Chapter 07

2157 Words
"Aku sudah sampai di tempatmu tapi hanya ada anak buahmu." Dalton menelpon sambil mondar-mandir di ruang vip sebuah kafe. Seseorang telah mengundangnya datang namun orang itu tidak ada ditempat. "..." "Sialan! Kau memaksaku datang dan kau juga yang memaksaku menunggu!" ".." "Kau tahu betapa berharganya waktuku, sebaiknya kau memberi penawaran bagus." ".." Dengan kesal Dalton memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Dia mengumpat, beraninya orang itu melakukan hal ini padanya. Jika itu adalah orang lain, Dalton pasti sudah memberi pelajaran karena telah membuat orang seperti dirinya menunggu. Daripada bosan Dalton lebih memilih keluar untuk berjalan-jalan sembari menunggu orang itu datang. Venice Beach adalah tempat yang selalu ramai. Meski dia telah mendatangi tempat yang lebih indah bahkan beberapa merupakan pantai pribadi, Dalton tidak akan pernah bosan berada di tempat ini. Selain karena California bukanlah tempat dia di lahirkan dan di besarkan. Tempat ini adalah awal dari semua usahanya dimulai. Dalton memutuskan menunggu di kursi yang di tata di tepi pantai sambil menikmati suasana sore dengan minuman soda yang di belinya dari kafe. Selama itu, dia bisa merasakan tatapan para wanita yang melihat ke arahnya. Memang banyak gadis cantik berbikini yang dengan senang hati akan datang hanya dengan kedipan mata Dalton, tapi dia sedang tidak tertarik berkencan dengan siapapun sekarang, bahkan untuk sekedar One Night Stand. Entahlah, dia merasa seperti orang tua yang impoten. Meski dia tahu apa penyebabnya, tapi Dalton tidak bisa mengendalikannya. Saat Dalton tengah tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba sebuah bola mengenai kakinya yang berbalut celana jeans coklat. Dia ingin melihat siapa orang yang telah berani melempar bola itu padanya, namun yang datang malah seekor anjing datang menghampiri. Anjing itu berhenti sesaat, wajahnya menunduk dan ekornya tertekuk ke dalam. Jelas, dia merasa ragu untuk mendekat. Dalton mencoba bersikap ramah agar tidak menakuti anjing itu. "Apa ini milikmu?" Anjing itu masih menatapnya dengan polos. Terlihat dia ingin mengambil bola yang di pegang, tapi dia masih takut pada Dalton. "Di mana pemilikmu? Kau sedang bermain lempar tangkap eh?" Dalton mendekat dan mencoba mengusap kepala anjing itu. Awalnya sempat ragu-ragu, namun perlahan ekornya bergoyang semakin lama semakin cepat, wajahnya terangkat menatap Dalton menandakan bahwa dia percaya bahwa Dalton bukan ancaman. Anjing itu sangat baik dan manis, bulunya lembut dan terawat, membuat Dalton enggan untuk cepat-cepat berpisah. Biarkan saja dia di sampai pemiliknya datang untuk mencarinya. "Angel?" Suara seseorang memanggil, kemungkinan dia adalah pemilik anjing itu. Suaranya begitu merdu ditelinga sehingga membuat Dalton penasaran. Mata Dalton melebar saat melihat wanita yang di hadapannya, rasanya seperti wanita itu keluar dari dalam mimpinya. Dia adalah wanita yang memiliki mata indah yang selalu memenuhi kepalanya. Senyum tidak dapat ditahan dari wajah Dalton. Sejak kejadian malam itu ia tidak dapat melupakan wajah Melissa. Tadinya ia sudah nyaris menyerah tapi siapa yang menyangka wanita itu malah muncul sendiri di hadapannya. Sementara Melissa juga sama terkejutnya. Namun tidak seperti Dalton, Melissa sepertinya tidak berharap bertemu lagi dengannya. Dia masih tediam seperti patung. "Sebuah kebetulan yang tidak disangka-sangka." Akhirnya Dalton yang pertama memecah keheningan. "Dia anjingmu?" Melissa hanya bisa mengangguk kaku. Suara Dalton yang dalam dan seksi merasuk hingga tulangnya sehingga dia tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Dia merutuki dirinya yang bersikap seperti gadis remaja yang baru pertama kali bertemu seorang pria. "Dia sangat menyenangkan." Dalton membungkukkan badan saat mengusap bagian belakang kepala Angel. Melissa dapat melihat kulit sewarna tembaga dan rambut ikal yang mengintip dari balik kemeja yang dikenakan Dalton. Dia segera mengalihkan pandangannya. Pria ini benar-benar maskulin. "Kenapa Angel bisa akrab denganmu? biasanya dia hanya akrab pada orang di klinik." Alisnya berkerut ketika memikirkan Angel yang hanya berani bertemu orang baru hanya ketika berada di lingkungan klinik. Diluar tempat itu Angel adalah anjing yang takut pada orang asing. Dalton hanya mengangkat bahu. Sambil tersenyum dia berkata. "Hewan memiliki insting untuk mengenali orang baik atau jahat." "Kau pikir kau orang baik?" Melissa mengangkat kedua alisnya seolah Dalton mengatakan hal tidak masuk akal. "Kenapa kau berpikir tidak?" Dalton melipat kedua tangannya. Ekspresi Melissa sungguh lucu, membuatnya semakin penasaran. "Kau ..." Wajah Melissa langsung merona saat mengingat kejadian malam itu. Dia terlalu malu untuk mengatakannya. "Ada apa Melissa ... benar itu namamu kan?" Dalton bersikap seperti saat dia tidak sengaja bertemu lagi dengan mantan teman kencannya, padahal hampir setiap hari nama dan wajah Melissa selalu mengisi kepalanya. Wajah Melissa yang memerah karena malu kini berumah menjadi marah. "Kau.. kau pria yang mengambil kesempatan saat aku mabuk!" Akhirnya Melissa mengatakannya secara blak-blakkan. "Hey ... Kau yang memohon untuk aku sentuh." Ucap Dalton membela diri, mengabaikan belahan p******a penuh Melissa yang mengintip di balik atasan bikini yang dia sembunyikan di balik kemeja putih yang panjang. Dia tidak mengancingkan bajunya sehingga dia dapat melihat perut rata Melissa dan celana jeans pendek itu memperlihatkan kaki indahnya. Membuat Dalton menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tidak menyalahkan Melissa karena mengenakan pakaian seperti itu di pantai. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena bereaksi melihat Melissa. "Aku rasa ini buruk. Aku harap kita tidak bertemu lagi." Melissa dengan cepat memasang tali pada leher Angel kemudian mengarahkannya untuk pulang. Namun bukannya berjalan mengikuti langkah Melissa, anjing itu tetap diam dan melihat ke arah Dalton. "Kenapa Angel? tidak biasanya kau Begini." Mata Dalton berkilat penuh pesona ketika mengeluarkan senyum yang dapat membuat wanita pingsan, namun menyebalkan menurut Melissa. Dia mungkin mentertawakannya karena tidak bisa mengatur Angel. "Sepertinya dia masih ingin bermain." Dalton berharap anjing itu mau berada di pihaknya, sehingga dia bisa lebih lama bersama Melissa. "Tidak, dia sudah terlalu lama berada di luar dia harus pulang." Melissa ingin segera pergi dari sini. Terlalu lama berhadapan dengan pria itu tidak bagus untuk jantungnya dan emosinya. "Dia bukan tipe anjing daerah dingin." "Dia golden retriever, bulunya panjang." "Tapi dia cepat menyesuaikan diri." Angel masih berusaha bergerak menuju Dalton. "Angel, Jangan!" Melissa mencoba menarik tali agar anjing itu tidak mendekat pada pria itu. Namun sepertinya Angel sedang tidak fokus. Rasa ingin bermainnya begitu besar mengalahkan rasa patuh pada majikannya. "Angel!" Melissa berteriak frustasi karena anjing itu tidak mendengarkannya. Kenapa dia harus seperti ini saat bertemu Dalton? dan kenapa harus dia? "Kau mengkhianatiku Angel." Desah Melisa dengan wajah lesu. "Dia anjing yang pintar." Dalton mengusap kepala Angel, seolah memberikan pujian karena anjing itu baru saja menyelesaikan tugas. "Tipikal Golden Retriever." Dengan wajah muram dia membiarkan Angel bermain dengan Dalton. Melissa melipat kedua tangannya di depan d**a saat melihat Dalton bermain dengan anjingnya. Dalton mengajaknya berlari, melompat dan sesekali melakukan permainan dengan bola itu. Dia heran karena anjing itu tidak merasa lelah padahal dia sudah bermain berjam-jam. Rasa bersalah memenuhi hati Melissa. Angel seharusnya tinggal di rumah dengan halaman yang luas sehingga dia bisa leluasa bermain, bukan di klinik kecil dengan ruang gerak yang terbatas. "Kau punya anjing?" Melissa akhirnya bertanya penasaran, karena dengan cara Dalton menghadapi Angel, dia pasti sudah terbiasa menghadapi anjing sebelumnya. Ketegasannya bahkan melebihi Melissa. "Dulu aku punya. Doberman, Rottweiler, dan anjing gembala saat aku masih kecil. Mereka mati karena usia." "Cukup berpengalaman." Melissa mengangguk mengerti. Itulah poinnya. "Bisa dibilang aku terbiasa dengan anjing besar." Terlihat dari bahasa tubuh dan ketenangannya. Dalton memberi instruksi pada Angel untuk duduk, dan anjing itu mematuhinya tanpa berusaha meminta untuk bermain lagi. "Pasti berat rasanya saat hewan kesayanganmu tidak bisa lagi berada di sisimu." "Benar, itulah sebabnya aku tidak ingin punya anjing lagi." Dalton kemudian melihat Melissa."Kau sendiri? Kau pernah punya anjing sebelumnya?" "Aku memelihara apa saja yang aku temukan." "Tidak heran kau menjadi dokter hewan." Dalton menatapnya dengan mata gelap dan dalam. Sinar matahari senja menerpa wajah mereka. Meski Melissa melihatnya seperti sedang bertemu musuh, namun Dalton masih bisa melihat kelembutan di mata birunya, kehangatan yang membuat wajah cantiknya seperti bersinar. "Dalton!" Suara seseorang terdengar, dan wanita cantik langsung menghambur diantara mereka. Dia memiliki tubuh seperti super model, tanpa ragu memeluk dan mencium pipi Dalton. "Hai Sayang, maaf sudah membuatmu menunggu." Dari bahasa tubuhnya sudah dipastikan mereka memiliki hubungan. Jelas pria seperti Dalton hanya tertarik dengan wanita seperti itu. Semua pria sama. Pada akhirnya mereka akan tetap memilih wanita dengan wajah cantik dan seksi. Melissa tidak nyaman dengan rasa kecewa di sudut hatinya saat melihat Dalton dengan wanita itu. "Angel sudah saatnya kita pulang." Melissa mengeluarkan nada tegas yang membuat anjing itu menurut. "Aku permisi." Sambil menuntun Angel, Melissa berpamitan. Dia tidak cemburu, dia hanya tidak ingin menjadi penganggu diantara pasangan. Dalton punya firasat jika ini adalah kesempatan terakhirnya. Dia tidak akan bertemu lagi dengan Melissa jika dia membiarkan wanita itu pergi tanpa melakukan sesuatu. Satu sisi egoisnya menginginkan dia tetap tinggal. Namun insting prianya mengatakan bahwa dia harus mengejar Melissa. Wanita seperti dia tidak akan mau mencarimu. Kesadaran itu seperti memukulnya dengan telak. Dalton seperti dilanda kepanikan dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan Melisa. Dia ditinggalkan bersama penyesalan disaksikan oleh bola hijau yang menjadi mainan anjing kecil Melissa. Itu dia! "Aku harus pergi. Bisnisnya kita bicarakan lain kali." "Hey! " Wanita itu berteriak memanggil Dalton. Dia tidak mengerti kenapa pria itu tiba-tiba melesat pergi meninggalkannya, Kemudian dia menyadari sesuatu daan menggelengkan kepalanya. "Dasar, kalau sudah mengejar wanita pasti tidak bisa berhenti." Dalton berlari diantara kerumunan turis dan pengunjung di sepanjang jalan di pantai Venice yang ramai. Dalam hati mengucap syukur karena masih sempat menemukan Melissa yang berjalan bersama Anjingnya. Dia berada di area luar tempat mobil diparkiran. Dalton menunggu hingga Melissa mengambil mobilnya, namun wanita itu malah menyebrang jalan. Karena penasaran, Dalton mengikuti Melissa yang berjalan bersama Angel melintasi trotoar. Karena berada di belakang, dia bisa memperhatikan pinggul yang berayun dengan kaki yang terekspose oleh celana pendek. Dia ingat bagaimana kaki indah itu melingkar di pinggangnya malam itu. Tidak. Hari ini dia tidak ingin merayu Melissa agar bersedia kembali ke tempat tidur bersamanya. Meskipun hasrat itu begitu kuat, Dalton tidak ingin membuat Melissa ketakutan. Untuk saat ini, dia hanya ingin mengetahui tentang wanita itu lebih jauh. Akhirnya Melissa sampai di tempat yang bertuliskan 'Angel's pet clinic' Dalton menduga itu adalah tempat praktek Melissa. Saat membuka pintu Dalton memanggilnya. Melissa jelas terkejut karena pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Terlebih lagi di kliniknya. "Kau mengikutiku?" Dalton mengusap tengkuknya. "Ya, bisa di bilang begitu." "Kau penguntit? Itu tindakan kriminal!" Sebelum Melissa bertindak lebih jauh dengan melapor polisi, Dalton menyerahkan bola berwarna hijau seukuran bola tenis milik Angel. Sebenarnya Melissa tidak begitu peduli, dia bisa membeli yang baru. Namun dia masih memiliki kesopanan karena pria itu telah repot mengembalikannya. "Te-terimakasih." Dengan wajah sedikit memerah dia mengambil bola itu dari tangan Dalton. Sensasi kulit yang bersentuhan membuatnya menggigil. "Sekarang kau boleh kembali." "Apa kau tinggal di klinik?" Dalton melihat ke dalam ruangan yang temaram. Hanya ada satu lampu yang dibiarkan menyala di ruang tengah. "Ya." "Kau tidak mau mengundangku masuk?" Melissa kembali pada kesadaran bahwa pria itu adalah Dalton Jones, si pemburu wanita. Dan lagi saat ini Dalton tengah berkencan dengan kekasihnya. "Tidak!" Ucapnya tegas. "Kembalilah, aku tidak mau dianggap perusak hubungan." "Perusak hubungan?" Dalton memiringkan kepalanya. Wajahnya terlihat konyol, dia benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Melissa. "Tentu saja! saat kau punya kekasih yang cantik dan bertubuh indah itu, tapi kau malah mengikutiku." Sesaat Dalton terdiam, namun kemudian dia tertawa hingga memegangi perutnya. "Kenapa kau tertawa?" Melissa benar-benar terganggu dengan sikap Dalton. Dia merasa dipermainkan. "Melissa, dia bukan kekasihku ataupun teman kencanku. Dia sepupuku dan dia lebih tua dariku." Dalton menjawab setelah menguasai dirinya. "Kau tidak punya kewajiban menjelaskan hal itu, Dalton dan kau tidak perlu menyusulku!" "Karena kau cemburu." "Aku tidak cemburu! Lagipula aku tidak mengenalmu." Dalton melihat ekspresi Melissa begitu lucu, membuatnya senang menggodanya. Dia ingin melihat ekspresi apalagi yang muncul dari wajah cantik dan manis itu. b******n macam apa yang bisa-bisanya selingkuh dari wanita secantik Melissa? Pasti dialah sampah yang sesungguhnya. Sampah yang hanya menghalangi keindahan Melissa. "Tidakkah kau ingin mengenalku secara personal?" Nada yang diucapkan Dalton begitu seksi sehingga membuat Melissa merinding. Namun di sisi lain dia juga berpikir bahwa Dalton mungkin terlalu percaya diri dengan statusnya yang seorang milyuner muda dan tampan, sehingga dia merasa akan dengan mudah merayu Melissa. "Dengar tuan Dalton Jones! Waktu itu aku benar-benar mabuk dan kalut. Aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan, dan sekarang aku tidak ingin mengulangi kesalahanku." Melissa menganggap hal itu adalah kesalahan, namun Dalton sepertinya tidak menganggap demikian. Sudah cukup untuk hari ini, Yang dia dapat hari ini bahkan di luar ekspektasi karena dia mengetahui di mana Melissa tinggal. "Sudah malam, sebaiknya aku pulang. Sampai bertemu lagi Melissa. Aku yakin ini bukan pertemuan terakhir kita." Dalton berkata dengan mengedipkan matanya. Melissa segera membanting pintu setelah Dalton pergi. Dia tidak pernah merasa tersanjung ataupun terkesan dengan apa yang Dilakukan Dalton, sebaliknya dia merasa kesal luar biasa. Apa yang membuatnya begitu percaya diri bahwa mereka akan bertemu lagi? Mengapa Dalton ingin bertemu lagi dengannya? Apa yang Dalton lihat dan harapkan dari dirinya? Melissa teringat ketika dia bertemu dengan Eddie. Bisa saja dia akan mentertawakannya karena seksnya yang payah? Seperti yang dipikirkan oleh Alex saat bersamanya? Mendengus kasar, dia masuk ke dalam rumah. Melissa tidak akan terpengaruh lagi. Dia tidak akan jatuh pada perangkap laki-laki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD