Dan disinilah Melissa berada. Berhadapan dengan pria yang menjadi sahabat Alex. Tadinya Sarah bersikeras untuk tinggal, namun Melissa dengan tegas menyuruhnya pulang. Dia membutuhkan konsentrasi penuh saat mendengar apa yang ingin Eddie katakan, terutama jika ini menyangkut tentang Alex.
"Jadi ... langsung ke intinya saja. Apa yang ingin kau katakan?"
Respon Melisa mengirimkan serpihan-serpihan permusuhan yang berderak di udara. Seulas senyum samar menyentuh bibir tegas Eddie ketika dia memaklumi tindakan Melissa.
"Sepertinya kau benar-benar marah ya."
Sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
"Segala sesuatu yang berkaitan dengan Alex membuatku marah termasuk teman-temannya."
Ucap Melissa dengan muram sambil memandangi secangkir esspresso yang di pesannya. Tidak ada Alkohol. Sejak malam memalukan itu, Melissa telah bertekad untuk minum hanya saat dia berada dirumah sendirian.
"Alex mengatakan padaku bahwa kau telah mengganti nomor ponsel dan memblokirnya dari semua media sosial."
"Aku hanya tidak ingin diganggu oleh omong kosongnya."
"Ya, aku tidak dalam posisi membela atau menyalahkan siapapun."
Melissa beruntung Alex tidak mendatangi kliniknya, setidaknya belum. Namun jika Alex sampai muncul Dia akan menyuruh Angel untuk mengusirnya. Melissa tahu Alex tidak terlalu suka anjing besar. Melissa adalah korban gairah muda dan naif. Dia berharap bahwa suatu hari Alex akan mengerti dan mau memberikan perhatian pada hewan-hewan tanpa terkecuali. Nyatanya selama mereka bersama, Alex lah yang lebih banyak memegang kendali atas hubungan mereka. Melissa mau menyesuaikan diri dengan Alex, pria itu maniak kerapian, menuntut Melissa agar selalu terlihat cantik dan modis agar tidak membuat Alex malu di hadapan teman-temannya. Namun saat Melissa mengajaknya di acara amal untuk hewan terlantar, Alex selalu memiliki alasan agar tidak hadir. Dia juga bukan pecinta binatang. Dia alergi kucing, dan hanya mau menghadapi anjing yang terlatih dan berkarakter tenang. Satu ide muncul di kepala Melissa, jika Alex sampai muncul di kliniknya dia akan membawakan ular phyton kuning yang dititipkan di klinik untuk menakut-nakuti mantan kekasihnya itu. Dia yakin Alex akan langsung lari terbirit-b***t.
Dia mengamati profil tampan namun tegang pria itu. Mencari-cari petunjuk alasan keberadaan pria itu dihadapannya.
"Kau begitu dekat dengannya?"
"Bisa dibilang kami selalu menceritakan apapun."
"Termasuk masalah pribadi kami?"
"Bisa kita lewatkan itu?"
"Tidak. Aku ingin tahu."
Eddie tampak berpikir. Dia seperti menimbang kata yang tepat untuk dia ungkapkan.
"Ya, dia mengatakan bahwa hubungan percintaannya tidak semenarik dulu."
"Dia mengatakan tentang hubungan seks kami?"
Mata Melissa melebar tidak percaya. Eddie hanya terdiam tidak bisa mengelak.
"Kami bersahabat dekat."
"Tapi itu bukan alasan mengatakannya padamu."
"Kau tahu kan? Laki-laki selalu bermulut besar. Mereka berkumpul lalu minum dan arah pembicaraan b******k tentang wanita. Kemudian mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka maksudkan."
"Jadi dia bilang tidak puas denganku di tempat tidur? Dia bilang begitu? Itukah yang membuatnya berselingkuh?"
Napas Melissa memburu, air mata mulai tergenang di sudut mata Melissa. Bukan karena sedih, melainkan amarah.
"Oke, mungkin tidak seperti itu, tapi para pria pasti berharap agar pasangannya lebih kreatif di tempat tidur."
"Jadi dia menyalahkanku tentang hubungan seks yang membosankan?"
"Dia tidak menyalahkanmu. Dan aku tidak mendukung tindakannya yang selingkuh darimu."
Wajah Eddie terlihat frustasi karena pertanyaan Melissa.
"Tapi dia tetap melakukannya."
"Melissa."
"Apa tujuanmu kesini?"
Pertanyaan berapi-api Melissa dibalas dengan keheningan panjang. Dia tidak percaya menjadi pihak yang disalahkan atas perselingkuhan Alex.
"Asal kau tahu, dia juga harus disalahkan dalam hal ini. Dia begitu pengecut sampai harus memintamu berbicara padaku."
Eddie menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya. Dia melupakan niat awalnya yang hanya ingin mengobrol dengan Melissa.
"Sebenarnya Melissa, aku tertarik padamu. Tapi mengingat kau mantan kekasih Alex, itu seperti mengambil mainan milik temanku."
Menarik napas dalam kemudian menghembuskan perlahan. Melissa menahan diri supaya tidak menyiram wajah itu dengan kopi atau memukulnya dengan botol anggur. Jika Eddie benar-benar tertarik secara serius dengannya seharusnya dia tidak merendahkan dirinya dengan menganggapnya seperti barang murahan. Sekarang dia menyadari bahwa mereka sama brengseknya. Selain itu Eddie mungkin mengira bahwa tidur dengannya akan sangat membosankan, persis seperti yang di bilang Alex. Dia ingin meninju dan merusak wajah tampan Alex agar tidak bisa lagi tebar pesona dan mendapatkan wanita. Berani-beraninya dia menceritakan hal pribadi mereka pada orang lain. Alex seharusnya mengatakan langsung padanya, atau dia hanya mencari alasan untuk membenarkan perbuatannya?
Dia memang melangkah maju, tapi bukan berarti bersedia bertemu dan berbicara dengannya lagi kan? Untuk sekarang atau di masa depan. Dia dulu benar-benar dibutakan oleh cinta sehingga tidak melihat bahwa Alex bukanlah pria yang mau menerimanya apa adanya.
...
Melissa membuka pintu tempat tinggalnya di lantai teratas klinik. Tempat itu gelap, hanya diterangi cahaya dari lampu di luar bangunan. Melemparkan tas dan sepatunya secara asal. Toh dia tinggal sendiri, tidak ada yang akan menegurnya jika dia bersikap sembarangan. Dia sudah bukan anak kecil lagi. Jika dia mau dia akan bersikap disiplin, tapi jika dia lelah atau kondisi mood-nya sedang buruk maka dia tidak peduli meskipun belum mencuci kaki ataupun menghapus make-up. Dia langsung menuju ke ranjangnya lalu tidur.
Keesokan paginya Melissa bekerja seperti biasa. Banyak orang duduk dengan tenang di sofa ruang tunggu bersama hewan peliharaannya. Dengan sabar mereka menunggu giliran untuk di panggil ke dalam. Di ruangan pertama Scott memeriksa hewan dengan gejala ringan atau melayani vaksin rutin. Angel si Retriever berada di sana untuk memantau keadaan. Terkadang dia menyapa para tamu di ruang tunggu. Keberadaan Angel merupakan hiburan bagi para pemilik binatang dan membuat waktu menunggu tidak terlalu lama.
Di ruangan yang lebih ke dalam, Melissa menangani hewan dengan keluhan atau gejala yang lebih serius. Bukan berarti Scott tidak kompeten, dia hanya ingin membangun kepercayaan secara natural.
Seekor kura-kura dengan diameter sekitar lima puluh sentimeter telah dititipkan di klinik karena kesulitan bernapas dan flu. Setelah dilakukan pemeriksaan dan uji laboratorium, sekarang Melissa akan menyampaikan hasilnya. Dihadapannya seorang pria berumur lima puluhan sedang menunggu berita dari Melissa.
"Kura-kura milik anda terkena pnemonia, dan dia harus ditempatkan di ruang isolasi."
Pria itu tampak terkejut mendengarnya. "Pnemonia? Bukankah penyakit itu hanya menyerang manusia dan anjing?"
"Mungkin maksudmu mamalia." Melissa mengkoreksi. "Dan ya, penyakit ini juga bisa menyerang reptil terutama kura-kura karena dia berukuran besar. Penyebabnya adalah virus."
"Apakah dia bisa sembuh?"
Mata pria itu memancarkan harapan yang begitu besar. Terlihat bahwa dia telah menganggap kura-kura itu adalah keluarganya.
"Dengan perawatan maksimal, namun waktu yang dibutuhkan sedikit lama."
Dalam hal reptil mungkin dapat memerlukan waktu hingga berbulan-bulan.
"Aku tidak keberatan berapapun biayanya asal dia bisa sembuh."
Seulas senyum terbit di bibir merah Melissa. Kura-kura itu adalah spesies yang memiliki umur panjang. Dan pria itu telah memeliharanya sejak dia masih kecil, bisa di bilang mereka memiliki umur yang sama. Jadi dia mengerti ikatan batin yang pria itu rasakan dengan si kura-kura.
"Jika kau mau aku bisa membuatkan surat rekomendasi untuk di rawat di rumah sakit hewan khusus reptil."
Demi kebaikan hewan itu Melissa tidak bisa bersikap egois. Reptil bukan keahlian khususnya dan di tempat itu si kura-kura akan mendapatkan perawatan maksimal dan kemungkinan pulih akan lebih cepat.
"Apapun untuk kesembuhan Rowzie."
...
"Angel, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke pantai?"
Melissa bertanya pada anjing itu saat kliniknya sudah tutup pada jam lima sore. Di luar langit masih cerah, waktu yang sempurna untuk menikmati jalan-jalan sore di tepi pantai.
Seolah mengerti, anjing itu menggonggong sekali kemudian ekornya bergoyang bagai tornado dan lidahnya terjulur keluar. Ekspresi Angel seperti sedang tersenyum, menandakan bahwa dia siap untuk dia ajak berjalan-jalan. Angel adalah bagian dari tim klinik Melissa, dia juga bekerja dan butuh refreshing setelah menghadapi para pasien.
"Baiklah, aku akan berganti baju dan mengambil tali."
Setelah berganti pakaian yang membuatnya tidak panas dan mudah bergerak, Melissa memasang tali pada leher Angel kemudian mereka pergi menyusuri jalan yang ramai namun tidak sampai menimbulkan kemacetan. Dia begitu beruntung karena langsung menemukan tempat yang begitu strategis dan dekat pantai untuk membuka kliniknya. Tanpa pikir panjang Melissa langsung membeli gedung itu meskipun harus menguras habis uang tabungannya. Dan keputusannya saat itu di rasa tepat, karena sekarang meskipun dia meninggalkan apartemen yang dia tempati bersama Alex, Melissa tidak perlu mencari tempat tinggal lain karena tempat itu sudah sempurna untuknya.
Hanya dua blok dari klinik dan sepuluh menit berjalan kaki mereka telah sampai di Venice Beach yang terkenal. Beruntung Angel adalah anjing memiliki karakter yang tenang dan berjalan mengikuti pemiliknya, sehingga Melissa tidak sampai merasa ditarik oleh anjingnya. Setelah sampai, Melissa langsung mencari tempat di pinggir pantai yang sekiranya bisa membawa anjing.
Akhirnya Melissa menemukan tempat yang memiliki cukup ruang untuk Angel agar bisa berlari. Dia melepaskan tali dari leher Angel, kemudian memberikan instruksi untuk bermain. Anjing itu paling suka bermain lempar tangkap. Berkali-kali Melissa melemparkan fresbee dan Angel selalu berhasil mengambilnya dan membawanya kembali padanya.
Selain mengejar dan mengambil, Angel juga suka berenang. Sesekali Melissa melemparkan fresbee ke laut dan Angel akan mengambilnya dengan lancar. Melissa telah memperhitungkan jarak amannya,jadi tidak perlu khawatir jika Angel akan tenggelam.
Untuk yang kesekian kali, Angel membawa freesbe itu kepada Melissa. Setelah itu dia akan memandang dengan semangat, menunggu sampai benda itu di lemparkan.
"Kau anak yang pintar." Melissa berkata sambil mengusap kepala Angel.
Dia gemas melihat wajah konyol dan terlihat selalu tersenyum itu. Golden Retriever adalah anjing yang manis. Tak heran ras ini menjadi favorit hewan peliharaan di seluruh dunia. Namun semua itu tidak ada artinya tanpa didukung oleh pemilik yang mau berkomitmen dan bertanggung jawab.
Golden Angel adalah nama yang tertulis di surat kelahirannya. Anjing ras murni yang memiliki garis keturunan para juara dalam pameran. Tentu saja harga yang harus dibayar untuk memilikinya sangat mahal. Namun dia tetap berakhir di buang di jalan. Saat mereka menelusuri pemiliknya melalui tato di telinga Angel, orang itu dengan ringan mengatakan bahwa dia sudah bosan dan tidak menginginkan anjing itu lagi. Membuat Melissa begitu marah saat mendengarnya hingga melaporkan pada departemen perlindungan hewan agar orang itu tidak diberi izin untuk memelihara binatang lagi.
Awalnya Melissa hanya ingin merawat Angel hingga kondisi kesehatannya membaik dan berat badannya kembali normal. Banyak yang ingin mengadopsi Angel. Namun tidak ada satupun yang berhasil karena Angel selalu menangis di malam hari dan menolak makan di tempat keluarga barunya, hingga akhirnya dikembalikan lagi pada Melissa. Selama dirawat, Anjing itu terbiasa berinteraksi dengan Staff dan pengunjung yang perhatian dan menyayanginya, sehingga tidak heran Angel memiliki ikatan yang kuat dengan Melissa dan kliniknya.
Sudah satu jam mereka bermain di pantai namun Angel belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Anjing itu masih semangat berlari mengambil mainan dan LP Melissa tidak tahu apa yang bisa dia lakukan selain lempar tangkap. Dia sedang malas berlari, namun dia tidak mungkin membuat istana pasir seperti anak kecil.
Memutuskan untuk memberi waktu tiga puluh menit lagi sebelum mereka pulang, kali ini Melissa melemparkan bola. Namun tanpa sengaja bola itu mengenai seorang pengunjung yang sedang bersantai. Melissa ingin mengambil bola itu dan meminta maaf tapi Angel sudah lebih dulu melesat. Melissa melihat pria itu mengambil bola berwarna hijau milik Angel dan memberikannya pada anjing itu. Melissa tidak dapat melihat wajahnya karena pria itu memunggunginya, namun Melissa bisa melihat jika pria itu sempat mengelus kepala Angel kemudian anjing itu menggoyangkan ekornya tanda dia telah berteman. Dia mengajaknya bermain dan Angel merasa kegirangan.
Membuat Melissa kebingungan, karena meskipun dia adalah seekor golden retriever, Angel masih sering merasa takut untuk berkenalan dengan orang asing di luar klinik tanpa pendampingannya.
"Angel?"
Melissa penasaran, lalu mendekat ke arah pria yang sedang bermain dengan anjingnya.
Mata Melissa melebar dan mulutnya menganga. Dia terkejut bahwa pria itu adalah Dalton.