untuk melihat siapa yang bisa dia akan berkencan di kelab-kelab malam yang biasa dia datangi. Lagi pula, sejak dia kembali dari Argentina dia merasa mengejar wanita yang jelas akan takhluk padanya menjadi tidak menarik lagi.
Diusianya yang sudah tiga puluh empat tahun daa merasa gairahnya mulai menurun. Sial, dia belum punya anak. Dia masih membutuhkan pewaris.
Dia selalu sangat berhati-hati untuk menentukan wanita yang mendapatkan kehormatan untuk mengandung anak-anaknya. Dia tidak ingin anaknya lahir dari wanita yang tidak memiliki emosi yang stabil. Wanita itu harus memiliki sifat keibuan yang alami agar bisa mendidik dan merawat anak dengan baik.
Tidak ada yang menyangka bahwa Dalton memiliki sisi romantis yang mungkin akan ditertawakan oleh orang yang mengenalnya. Impiannya adalah memiliki anak perempuan berambut pirang. Dalton memang memiliki minat lebih pada perempuan berambut pirang hingga sampai pada tingkat memiliki anak.
Pirang seperti mendiang ibunya.
Selain itu anak perempuan biasanya akan selalu dekat dengan ayahnya. Tapi bagaimana jika anaknya malah mirip dengannya? Laki-laki dan bersambut gelap? Tidak masalah sebenarnya. Jika anak itu mirip dengannya dia hanya harus memberikan tindakan 'khusus' untuk mendisiplinkan.
Dalton tidak menyadari bahwa dia telah melakukan sesuatu yang fatal.
...
"Kau cantik sekali."
Sarah berkata penuh kekaguman saat Melissa keluar dari ruang ganti. Gaun berwarna krem tanpa lengan itu sangat pas di tubuh Melissa.
"Sepertinya kau harus mulai berkencan untuk mendapatkan pria yang bisa menemanimu datang ke pesta pernikahanku nanti."
"Mungkin aku akan mengajak Scott." Melissa berkata sembari terkekeh pelan.
"Scott adalah anak yang baik dan manis."
"Bukan seperti itu hubungan kami, aku menganggapnya seperti adikku sendiri. Dia terlalu muda untukku." Melissa segera memberi penjelasan sebelum Sarah salah paham. Dia mengatakan yang sebenarnya. Scott sudah seperti adiknya dan dia tidak akan jatuh cinta padanya. Melissa tertawa dalam hati ketika memikirkan Scott mungkin menganggapnya seperti orangtuanya.
"Aku yakin kau akan sangat cantik dan para pria akan menatapmu."
"Kau pengantin wanitanya, seharusnya kau yang menjadi ratu."
"Apa gunanya diperhatikan seperti ratu jika sudah menjadi istri orang."
"Jangan coba-coba Sarah! Jika ada pria aneh tiba-tiba mendekatiku kaulah yang aku bunuh."
Melissa memperingatkan Sarah agar tidak berusaha menjadi mak comblang. Tidak peduli meskipun Sarah mengenal banyak dokter muda yang lajang. Begitupun suami Sarah yang seorang Bankir dan memiliki banyak teman pengusaha kaya.
"Mell..."
Sarah menatap Melissa. Wajahnya menampakkan sedikit penyesalan dan merasa bersalah karena merayakan pernikahan. Dia tahu betapa Melissa sangat menginginkan pernikahan dan keluarga yang bahagia. Namun semua itu sirna karena penghianatan yang di lakukan Alex.
"Aku bahagia untukmu Sarah, sungguh. Kau tidak perlu merasa bersalah padaku. Justru aku akan marah kalau kau sampai membatalkan pernikahan hanya gara-gara aku."
Melissa meyakinkan Sarah. Ekspresi dan nada suaranya terdengar ringan dan tanpa beban. Dia tidak mengerti kenapa Sarah yang merasa sedih dan terluka padahal Melissa telah memutuskan untuk melangkah maju. Mungkin orang lain akan menanggap ini terlalu cepat atau mungkin mereka akan mempertanyakan perasaan Melissa dalam hubungannya yang dulu. Namun Melisa tidak peduli. Dia tidak punya waktu untuk menangisi hubungannya yang gagal.
Sarah segera menghambur dan memeluk Melissa.
"Kita akan selalu menjadi sahabat tidak peduli apapun yang terjadi."
Perasaan senang dan terharu memenuhi Melissa karena sang sahabat tidak akan meninggalkannya meski telah menikah . Dia mengusap punggung Sarah untuk menenangkannya dan berkata. "Ya, tentu."
"Aku akan berdoa dan berusaha mencarikan pangeran tampan yang kuat dan bisa kau andalkan."
Melissa tidak dapat berkata-kata. Pikirannya untuk tidak lagi menjalin hubungan dapat melukai perasaan sahabatnya. Sebagai gantinya, dia memberikan senyum tulus untuk meyakinkan Sarah bahwa kegagalan hubungannya dengan Alex sama sekali tidak membuatnya terpuruk.
Setelah selesai mencoba gaun untuk Melissa, dua sahabat itu memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar berkeliling kota Los Angeles dan makan di cafe favorit mereka.
"Kau ... Melissa?"
Melissa melihat pria yang memanggilnya saat sedang menikmati makanan Meksiko favoritnya, dan mengetahui jika dia adalah Eddie, teman Alex. Pria itu menampilkan senyum yang dapat membuat kaum wanita meleleh jika melihatnya.
"Bisa kita bicara sebentar? Aku janji tidak akan menyita banyak waktumu."